Ukhtiyfillah's Blog

Just another WordPress.com weblog

Karakteristik Seorang Muslimah

1_529789393mTulisan ini terinspirasi dari sebuah materi halaqah yang pernah ana dapetin waktu masih di Palembang. Semoga aja bisa ngasih sedikit manfaat buat ikhwah fillah sekalian, khususnya para ukhtiy yang terus berjuang dan memperjuangkan keistiqamahan dijalan Allah. Keep spirit ya ukh ! J. Tema kali ini terasa cukup berat bagi ana karena yang akan dibahas sebagian besar adalah kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang manusia yang beriman dan percaya kepada datangnya hari akhir. So kalo ditengah jalan (ditengah pembahasan maksudnya….) antunna sekalian nemuin adanya kesalahan, harap segera dikoreksi ya. Buat kebaikan kita bersama ([lanjutkan!] maksudnya ??? ;-) ). Ditunggu ya……

Disini kita akan ngebahas dua point utama berkaitan dengan peran kita sebagai seorang muslimah. Sebenernya peran muslimah tu gak cuma ini aja. Ada banyaaaaaaak banget peran yang bisa dijalankan oleh para muslimah (saking banyaknya, huruf a-nya aja sampe ada satu, dua, tiga….. itung sendiri deh ya J). But disini, dua point besarnya insyaallah akan mewakili peran kita-kita sesuai dengan firman Allah : ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat [51] : 56)

  • Sebagai hamba Allah
    Sebagai hamba Allah tentunya seorang muslimah memiliki beberapa kewajiban yang mesti ia penuhi kepada Rabbnya. Sesuai ama ayat yang udah disebutin diawal tadi, yaitu tujuan penciptaan kita (manusia) ini gak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala –tanpa terkeculi siapapun dia. Mo anak pejabat kek, mo tukang sayur kek, mo kakek-kakek kek (baru tau ada kakek-kakek yang muslimah…. hhehhehehe)
    Balik ketopik, disini kewajiban seorang muslimah meliputi :

1. Mengerjakan hak islam yang lima (Rukun Islam)
sujud Sesuai ama hadist yang diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim, dari Ibnu ’Umar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda : ”Islam itu ditegakkan diatas lima dasar : bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya; mendirikan shalat; menunaikan zakat; haji ke Baitullah; dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”
Nah, hal ini merupakan pokok utama dari yang namanya Islam. Namun meski ini pokok, bukan berarti Islam tuh hanya mengerjakan yang lima ini aja. Semua sisi kehidupan kita didunia dan persiapan kita menuju kehidupan diakhirat pun diatur sedemikian rupa oleh Islam. Tujuannya bukan untuk mempersulit kita melainkan untuk menjamin kemaslahatan hidup kita didunia ini. Sebagai contoh, kalo mo pake masker anti jerawat misalnya, pasti kamu bakal ngebaca dulu yang namanya petunjuk penggunaan. Begitupun halnya kehidupan kita didunia, Allah udah ngasih tau petunjuk penggunaannya lewat Al-Qur’an serta lisan nabiNya. Tinggal kitanya aja yang mau atau enggak menggunakannya. Kalo mau, maka kita akan bahagia dunia dan akhirat, but kalo enggak ”Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail [92] : 14). Nah loh!

2. Menerima qadha dan qadar Allah dengan ridha
Yakinlah bahwa semua yang terjadi pada diri kita ini sudah merupakan ketetapan dari Allah. Hanya saja, ada ketetapan yang gak bisa diganggu gugat lagi tapi ada juga ketetapan Allah yang masih bisa kita ubah sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Misalnya, udah menjadi ketetapan Allah bahwa kapan kita akan kembali menghadapNya (wafat maksudnya) tapi kita berkewajiban mengusahakan mau mati dengan cara seperti apa. Mau khusnul khatimah, ya rajin-rajin ibadah. Kalo gak mau, siap-siap aja mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzubillah. Semoga Allah menjauhkan kita dari akhir kehidupan yang buruk…..

