Ukhti, ajak aku terbang bersamamu…
Dia sahabatku, saudariku, partner dakwahku, satu di antara “keluarga” kecilku. Selama 2,5 tahun kami bersama dalam satu “lingkaran”, mengakji islam, memperbaiki diri, menjalin ukhuwah dalam bingkai tarbiyah. Tapi setelah rekomposisi itu, aku di”depak” dari lingkarandan kini memilki keluarga yang baru, dengan wajah-wajah baru. Ya, itu memang hal biasa dan wajar terjadi. Sedih? Pasti. 2,5 tahun bukan waktu yang sebentar untuk merangkai kenangan, tak mudah dilupakan. Banyak kenangan manis yang membekas dalam ingatan. Postingan kali ini, ane akan bercerita tentang dia -sahabatku, saudariku, satu di antara “keluarga” kecilku yang dulu- Fitri.
Suatu pagi, kulangkahkan kaki menuju kampus hijauku sambil memburu waktu karena jam sudah menunjukkan angka tujuh (gak biasanya neh telat). Di tengah ketergesaan, Allah mengirimkan seseorang untuk menolongku. Tiba-tiba Fitri sudah berada di depanku dengan sepeda motornya.
“Alhamdulillah…” tanpa basa-basi langsung saja kududuk di belakangnya.
Di perjalanan, aku banyak bercerita tentang ini-itu. Dan dia, entah mengapa, diam saja. Tak seperti biasanya. Aku terus bercerita, sampai akhirnya dia angkat suara,
“Ukhti, aku ingin terbang, tinggiiii sekali!”
Aku menghentikan “ocehan”ku. Terbang? Batinku heran. Koq gak nyambung sama yang kuceritakan ya? Kudongakkan kepala, memandang langit biru yang kala itu dihuni oleh segerombolan awan putih dengan mentari yang tersenyum hangat seolah menyapaku, “selamat pagi”…Ah, cerah sekali hari ini! Subhaanallaah…
“Aku juga ingin terbang ukh..” sambungku. “Aku ingin rihlah ke syurga.” Kali ini kuungkapkan dengan sepenuh hati. Entah mengapa, akhir-akhir ini indahnya syurga memang menggelayuti pikiranku. Kapan aku akan rihlah ke sana ya? Ah, semoga.
“Kadang hidup itu melelahkan ya ukh” masih kataku. Tak ada respon. Sunyi, hanya deru motor yang berbunyi. “Apa anti lelah?” kututup monologku dengan kalimat tanya.
“Sudah sampe ukh.” katanya datar.
“Oh, iya.” Aku segera turun. Kutatap wajahnya, mencari jawaban di matanya. Namun, kosong. Tak kutemukan apapun di sana. Hanya sorot matanya yang menerawang jauuuuuh…entah ke mana.
“Jazaakillah ukhti atas “ojek” gratisnya.” kataku sambil tersenyum.
“Waiyyaki,” balasnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. “Assalaamu’alaykum”. Motor melesat meninggalkanku yang masih diam terpaku.
Kulihat sosoknya yang semakin jauh, jauh, lalu hilang di persimpangan. Kami memang beda fakultas, aku di FBS dan dia FIP. Ada apa denganmu, ukhti? Segera aku tersadar, aku belum membalas salamnya, “Wa’alaykumsalaam Warahmatullaah Wabarakaatuh,. Semoga Allah selalu memberkahimu ukhti, hari ini, dan di sisa usia anti,” do’aku untuknya. Astaghfirullah….ane telaaaaaaaatttt!!!
Saat kuliah, konsentrasiku pecah. Kalimat singkatnya tadi pagi masih terngiang-ngiang di telinga. “Ukh, aku ingin terbang, tinggiiii sekali!” apa maksudnya? Apa dia benar-benar lelah? Ya, mungkin. Aku tahu akhir-akhir ini dia sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Apalagi sekarang sedang musim-musimnya UTS. Ditambah aktivitas dakwah yang gak ada musimnya, karena dakwah akan terus berjalan sepanjang usia manusia. Intinya, dia sangat sibuk saat ini.
Andai anti tahu ukhti, akupun sama sibuknya dengan anti. Dan tidak hanya qta berdua, masih banyak “pejuang-pejuang” lain yang juga merasakan hal yang sama, bahkan lebih sibuk dari qta. Atau mungkin, kau sedang dilanda masalah yang cukup berat hingga kau benar-benar merasa letih dan penat? Seharusnya kesibukan tak cukup menjadi alasan untuk tidak meluangkan waktu bersama saudara. Ah, ke mana saja aku selama ini?
Kukirim pesan cinta lewat sms untuknya,
“Rabb, kulihat letih di wajah saudariku,
sapulah dengan air syurga yang menyejukkan…
Ya Rabb, kulihat memudar senyumnya,
maka perlihatkan padanya kisah kasih penduduk syurga yang membahagiakan.”
Kutunggu beberapa saat, namun tak ada tanggapan. Kuketik lagi kata-kata cinta selanjutnya,
“Ukhti, anti ingin terbang tinggi kan? Ajaklah aku terbang bersamamu. Malam ini, aku akan menjemputmu. Tunggu aku yaa. Aku akan mengajakmu menjelajah angkasa. Qta akan terbang bersama, tinggi, tinggiii sekali…hingga mencapai puncaknya. Hanya ada aku, kau, dan Dia. Ukh, akhir-akhir ini aku sangat merindukanNya. Rinduuuu sekali…”
Aku tahu, dia takkan membalasnya. Tiba-tiba kurasakan hangat di mataku. Hatiku gerimis…
Malam harinya, tepat jam 2 dini hari, ku miscall HPnya. Nada sibuk yang kudengar. Apa HPnya dinonaktifkan ya? Batinku bertanya. Kukirimkan pesan untuknya,
“Assalaamu’alaykum ukhti chanyank…apa anti dah bangun? Bersiaplah, qta akan segera terbang tinggi, tinggiii sekali. Ambil air wudhu yaaa…Luv u.”
Pesan terkirim. Berarti HPnya aktif. Akupun memiscallnya kembali. Masuk. Beberapa detik kemudian, ganti HPku yang berbunyi. Kulihat layar di ponsel, Fitri. Alhamdulillah, dia merespon panggilanku.
Dan malam itu, terasa begiiiitu indah! Kami menyelami samudera cintaNya,hanyut dalam lautan kasihNya. Lalu kami terbang tinggi menjelajah angkasa, ke ufuk nirwana. Rabb, saksikanlah…ada dua orang hamba yang datang menghadapMu, mengetuk pintu maghfirahMu, berharap dapat berjumpa denganMu…Wahai Dzat Yang Maha Tinggi dan Agung, bukalah pintu RahmatMu….
Keesokan harinya, dia _sahabatku, saudariku, partner dakwahku, satu diantara “keluarga” kecilku- datang menemuiku sambil berkata,
“Jazaakillaah ukhti, sudah menemaniku terbang tinggi.”
Alhamdulillaah…Terima kasih Rabb. Kulihat senyumnya kembali berseri…
—–ooOoo—–
NB: Buat semua UKHTI FILLAH di manapun antunna berada:
Ukhti, aku ingin kau tahu..
Ada pundak yang bisa kau jadikan sandaran kepalamu,
Ada telinga yang siap mendengar keluh kesahmu dan menampung segala uneg-unegmu,
Ada tangan yang akan membelaimu dan menyeka bulir-bulir air mata yang menetes di pipimu,
Ada lisan yang bisa menghiburmu, memberi senyum manisnya untukmu, dan siap menyumbang solusi jika kau mau,
Ada hati yang telah memberikan cintanya untukmu,
Ukhti, aku mencintaimu…fillah, lillah…
Persiapan Menjelang Ramadhan
Ramadhan segera tiba. Dah pada melakukan persiapan belum? Udah pada tau kan bahwasannya pada bulan Ramadhan, pahala yang sunnah dihitung layaknya pahala wajib. Sedangka pahala wajib sendiri nilainya berlipat ganda menjadi tujuh puluh kali lipatnya dibanding pada bulan-bulan biasa. Nah biar ibadah kita di bulan mulia ini mendapat hasil yang optimal serta menambah keberkahan di sisi Allah, ada baiknya simak beberapa tips dibawah ini
Sedikitnya ada dua hal yang perlu dipersiapkan oleh kita guna menyambut bulan Ramadhan. Hal-hal tersebut antara lain :
1. Persiapan Pribadi
Kita –sebagai orang yang akan menjalankan ibadah dibulan ini– tentunya harus melakukan persiapan dari diri pribadi terlebih dahulu sebelum menyiapkan yang lainnya. Masing-masing waktu yang terlewati pastinya punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Sehingga persiapan pribadi yang berkesinambungan beberapa bulan sebelum datangnya Ramadhan perlu dilakukan agar kita mampu menghasilkan lebih banyak kelebihan (hal-hal yang bermanfaat) serta menghindari berbagai kekurangan yang dapat mengurangi nilai tambah kita dalam beribadah.
a. Ruhiyah
- Melatih diri dengan berpuasa sunnah. Tujuannya ya agar kita –terutama pencernaan– gak kaget lagi karena kebiasaan dan pola makan yang berubah secara drastis. Hal ini terkat juga dengan persiapan jasadi yang insyaallah akan kita bahas pada point selanjutnya. Gak ada lagi istilah teler dihari pertama puasa (kayak orang mabuk aja pake teler-teler-an segala). Hal ini juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. Sehingga latihan kita ini pun insyaallah mendapat pahala ibadah sunnah. Sebelum bulan Ramadhan –yaitu Sya’ban, beliau berpuasa selama sebulan penuh atau sedikit aja yang enggak. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah Radiyallahu anha, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah berpuasa di luar bulan Ramadhan yang lebih banyak daripada yang beliau kerjakan pada bulan Sya’ban. Sungguh beliau berpuasa pada bulan Sya’ban sebulan penuh.” Dalam riwayat lainnya disebutkan: “Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban, kecuali hanya sedikit saja yang beliau tidak berpuasa padanya.”
- Saling memaafkan pada sesama ikhwah. Kebanyakan orang sering salah persepsi dan beranggapan moment yang paling tepat untuk saling memaafkan tuh adalah pas Idul Fitri. Padahal saat-saat menjelang Ramadhanlah yang mestinya kita manfaatkan untuk saling memaafkan dan mengakrabkan diri kembali kepada semua orang yang pernah kita sakiti hatinya –sengaja ataupun tidak. Indahnya beribadah ketika keridhaan saudara kita sesama ikhwah telah kita dapatkan.
- Meningkatkan ibadah-ibadah Sunnah. Agar pas Ramadhan kita jadi tambah semangat buat menjalankan ibadah-ibadah tersebut. Secara, pahalanya berlipat-lipat bo’…… Tapi jangan cuma untuk ngarepin ibadah aja, orientasikan ibadah-ibadah yang kita kerjakan semata hanya untuk Allah. Insyaallah bakal lebih barakah.