3. Ikhlas
Ikhlas (khalashah) secara bahasa berarti bersih murni. Sedangkan menurut istilah dapat diartikan sebagai membersihkan maksud dan motivasi kepada Allah dari maksud dan niat lain (semoga juga niat ana nge-post artikel-artikel di blog ini pun gak lain hanya ingin meraih ridha Allah dalam da’wah fi sabilillah. Kan amal itu tergantung kepada niat. (Ya Allah, jadikan niat dihati hambaMu ini semata-mata hanya mengharap ganjaran dariMu….). Ala kulli hal dalil tentang ikhlas ini bisa diliat di QS. Al-Bayyinah [98] : 05, ”Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, ikhlas menaatiNya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” Juga di QS. Al-A’raf [07] : 29 yang bunyinya : ”….. dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepadaNya…..”
Dari sini dapat disimpulkan tanda-tanda ikhlasnya seorang hamba itu diantaranya adalah :
- Tidak mencari popularitas dan tidak menonjolkan diri
- Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian (cuma karena hasil kerjanya gak ada yang muji, jadi males ah ngelakuinnya lagi…. *Lhah, apakah pujian manusia itu lebih baik dari keridhaan Rabb yang Maha Agung?)
- Tidak silau dan cinta kepada jabatan
- Tidak diperbudak imbalan dan balas budi
- Tidak mudah kecewa
- Tidak membedakan amal besar dan amal kecil (’Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit’ bisa jadi motivasi yang cocok tuh…!)
- Tidak fanatik golongan (cz biasanya orang-orang yang fanatik golongan ini cuma orang-orang yang ngekor dari belakang serta cuma taqlid doang tanpa ada pemahaman terhadap tujuan da’wahnya dimana ia berkontribusi –bukan pula ikhlas Lillahi Ta’ala)
- Ridha dan marahnya bukan karena berdasarkan pribadi
- Ringan, lahap dan nikma dalam beramal
- Tidak egois, karena selalu mementingkan kepentingan bersama
- Tidak membeda-bedakan pergaulan

4. Sabar
”Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran [03] : 200).
Allah menyeru khusus kepada orang-orang beriman untuk bersabar. Dan sabar itu akan membawa kita kepada keberuntungan (”….dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”). Suri tauladan kita, manusia terbaik dimuka bumi ini pun , Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam memuji orang-orang yang bersyukur dan bersabar sebagai kebaikan atas dirinya (orang yang mengerjakannya), ”Menakjubkan sungguh urusan orang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali pada orang yang beriman. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa mushibah dia bersabar,dan sabar itu baik baginya.” (HR Abu Dawud & At-Tirmidzi). So kenapa kita gak mulai melatih kesabaran diri mulai dari saat ini. Terapkan prinsip 3M-nya Aa Gym buat point ini; Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil dan Mulai dari sekarang…. Kalo setiap orang mampu bersabar dan tetap kuat dalam kesabarannya, pastinya gak akan ada lagi yang namanya aksi-aksi anarkis menentang si A, demo yang berujung kericuhan menolak kebijakan si B n lain sebagainya kayak yang rame diberitakan oleh media. Satu penghargaan patut diberikan ama para suporter Persipura Jaya Pura yang mampu ngasih spirit kesabaran kepada para pemainnya yang gak terima ama keputusan wasit saat mereka tandang ke stadion Jaka Baring Palembang dalam final piala Copa 2009-10 kemaren. Meski kalah, but para suporter itu tetep bisa memperlihatkan ke-sportifitas-an mereka. Itu baru yang namanya suporter. Keren lah pokoknya (lhah, kok malah ngobrolin bola? Ups, afwan. Maklum hobi lama ;-) ) Ehhmm…. indahnya bersabar.

5. Selalu merasa diawasi oleh Allah (Muraqabatullah)
Tiga pokok ajaran ini; iman, islam dan ikhsan. Iman itu adalah mengakui dengan perkataan, membenarkan dengan hati serta mengamalkan dengan perbuatan. Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat ”Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah”, mengerjakan shalat lima waktu, zakat, naik haji ke Baitullah, serta berpuasa pada bulan Ramadhan. Sedangkan ikhsan adalah beribadah seolah-olah melihat Allah, jika tidak mampu berlaku demikian –karena tidak khusyu’nya hati kita kepadaNya– maka yakinlah bahwa Allah senantiasa melihat kita. Namun muraqabatullah bukan hanya pada saat kita beribadah aja. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita diwajibkan untuk selalu ingat bahwa Allah selalu mengawasi setiap tingkah laku kita, sehingga setiap gerak gerik kita akan selalu terjaga dari maksiat kepadaNya. Amiin Ya Rabbul ’Alamiin…..