b. Fikriyah
- Banyak membaca buku tentang keutamaan Ramadhan serta hal-hal yang berkaitan tentang ibadah pada bulan tersebut. Meskipun sejak SD kita udah diajarin tentang fiqih seputar Ramadhan, gak ada salahnya kalo kita mengulangi mempelajarinya. Agar ingatan kita jadi ter-up date dan menambah ke-optimalan nilai ibadah kita nantinya. Gak ada ruginya kok
- Gak ada salahnya kalo kita saling berkirim ucapan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan kepada sesama ikhwah. Itung-itung untuk mempererat ukhuwah yang selama ini sempat renggang. Lagian sarana informasi yang makin lengkap aja sekarang, membuat kita makin mudah untuk saling berkomunikasi, dekat maupun jauh. Ada SMS, telepon, email, ataupun di facebook. Selama ada niat pasti bakal banyak jalan yang bisa ditempuh
c. Jasadi
Fisik kita merupakan satu komponen penting untuk menjalankan ibadah di bulan mulia ini. Maka menjaga kesehatan pra dan saat Ramadhan harus dilakukan jika kita gak ingin kegiatan kita beribadah jadi terganggu. Ada banyak cara yang bisa ditempuh. Misalnya aja jangan telat makan. Kalo antunna udah pada mulai latihan shaum sunnah, jangan pernah nunda-nunda buat berbuka. Bukan cuma karena alasan kesehatan namun hal ini juga terkait sama perintah Rasulullah Shallallu ’Alaihi wa Sallam, dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu: ”Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mau menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari-Muslim). Selain itu selalu biasakan buat makan-makanan sehat dengan gizi seimbang. Terutama buat yang nge-kost. Kan sering tuh, gara-gara males buat masak akhirnya mie instan-lah yang jadi pilihan. Makanan dengan gizi seimbang tuh ternyata gak hanya baik buat kesehatan tapi juga baik buat kecantikan. Kok bisa? Baca deh artikel ini (Berburu Barakah dalam Cantik Sejati)
d. Akhlaki
Meskipun bukan dibulan Ramadhan akhlak kita seharusnya harus tetap dijaga. Namun ketika akan mendekati bulan ini, ada baiknya kalo kita lebih mengintrospeksi diri lagi. Iman Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menyatakan bahwa puasa itu adalah menjaga kepala dan yang ada dibawahnya (mulut), menjaga perut dan yang ada dibawahnya (syahwat) serta selalu mengingat mati. Beberapa point yang termasuk persiapan akhlaki diantaranya adalah :
- Menjaga lisan dan perkataan dari yang bathil dan tidak bermanfaat. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: ”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim). Semoga ana pun mampu untuk selalu menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat. Perlu menjadi catatan, lisan disini bukan saja ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita namun juga apa-apa yang keluar dari dalam hati kita meski tak terucap melalui mulut. Bisa aja tulisan-tulisan di SMS, email, facebook, blog ataupun media-media lainnya. Jadi selain menjaga lisan, utamanya kita juga harus menjaga hati dari pikiran-pikiran yang gak bermanfaat
- Menjaga penglihatan. Dalilnya ada pada Al-Qur’an surat An-Nuur [24] ayat 30-31, “Katakanlah kepada laki-laki beriman, agar mereka menjaga pandangannya,…. Dan katakanlah kepada para perempuan beriman, agar mereka mereka menjaga pandangannya…..” Sekelumit akibat yang akan terjadi seandainya kita gak mampu menahan pandangan adalah rusaknya hati, terancam jatuh kepada zina, bisa melupakan ilmu, turunnya bala’, merusak sebagian amal serta menambah kelalaian kita terhadap mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir. Na’udzubillah. Serem pisan euy…
- Menjaga pendengaran dari yang bathil dan yang melenakan. Misalnya musik dan lagu yang membuat kita lupa pada Allah. Kalopun pengin denger lagu, pilihlah lagu-lagu yang gak dikhawatirkan bakal membuat kita lupa pada Allah. Misalnya aja nasyid. Namun itupun jangan keseringan karena masih jauh lebih baik berdzikir dengan kalimat-kalimat yang pernah diajarkan oleh Rasulullah seperti; Subhanallah wal Hamdulillah wa Laa ilaa ha illallahu wa Allahu akbar dan lain sebagainya. Rasulullah bersabda, ”Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera (untuk laki-laki), minuman keras dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari-Abu Dawud). Beruntunglah ana ketika masih ada ikhwah yang mau mengingatkan ana tentang hal ini. Jazakumullah ya
- Tidak memperbanyak mengkonsumsi makanan ketika berbuka. Karena hal ini sama aja dengan menzhalimi diri sendiri. Pencernaan kita bakal kaget ketika dengan tiba-tiba dimasuki makanan yang banyak. Akhirnya ibadah pun menjadi berat. Hal itu juga menunjukkan kalo kita ternyata belum mampu untuk menahan nafsu.
e. Materi
Point ini dimasukkan sebagai salah satu upaya kita dalam meningkatkan amal kita berupa shadaqah. Biar gak jadi memberatkan, mulai nabung dari sekarang gak masalah. Asal jangan karena ingin shadaqah ketika bulan Ramadhan, pas ada orang yang memerlukan bantuan kita saat ni, kita malah enggan buat ngasih uluran tangan dan sedikit bantuan. Hal itu gak dibenarkan. Shadaqah itu dianjurkan dimana aja dan kapan aja selagi kita mampu memberi. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadanya: ”….. Sungguh, tidaklah engkau menginfaqkan sesuatu dengan tujuan mencari ridha Allah, melainkan engkau akan mendapat pahala karenanya, bahkan makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu sekalipun.” (HR. Bukhari-Muslim).
2. Persiapan Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor pendukung terciptanya kenyamanan dalam beribadah. Lingkungan yang kondusif serta mampu memberikan suasana yang mendukung untuk kita beribadah sangat diperlukan. Untuk itu lingkunga dimana kita sering melakukan kegiatan padanya perlu diberikan pembenahan-pembenahan yang sesuai. Misalnya;
a. Lingkungan Rumah, karena rumah merupakan salah stau nikmat Allah yang wajib kita syukuri keberadaannya. Dan juga sebagian besar waktu kita kebanyakan kita habiskan di rumah. Sehingga patut menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif dirumah. Agar terwujud apa yang disebut baiti jannati (rumahku syurgaku). So Sweet . Bisa juga dengan mengubah tata letak perabotan dirumah biar tampilannya terlihat lebih baru.
b. Tetangga, karena merupakan orang terdekat yang berada dengan kita maka tetangga kita wajib kita ajak untuk sama-sama melakukan persiapan saat menjelang Ramadhan. Bisa juga kita jadikan sebagai partner kita dalam berda’wah. Gak ada salahnya menjelang Ramadhan kita sama-sama dengan para tetangga buat kajian yang membahas tentang keutamaan Ramadhan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Menjlinkeakraban yang lebih dengan tetangga dalam rangka da’wah serta dalam rangka menyambut Ramadhan adalah sebuah tindakan yang baik.
c. Tempat ibadah, kalo dirumah kita ada ruangan khusus untuk melaksanakan shalat, baik juga kalo kita kembali merapikannya bareng keluarga. Biar lebih nyaman dan ibadah pun makin sempurna. Kalopun dirumah kita gak ada mushalla khusus, mushalla atau masjid dikampung maupun di sekolah atau dikampus kita juga gak masalah kalo kita mau ngeberesinnya bareng tetangga atau temen-temen. Asik tuh kerja bakti rame-rame nyambut Ramadhan.
d. Tempat kerja atau sekolah perlu juga kita buat agar mendukung sepenuhnya persiapan kita menyambut Ramadhan. Masang spanduk atau pamflet dengan tulisan ”Marhaban Yaa Ramadhan” di situ plus bagi-bagi stiker kesemua ikhwah akan membuat Ramadhan kita kali ini lebih bermakna insyaallah.
Nah mungkin ini dulu sedikit tips (lagi-lagi tips )dari ana untuk menyambut Ramadhan agar lebih semarak. Semoga barakah…. Wallahu a’lam bish shawwab.
Syair Diri
Jikalau kuntum-kuntum bunga melihat
maka merekapun pasti kan berbangga dan berkata kepada sesama mereka
”Aduhai, ternyata kita masih jauh lebih indah dibanding akhlak manusia ini”
Tatkala lebah mengetahui
Tentulah mereka kan berbisik
”Ternyata kaumku tercipta lebih pandai mengumpulkan ribuan tetes madu yang manis dibanding pandainya manusia ini dalam mengumpulkan sebuah demi sebuah kata yang manis untuk di dengarkan oleh qalbu-qalbu manusia”
Saat semut menyaksikan
Pastilah ia kan berucap
”Ternyata usaha yang kulakukan masih jauh lebih keras dibandingkan usaha yang dilakukan manusia ini dalam memperbaiki diri”
Lantas apa yang dapat kita banggakan dari diri yang lemah ini.
Bahkan pada sekuntum bunga, seekor lebah atau seekor semutpun tak pantas kita untuk berbangga….
Tak malukah kita ketika tau bunga yang terlihat tak berdaya itupun masih dapat berbangga diri atas kurangnya keindahan akhlak kita?
Tak malukah kita saat mendengar bisik-bisik dari gerombolan lebah yang jauh lebih mampu mengumpulkan madu yang manis dibanding kita yang sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata yang manis untuk saudara-saudara kita yang mendengar?
Tak malukah kita saat tau bahwa semut melihat begitu enggannya kita dalam perbaikan diri padahal kita tau alangkah banyak kurangnya diri ini?
Ya Rabbi…..
Berikan kepada kami kemampuan untuk meneladani RasulMu Muhammad Shallallahu ’Alaihi wa Sallam dalam memperindahkan akhlak kami, dalam melembutkan lisan kami serta kemampuan dalam usaha kami untuk memperbaiki diri…..
Yogyakarta
Jum’at, 03 Juli 2009 @ 9.28pm
Cinta yang Hakiki, Bukan Cinta ama yang Namanya Hakiki ^______*
Sesungguhnya, kekuatan yang hakiki ada pada cinta. Ingatlah Allah menciptakan dunia seisinya --termasuk manusia– dengan satu kata, cinta. Gunakanlah cinta untuk semangat jihad. Gunakanlah cinta sebagai bahasa universal amar ma’ruf nahi munkar. Bersedihlah kalian jika ketika melihat kebatilan kalian justru membiarkannya demi nama cinta. Cinta yang benar adalah, luruskan kebatilan tersebut dengan kekuasaanmu, dengan lisanmu, hingga dengan batin cintamu.
________________________________________________________________________
Serius banget tulisannya???
Ya, tulisan ini ana kutip dari sebuah buku tentang keutamaan para shahabiyah Radhiyallahu anhuma di zaman Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. Ana sangat tersentuh setelah membaca penggalan kalimat diatas. Karena ketika kita melihat realita tentang cinta zaman sekarang, begitu banyak– bahkan dapat dibilang sebagian besar– dari mereka yang menyalahgunakan makna dari cinta yang sebenarnya…..
Padahal sesungguhnya ada satu cinta yang hampir-hampir atau bahkan telah kita lupakan. Padahal (padahalnya sekali lagi) cinta inilah yang telah memberikan semuanya. Tak ada satupun keinginan kita yang tidak akan tidak dikabulkan tatkala kita meminta kepadaNya.
Ketika ana sedang ada pada perkuliahan dikampus tercinta, ana mendapatkan sebuah kata-kata bijak dari dosen yang saat itu memberikan materi perkuliahan,
Setiap kenikmatan yang tidak menjadikan diri seseorang dekat kepada Allah, maka akan menjadi siksaan. Sebaliknya, yang menjadikan nikmat itu kekal adalah bila kita bersyukur dan taat pada Allah.
Disini, ana akan coba-coba menarik-narik eh, menarik sebuah kesimpulan yaitu nikmat apapun itu –tak terkecuali nikmat cinta– jika kita tak mensyukuri tentang keberadaannya maka Allah dengan janjiNya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.” (QS. Ibrahim[14] : 07) niscaya tidak akan segan-segan untuk mencabut indahnya cinta dari diri kita.
Ih syereeeeem…….
Bayangin aja ketika cinta yang pada awalnya sangat kita puja-puja n kita bangga-banggain tiba-tiba jadi bumerang buat kita sendiri maupun orang-orang terdekat kita. Pasti gak akan ada seorang makhluk pun didunia ini yang mau begitu. Tapi meski begitu bejibun contoh di dunia nyata ini yang bisa kita saksikan langsung.
Misalnya aja nih, dua orang remaja n remaji yang saling cinta (katanya….) mau ngelakuin apa aja demi menunjukkan rasa kesetiaannya pada sang kekasih.Kayak katanya Ungu nih
Berikan aku ….. pertamamu
Agar ku yakin kau memanglah milikku……. (afwan, kata-katanya di sensor. Gak masuk dalam kriteria kata-kata yang ahsan buat konteks ini). Abis gitu, cz bisikan setan n dorongan nafsu akhirnya terjadilah……… dorrrr!!!. Siapa yang bisa menjamin kalo setan gak bakalan ngebisik n merasuk dihati kita?
Apa itu yang dinamakan cinta??? Gara-gara sebuah pembuktian akan kesejatian cinta yang gak sejati itu, endingnya sepasang ‘kekasih’ tersebut –khususnya si remaji– bakalan ngalamin yang namanya madesu alias Masa Depan Suram!!!. Bener gak sih???
Terus lagi, ketika seorang ayah yang katanya sangat mencintai keluarganya rela mencari uang dengan cara apa aja buat ngebahagiain keluarga tercinta. Gak terkecuali dengan cara-cara gak halal misalnya aja dengan korupsi.
Ih, tuh bapak kok tega amat yak ngasih keluarga– yang katanya sangat dicintainya itu– dengan uang yang gak jelas juntrungannya gitu!!!
Balik ketopik, maka cinta yang hakiki itu adalah tatkala kita ketika mencintai seseorang atau apapun, dimana hal tersebut bakal dapat ngebawa kita lebih dekat dan lebih mencintai Sang Pencipta cinta, Allah Azza wa Jalla…….
Semoga cinta yang kita miliki sekarang dapat membawa kita pada kehakikian cinta yang sesungguhnya.Amiiiiin…….(koor sama-sama!!!)