6. Mencintai Allah dan RasulNya
Allah berfirman : ”Katakanlah (Muhammad) : ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [03] : 31). So bagi kita-kita yang ngaku cinta sama Allah tapi masih enggan buat mengikuti sunnah (perbuatan) RasulNya, maka cinta kita itu patut dipertanyakan. Lhah wong Allah sendiri pun udah berfirman lewat kitabNya yang disampaikan melalui lisan RasulNya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. So apa yang kita tunggu buat ngebuktiin kalo kita pun cinta dan ingin dicintai oleh Allah?!

7. Wara’ serta Meninggalkan Syubhat
Syubhat artinya adalah sesuatu yang membuat ragu. Wara’ atau berhati-hati agar tidak menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah untuk kita –atau malah mengharamkan apa-apa yang mestinya halal– adalah perbuatan yang disunnahkan oleh RasulNya bahkan menjadi sebuah kewajiban bagi semua manusia yang mengaku dirinya muslim/ah. Hal ini sangat mmpengaruhi esensi atau nilai dari ibadah yang akan, sedang atau telah kita lakukan. Untuk lebih jelas, renungi deh apa yan telah disampaikan oleh Qudwah kita ini –uswatun hasanah sepanjang masa– Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Sesunguhnya yang halal itu sudah jelas dan sesunguhnya yang haram juga sudah jelas. Diantara keduanya banyak terdapat dua hal yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang memelihara diri dari syubhat, berarti dia telah memelihara agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terperosok kedalam syubhat, berarti telah terperosok kedalam yang haram. Hal ini seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat lahan terlarang yang dikhawatirkan ternaknya memasuki lahan terlarang tersebut. Ketahuilah bahwa setiap penguasa memiliki larangan. Ketahuilah bahwa larangan Allah itu semua hal yang diharamkanNya. Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia itu terdapat segumpal daging yang jika ia baik, maka akan baiklah seluuh jasadnya; dan jika ia buruk, maka akan buruklah semua jasadnya, ketahuilah dia adalah qalbu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kita mengetahui, sebelum menyuruh untuk melakukan sesuatu, Rasulullah-lah yang pertama-tama melakukannya. Begitupun dengan perkara syubhat ini. Terbukti dari satu lagi hadist beliau yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim Radhiyallahu anhu, Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pernah menemukan sebuah biji kurma di jalan, lalu beliau bersabda : ”Sekiranya aku tidak khawatir bahwa kurma ini berasal dari kurma zakat, tentu aku sudah memakannya.” Nah, Rasulullah yang terbebas dari dosa dan kesalahan itu aja masih bersikap wara’ terhadap apa yang meragukan dirinya, mengapa juga kita yang gak punya jaminan sedikitpun ini malah meremehkan bahkan terkesan gak perduli dengan perkara syubhat???

8. Mengharapkan RahmatNya
Hanya orang-orang gak beriman yang senantiasa perputus asa dari rahmat Allah, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [02] : 218). Orang-orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri adalah contoh orang yang berputus asa dari rahmat Allah. Padahal rahmatNya tuh sangat luas –bahkan orang kafir pun Allah beri rahmatNya. Makanya Allah mengharamkan surga atas orang-orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang zhalim seperti itu. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari hal semacam itu.

9. Tawakkal
Berserah diri kepada Allah itu wajib dilakukan oleh kita sebagai muslim. Kalo gak, maka kita termasuk makhluk yang sombong. Padahal gak ada sesuatu pun pada diri ini –sekecil apapun itu– yang dapat kita sombongkan dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi, yang jadi catatan, tawakkal ini harus diletakkan ditempat yang sesuai. Jangan lantas asal tawakkal aja. Tawakkal baru boleh dikatakan sebagai sebenar-benarnya tawakkal ketika apa yang menjadi hajat kita itu telah kita usahakan. Lantas setelah itu kita disuruh untuk berdoa. Baru kemudian tawakkal yang menjadi modal bagi kita untuk ridha atas apa yang akan Allah berikan untuk kita. Mentang-mentang dalam QS. Ibrahim [14] : 21 Allah mengabadikan perkataan para rasulNya ”Dan mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami…..” ketika musuh-musuh Allah dan rasulNya terus melakukan penolakan serta gangguan kepada mereka, lantas kita dengan seenaknya menjadikan dalil ini sebagai hujjah bagi kita untuk bersikap malas. ”Tenang…. Tawakkal aja. Pasti Allah bakal ngasih rejeki buat kita. Kan Allah itu Maha Pengasih.” Ngomong gitu sambil males-malesan n gak ngelakuin usaha apapun? Sampe semua es di kutub selatan cair juga gak bakal turun rejeki buat loe! (ups…! Keceplosan. Afwan…. :-D *abis sebel sih ;-) )