Terakhir, ana bakal ngelampirin sebuah lagu nasyid yang isinya mungkin sesuai dengan tema postingan ane kali ini. Semoga lagu ini bakal mampu menaikkan ghirah kita –khususnya ana sendiri– untuk lebih mencintaNya lebih dari apapun. KumencintaiMu lebih dari apapun…. (Lho kok nyanyiin lagu ungu lagi sih??? ^__________* V)
Cinta Dunia
Ku sadari kelemahan diri
Terpedaya cinta dunia ini
Penuh dosa yang telah terhina
Diri ini telalu jauh dariNya
Duhai Rabbi selamatkan kami
Yang tak mampu jalani perintahMu
Ku tak sanggup menahan siksaMu
Selamatkanlah kami Ya Allah….
Kami sadar kami khilaf
Dunia ini sementara
Lindungi kami Ya Rabbi
Dari kezhaliman diri….
Kami tak sanggup menahan
Dalam gelap jalan ini
Tunjukkan kami Ya Rabbi
JalanMu yang lurus….
Yogyakarta
Sabtu 04 Juli 2009
Di Jalan Da’wah Aku Melangkah……
Wah, judulnya njiplak ni. Kayak motto LDK kampus ana aja…. . Hehehe, mohon di-afwan-in ya. Abis kata-katanya bagus sih n terlebih lagi mewakili apa-apa yang akan menjadi unek-unek ana yang bakal dibahas sekarang.
Memang berat rintangan yang terasa dikala kita berazzam untuk istiqomah di jalan ini. Bertekad agar tak sedikitpun kaki ini bergeser menjauh dari koridor keimanan hanya padaNya. Banyak hal yang dijumpai sebagai ujian kesabaran yang khusus dihadiahkan olehNya kepada hamba-hambaNya yang meng-azzam serta bertekad untuk menegakkan panji-panji Ilahi di wajah bumi yang kian renta ini. ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabuut [29] : 2-3)
Na’udzubillah. Betapa kita menjadi apa yang disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang dusta ketika saat ujian mendera lantas kita mundur dari jalan ini. Enggan untuk kemudian kembali berjuang bersama-sama dengan para jundi-jundi Allah yang lainnya bak umat Nabi Musa ’Alaihis Salam yang berkata ”Wahai Musa, sampai kapanpun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.” (QS. Al-Ma’idah [05] : 24)
Astaghfirullah hal adzim…..
Beberapa ujian –atau bolehlah dibilang problematika– yang mungkin pernah ikhwah fillah alami di jalan da’wah ini akan coba ana ketengahkan disini sebagai bahan muhassabah kita bersama agar senantiasa mawas diri tehadap ujian-ujian tersebut –yang seringkali tidak hanya berupa kesusahan-kesusahan namun juga berupa kegembiraan sesaat yang melenakan. (Wuih bahasanya…!! Dahsyat …..!!!! Tumben bisa pake bahasa Indonesia yang rada baku hhehehehe…..)
1.
Krisis ukhuwah sesama aktivis da’wah. Dimana hal tersebut mengakibatkan berkurangnya ’taste’ dari hasil-hasil kerja da’wah yang kita capai. Kerja-kerja yang kita lakukan hanya berlandaskan kepada sebuah rasa berkewajiban, bukan pada semangat berda’wah fi sabilillah untuk mencapai keridha-anNya. Akibat yang ditimbulkan selain berkurangnya ’taste’ dari hasil-hasil kerja da’wah itu, juga akan timbulnya rasa futur dari dalam diri kita sendiri. Tentang futur ini, insyaallah akan kita bahas setelah beberapa point dibawah ini. Selain itu juga yang pasti kesolidan antar tim sendiri pun akan menurun dratis. Nah lho!
2.
Hal yang berlawanan dengan point diatas adalah terlalu longgarnya hijab yang membatasi pergaulan ikhwan-akhwat dalam sebuah lembaga da’wah. Mungkin kurang terpantaunya kerja da’wah yang dilakukan para penggeraknya oleh kader atas yang lebih faham dan lebih senior merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya hal ini. Namun sebelum menyalahkan siapa-siapa terhadap masalah yang satu ini, alangkah sangat baiknya jika diri kita sendirilah yang lebih dahulu harus di-tabayyun-i. Rasulullah pun pernah bilang, ”Alangkah baiknya orang-orang yng sibuk dengan ’aib mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain.” (HR Ad Dailami).
Sedikit cerita, suatu ketika ana pernah nemu sebuah blog yang juga milik seorang akhwat. Salah satu artikel yang pernah beliau post-kan di blognya itu adalah mengenai tipe-tipe akhwat di ranah da’wah ini. Salah satu kategorinya yang kemudian menurut ana cocok buat dikaitkan pada masalah kita kali ini adalah akhwat ”APEL” alias tipe akhwat yang Amat suPEL. Saking supelnya sampe-sampe gak mengenal lagi batasan-batasan gaul dengan yang lawan jenis. Hal ini berlaku juga lho buat makhluk berjenggot bernama ikhwan (maaf ya Wan, ana nyebutnya gitu. Tapi kan antum emang jenggotan –kecuali jenis-jenis tertentu yang emang jenggotnya gak mau nongol ^___* V).
Semoga kita gak termasuk kedalam aktivis jenis ini, insyaallah……
3. VMJ alias Virus Merah Jambu. Bahkan sebagian ikhwah yang mungkin saking sebelnya sama masalah yang satu ini, sampe-sampe nyeletuk ngganti nama ni virus jadi VAR atau Virus Api Neraka. Na’udzubillah.
Cinta, Al-Hubb, Love atau apapun namanya gak bisa dipungkiri oleh siapapun merupakan anugerah dan salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita syukuri keberadaannya. Bayangkan jika dunia gak dilingkupi cinta. Semua yang kita kerjakan pasti akan terasa hambar. Seseorang yang gak mencintai pekerjaannya pastinya akan bekerja dengan rasa keterpaksaan. Gak bakal ada yang namanya kekasih. Gak akan ada yang namanya rasa sayang. Ahhh…. pokoknya bayangin sendiri deh rasanya kalo didunia ini gak ada yang namanya CINTA.
Tapi, kita sebagai orang yang sudah paham dengan batasan-batasan interaksi atau gaul terhadap lawan jenis mestinya patut memberikan contoh kepada orang-orang awam yang belum tau bagaimana hal yang mestinya dilakukan dalam memanajemen sebuah rasa yang disebut cinta itu. Bukan malah jadi ikut-ikutan. Meski peng-ekspresi-an cinta dikalangan aktivis ini gak seekstrim orang kebanyakan –cz ada yang berkedok sebagai ta’aruf, pacaran islami dsb– namun siapa yang akan menjamin bahwa mereka akan aman dari yang namanya tipu daya setan. Salah satu hadist Nabi kita yang pasti udah sangat populer, ”Janganlah kamu berdua-duaan karena yang ketiganya adalah setan”. Kalo orang waras, siapa juga yang mau ditemenin sama setan. But disini, karena hawa nafsu yang ikut ngomporin, akhirnya…….. yah, antum lebih tau lah!.
Panjang deh pembahasan kita tentang yang satu ini. Karena emang masalah yang akan ditimbulkan oleh hal ini akan sangat kompleks jika dibiarkan terus menerus menjangkit dikalangan aktivis da’wah ini.
Penyelesaiannya? Bagi yang hubungannya udah terlanjur ketauan oleh mas’ul maupun murabbi/ah-nya, beruntunglah antum. Lhhoo??? Kok malah beruntung sih??? Weissss, jangan protes dulu. Ana katakan beruntung karena dengan ketauannya hubungan ’terlarang’ itu maka pintu-pintu setan yang mengajak pada kesesatan akan semakin dipersempit dan jalan kembali menuju cahayaNya akan lebih dipermudah. Setuju? Harus!. ”…..Engkau muliakan siapa pun yang engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Ditangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [03] : 26)
Yang belum ketauan tapi udah duluan ngebaca blog ini (^^,) ? Kesadaran terhadap diri sendiri perlu dibangun. Ibarat seorang pecandu narkoba yang gak akan pernah sembuh tanpa adanya kesadaran dan kemauan dari dalam dirinya sendiri untuk sembuh. Begitu pun halnya dengan orang-orang yang terjangkiti VMJ ini. Kalo gak tahan, buruan nikah. ”Wahai sekalian pemuda…. barangsiapa diantara kalian berkesanggupan (sudah mampu) maka hendaklah menikah. Karena sesungguhnya ia (menikah) dapat memejamkan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, maka berpuasalah. Maka sesungguhnya puasa itu benteng baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Udah sangat sangat jelas kan petuah dari Nabi kita yang mulia, Muhammad Shallallahu ’Alaihi wa Sallam tentang hal yang satu ini. Pasti antum lebih mengerti maksud ana ini. Wallahu a’lam bish shawwab….
4. Point empat, masalah kefutur-an.
Penjelasan singkat tentang sebuah kata bernama “futur” pernah ana dapatkan dalam sebuah kajian. Intinya, futur itu adalah perasaan dimana seorang aktivis da’wah merasa bosan dengan aktivitas yang ia lakukan. Gak bersemangat atas apa-apa yang ia kerjakan. Pokoknya gejala 5L (Lelah, Letih, Lemah, Lesu, Lunglai) menjangkit pada dirinya terhadap aktivitas-aktivitas da’wah yang ia garap. Lengkap deh penderitaan. Penyebabnya bisa aja salah satu atau ketiga-tiga point diatas. Namun juga bisa jadi gara-gara kesalahan dari kitanya sendiri. Males datang kajian, ogah-ogahan dengerin materi halaqoh, gak terpenuhinya targetan amal yaumiyah dan sebagainya merupakan masalah-masalah yang memungkinkan timbulnya kefutur-an dalam jiwa kita (termasuk yang ngomong juga niihh. Jadi nyindir diri sendiri ceritanya xxixixi). Sedikit tips biar kita gak dikit-dikit ngerasa futur akan ana bagi disini. Namun bukan berarti ana pun udah pinter menerapkan tips ini agar gak futur berkali-kali. Disini kita bakal sama-sama belajar guys (hyaahhh bahasanya ) ^_____*
a. Jangan sampe absen dateng halaqoh, apalagi dengan alasan-alasan yang gak syar’i
b. Konsisten dengan amal yaumiyah yang udah ditargetin
c. Baca Qur’an plus merenungi isi kandungannya
d. Jangan lupa shalat lail. Kalo masih rada susah buat bangun malem, minta deh ama saudara, akhuka or ukhtuka buat ngebangunin (but, tetep yang mahram lho. Jangan biarkan pintu-pintu setan terbuka walau sekecil apapun. Niatan mo bangunin saudara, tar malah timbul VMJ alias VAR yang udah kita bahas tadi). Tips juga dari seorang ikhwah, sama-in nada alarm hape dengan nada dering atau nada panggilan masuk biar kita secara refleks bisa bangun. Rajin-rajin juga buat ganti-ganti tanda panggilan masuk tersebut biar kita tetep secara refleks bisa bangun. Tips yang unik, hhehehhe….
e. Yang wajib dikerjakan, kenapa gak berusaha nyunnah juga??? Toh gak ada ruginya
f. Ngumpul dengan orang-orang shaleh/shalehah (yang mahram). But bukan berarti jadi anti ngumpul dengan orang-orang yang ammah lho ya…. Mereka malah wajib kita da’wahi dengan cara yang ma’ruf
g. Rajin-rajin datang kajian. Ini juga masih nyangkut ama tips nomor f.
h. Minta ditausiyah-in saat futur terasa akan menyerang. Saudara terdekat kita –terlebih keluarga ’kecil’ kita di halaqoh– insyaallah mengerti tentang kesusahan yang kita hadapi n dengan senang hati menyediakan bahunya untuk tempat kita bersandar. So jangan pernah merasa sendiri !!!
i. Munculkan semangat dari dalam diri sendiri kalo kita gak akan terganggu ama yang namanya ”syndrome-futur” tersebut
j. Jangan kebanyakan ngayal gak ada guna. Mending kalo lagi gak ada kerjaan, cari-cari deh kerjaan yang bermanfaat. Beresin kamar, nyuci-nyuci atau bisa juga ngarang-ngarang artikel gini. Insyaallah bakal lebih bermanfaat
5.
Cz dari tadi yang dibahas kayaknya cuma tentang masalah-masalah internal diri kita aja, point satu ini mungkin akan agak berbeda dari pembahasan sebelumnya. Dimana saat profesionalitas kerja da’wah kita dipertanyakan.
Satu contohnya adalah saat undangan syuro’ memanggil. Masalah yang mungkin sering timbul diantaranya adalah tentang manajemen waktu sebelum maupun saat syuro’ sedang berlangsung. Selain itu, kurang terpenuhinya hak-hak anggota syuro’ juga merupakan satu kenyataan yang mungkin timbul disamping terkadang agenda-agenda syuro’ yang sering terlewat untuk dibahas. Wah, ternyata banyak juga ya yang bisa kita bahas di dalam point ini. Oke, yuk kita kupas satu-persatu (buah kaleee dikupas)
- Manajemen waktu. Ana pernah mengalami undangan syuro’ yang akan dihadiri ngaret sampe berjam-jam (enggak dink, cuma sampe bermenit-menit doang kok. Tapi pernah juga sih yang ngaret sampe 59 menit, becanda becanda
). Yang parah ni pas waktu syuro udah tiba n semua angguta udah pada ngumpul, eh malah yang ngundang yang gak kunjung hadir. Allahu a’lam mungkin dia masih ada amanah yang harus diselesaikan atau ada halangan yang ngebuat dia telat, kita tetep wajib berbaik sangka terhadap saudara kita. N buat yang telat, sesempat mungkin untuk ngasih kabar kepada semua anggota syuro’ perihal keterlambatannya itu. Se-enggaknya ngasih tau satu orang yang mewakili untuk disampein ke semua anggota syuro’ juga gak masalah. Yang penting jangan sampe gak ngabarin sama sekali. Trus alasan telat juga harus yang syar’i lho. Siapa yang gak sebel kalo orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya ternyata telat cuma gara-gara abis mandiin kucing kesayangan. Wah…. gak banget deh kalo kayak gitu
- Kurang terpenuhinya hak-hak anggota syuro’, misalnya dalam forum tersebut satu orang aja yang dari pembukaan, kultum, tilawah, ngebahas agenda syuro’, ampe syuro’nya ditutup yang ngomong (pidato aja deh kalo caranya gitu
). Harus ada pembagian yang jelas tentang hal-hal semacam ini. Biar yang namanya kecemburuan sosial antar peserta syuro’ gak terjadi. Kasih juga kesempatn yang sama rata buat nyampein unek-unek, saran maupun kritik. Tapi mesti tetep sesuai dengan adab-adab dalam syuro’; harus sopan, sesuai dengan apa yang lagi dibahas, gak motong pembicaraan serta gak rebutan ngomong (emang pasar???)
- Agenda syuro’ yang sering terlewat buat dibahas. Point ini sebenernya masih terkait dengan apa yang kita sebut diawal sebagai manajemen waktu. Ada kalanya cz keasik-an ngebahas satu pokok permasalahan, masalah-masalah yang laen malah gak sempet dibahas karena anggaran waktu yang keburu abis. Hal ini ngebuat syuro’ kita jadi gak efektif. Semula bisa sharing banyak permasalahan, akhirnya malah cuma sebagian kecil yang bisa dibahas bersama-sama
- Sedikit tambahan, jangan pernah maksain kehendak sendiri. Mempertahankan pendapat gak dilarang, tapi jika mayoritas gak sepakat kita gak boleh egois. Namanya aja syuro’. Kalo gak mau menerima masukan dari orang lain, gih sana get out!
Pesen ana, tetep jaga hijab didalam syuro’. Biar gimanapun, interaksi ikhwan-akhwat gak bisa dihindari. Hal ini juga memperlihatkan keprofesional-an kita dalam menjalani agenda-agenda da’wah. Minta ingetin ma saudara yang sehijab dengan kita kalo kita terlupa. Namanya aja manusia, wajar kalo khilaf. Asal jangan sengaja di-khilaf-khilaf-in aja.
6.
Satu hal yang menghambat kita untuk maju adalah mudahnya hati ini tersinggung hanya karena kritikan kecil dari sang sahabat atau mungkin sebuah saran yang ditujukan untuk kebaikan diri kita sendiri. Ngambek-an cuma wajar jika yang ngelakuin adalah adek-adek kita dirumah yang masih pada imut. Lhah kita? Udah gede masih sering ngambek, amit-amit deh. Bahkan yang rugi nantinya juga kita sendiri. Jadi dijauhin temen-temen, gak da lagi yang mau ngasih masukan buat kebaikan kita, en lain-lain bisa terjadi kalo sifat ini terus kita budidayakan dalam diri. Mending budidaya ikan. Bisa jadi penghasilan ^_______^. Menerima sebuah kritikan untuk diri kita –terutama kritik yang membangun– bisa jadi latihan bagi jiwa kita untuk menjadi kuat menghadapi ujian-ujian yang jauh lebih berat lagi. Inget aja deh, sebuah kritik kecil gak akan ngebuat dunia kita berakhir. Tapi bukanberarti kita malah cuek n terkesan acuh tak acuh mendengarkannya. Terima dengan lapang dada, cerna dengan pikiran yang terbuka, ambil hikmahnya karena siapa tau hal itu emang bener tapi tetep, JANGAN NGAMBEK.
Ini dulu deh yang bisa ana bagi ama ikhwah fillah sekalian. Karena keterbatasan ilmu ana juga yang ngebuat kata-kata panjang tapi dengan makna yang gak luas. But tetep, moga ini semua bisa diambil manfaatnya bagi kita semua. Kalo ada yang kurang, pastinya itu dari ana. Tapi kalo ada lebihnya ya mbok dibalikin ama yang punya, eh salah dink. Kalo ada lebihnya tentu semata-mata adalah karena Allah
. Di Jalan Da’wah Aku Melangkah…..
Yogyakarta
Jum’at, 03 Juli 2009 @ 8.51pm
-
Terkini
- Karakteristik Seorang Muslimah
- Cari Istri Shalihah n Cerdas, Standarnya???
- Ukhti, ajak aku terbang bersamamu…
- Berburu Barakah dalam Cantik Sejati
- Persiapan Menjelang Ramadhan
- Syair Diri
- Cinta yang Hakiki, Bukan Cinta ama yang Namanya Hakiki ^______*
- 10 Alasan Untuk Tidak Memakai Jilbab
- Akhwat n Ikhwan
- Di Jalan Da’wah Aku Melangkah……
-
Taut
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah materi halaqah yang pernah ana dapetin waktu masih di Palembang. Semoga aja bisa ngasih sedikit manfaat buat ikhwah fillah sekalian, khususnya para ukhtiy yang terus berjuang dan memperjuangkan keistiqamahan dijalan Allah. Keep spirit ya ukh ! J. Tema kali ini terasa cukup berat bagi ana karena yang akan dibahas sebagian besar adalah kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang manusia yang beriman dan percaya kepada datangnya hari akhir. So kalo ditengah jalan (ditengah pembahasan maksudnya….) antunna sekalian nemuin adanya kesalahan, harap segera dikoreksi ya. Buat kebaikan kita bersama ([lanjutkan!] maksudnya ???
Sesuai ama hadist yang diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim, dari Ibnu ’Umar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda : ”Islam itu ditegakkan diatas lima dasar : bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya; mendirikan shalat; menunaikan zakat; haji ke Baitullah; dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”
Sekedar intermezzo, pas lagi browsing, cz ”machine error” ana nyasar ke sebuah blog seorang ikhwah yang intinya ngebahas tentang perbedaan dari manhaj salafy haraki dengan salafy yamani/hijazi atau kalo bahasa ana salafy non-haraki atau gitu-gitu deh ah…
Waktu ana log-in di Facebook, ana tanpa sengaja ngebaca “curahan hati” sekaligus doa dari seorang ikhwah (tsaaaa….) yang sengaja beliau tulis di “wall” Facebook miliknya. Beliau bilang pengin cari istri yang shalihah lagi cerdas. Dari situlah tulisan ini terinspirasi (cie….). Permasalahan yang kemudian timbul dan tenggelam dalam benak ana serta akan ana angkat disini adalah berkaitan dengan kata “cerdas” tersebut dan standarisasinya.
Mengenaskan dan menjadi sebuah ironi memang, saat sebagian besar kaum wanita –khususnya di negeri kita tercinta ini– yang menjadikan nilai sebuah kecantikan hanya bermakna sebatas kesempurnaan fisik semata. Hanya sebuah keindahan kasat mata belaka yang lambat laun akan sirna dengan bertambahnya usia, meski hal itu tak diinginkan. Hal ini jugalah yang menginspirasi ana yang juga seorang akhwat –insyaallah– agar kita selaku muslimah dapat saling mengingatkan bahwa sesungguhnya kecantikan sejati bukanlah semata-mata cantiknya paras wajah yang jika dilihat akan menarik perhatian banyak orang. Namun kecantikan sejati ialah kecantikan yang berasal dari pancaran cahaya hati yang senantiasa mengingat akan kebesaran Rabb Sang Maha Pencipta kecantikan itu sendiri……
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah [58] : 11). Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda: ”Barangsiapa yang menempuh perjalanan dengan tujuan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan jalan kesurga baginya.” (HR. Muslim).
Al-Qur’an itu merupakan kitab yang gak ada seorangpun makhluk di dunia ini yang mampu menandinginya. Ia adalah kitab yang memiliki berbagai fungsi bagi siapa yang mempelajarinya. Misalnya aja sebagai kitab ilmu pengetahuan, kitab penyembuh serta kitab petunjuk. Liat deh Al-Qur’an surat Yunus [10] : 57 ini dan renungi maknanya, ” Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” Rasulullah pun ngasih tau kita berbagai keutamaan apa aja yang bakal kita dapetin kalo kita senantiasa rajin baca Al-Qur’an. Dalam hadist-nya yang diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu beliau bersabda: ”Bacalah Al-Qur’an, sebab kelak pada hari Kiamat dia akan datang memberikan syafa’at kepada pembacanya.” (HR. Muslim). Keutamaan lainnya adalah; setiap huruf dinilai satu kebaikan dan dibalas sepuluh kali lipat, Allah akan mengangkat derajat orang yang membacanya, yang mahir membacanya akan berkumpul bersama-sama para malaikat yang mulia dan taat, bahkan bagi antunna yang masih kesulitan ngebacanya pun Allah masih memberikan dua pahala. Subhanallah. Begitu luas rahmat Allah untuk kita.
Kurang lebih sekitar 75% faktor yang mempengaruhi pembentukan diri –kepribadian– kita berasal dari lingkungan. Maka lingkungan yang baik akan mampu membuat diri dan pribadi kita berkembang menjadi baik pula. Pun sebaliknya, lingkungan dan pergaulan yang buruk akan menciptakan kepribadian yang gak baik pula pada diri kita. Banyak remaja yang terjerumus kepada (afwan) free sex atau menggunakan narkotika akibat salah memilih teman gaul.
Seperti halnya dosa kecil yang senantiasa kita remehkan akan membawa kita pada keburukan, begitupun dengan setiap kebaikan –meskipun dalam pandangan manusia dianggap kecil– akan membawa kebaikan pula bagi orang yang melakukannya. Simak deh firman Allah berikut ini: ”Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Az-Zilzal [99] : 07-08). Menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan yang bisa menyebabkan celaka orang yang melewatinya pun dihitung sebagai satu kebaikan yang berpahala di sisi Allah lho. Tentunya kalo niat kita ikhlas semata-mata mengharap ridhaNya. Amiin.
Point terakhir agar dapat meraih pancaran cantik dari dalam diri adalah berdoa. Karena sesungguhnya Allah sangat menyukai hamba-hambaNya yang senantiasa meminta hanya kepadaNya. “Dan Rabb kalian berfirman: ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan do’a kalian….’” (QS. Ghaafir [40] : 60). Malahan orang yang enggan berdoalah yang dimurkai oleh Allah karena orang tersebut seolah-olah telah berlaku sombong dan tidak membutuhkan lagi pertolongan dari Allah. Beda dengan manusia yang bakal marah kalo dimintai terus menerus –karena emang Shifat Allah berbeda dengan makhlukNya– Mahasuci Allah.
Usahakan gunakan bahan-bahan yang alami kalo ada masalah pada kulit, misalnya buat antunna yang mudah banget jerawatan, silahkan maskeran pake parutan wortel yang dikasih perasan air jeruk nipis. Kalo udah kering bilas pake air anget n bilas lagi pake air biasa. Rasanya segeeeer banget. Ana pernah buktiin sendiri lho pas masih jaman-jaman
Kalopun terpaksa buat gunain kosmetik-kosmetik buatan, liat label halalnya n usahakan masih terkandung bahan-bahan alami didalamnya. Beberapa merk kosmetik yang insyaallah aman dipake buat kita-kita (muslimah) n gak dikhawatirkan bakal mengurangi nilai ibadah kita (cz gak menggunakan bahan yang najis, misalnya lemak babi) antara lain Wardah n produk-produk kosmetik produksi MQ. Tapi sekali lagi pemakaian kosmetik jenis ini cuma buat pendukung aja lho. Kalo menurut ana pribadi, masih efektif dengan air wudhu’ (n lebih hemat lagi….)