10. Percaya atas pertolongan Allah
Sesungguhnya Allah itu menurut persangkaan hambaNya. So kalo kita percaya bahwa Allah bakal menolong setiap kesusahan yang dialami hambaNya, pasti pertolongan itu bakal datang. Kunci utamanya lagi-lagi adalah USAHA, DOA, TAWAKKAL plus SABAR……

11. Selalu menyertakan niat jihad atas segala aktivitasnya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “’Barangsiapa mati, sementara ia belum pernah berperang (fi sabilillah) atau dalam dirinya belum pernah terlintas niat untuk berperang (fi sabilillah), maka ia mati berada dalam salah satu cabang nifaq (kemunafiqan).” (HR. Muslim). Dan jihad gak cuma diartikan sebagai perang melawan kaum musyrikin aja. Thalabul ‘ilmi (belajar mencari ilmu yang diridhai Allah) pun dapat termasuk jihad jika niat kita semata-mata ikhlas karenaNya. N jihadnya para ummi kita nih –wajib dipelajari juga buat yang udah niat jadi ummi ;-) — termasuk taat sama suami, menjaga kehormatan dan harta suami saat suaminya gak ada, plus ngurus rumah tangga dan anak-anaknya –bahkan sebelum si anak lahir kedunia pun (maksudnya pas masih dikandung oleh umminya). Betapa adil Sang Khalik, wanita yang diciptakan dengan fisik yang gak sekuat jika dibanding para ikhwan masih dikasih kesempatan buat memperoleh pahala jihad sama kayak yang diberikan pada mereka (para ikhwan tersebut). Betapa beruntung kita ditakdirkan hidup sebagai seorang muslimah. Ehhhhmmmm, so sweet……

12. Selalu memperbarui taubat dan istighfar
Betapa diwajibkannya perintah untuk memperbarui taubat dan istighfar ini, sampe-sampe banyak banget ayat-ayat cinta Allah buat kita yang menegaskannya. Sebut aja QS. An-Nuur [24] : 31, QS. Huud [11] : 90 n QS. At-Tahriim [66] : 8. Coba buka lagi deh mushaf Al-Qur’an antum. ”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya…..” (QS. At-Tahriim [66] : 8). Betapa cintanya Allah terhadap orang yang beriman, sampe peringatanNya ini diulang-ulang hingga berkali-kali. ”Hai orang-orang yang beriman…..” seruan lembut dari Allah khusus buat kita, yah! khusus buat kita. Siapa yang hatinya gak gerimis saat Allah yang Maha Lembut memuji kita sebagai orang yang beriman serta mengingatkan kita untuk selalu taubat padaNya. Subhanallah Ya Rabbi…..:’-)

13. Mempersiapkan diri untuk hari akhir (mengingat mati)
”Setiap yang bernyawa pasti akan mati….” Jika setiap melakukan aktivitas apapun kita selalu ingat akan penggalan ayat ke 185 dari Qur’an surat [03] Ali Imran tersebut, pastinya semua yang akan kita lakukan gak akan ada yang melenceng dari syariatNya. Alangkah indahnya jika seisi dunia ini berbuat hal yang demikian. Akan tewujudlah apa yang kita harap-harapkan selama ini yaitu menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ’alamin. ”…. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu….” lanjut kalimat kedua dalam ayat ini. Sehingga memotivasi kita untuk mendapat kebaikan yang sempurna pada hari kiamat kelak. Caranya adalah dengan memperbaiki diri mulai dari sekarang untuk bekal dihari selanjutnya (hari akhir). Boleh tuh dipake lagi rumus 3M-nya Aa Gym (Hehhehe… Maklum fansnya Aa Gym. Sampe rada histeris pas Aa mampir kekampusnya ana, dapet fotonya lagi. Tapi gak foto berdua lho ya! *halah, malah curhat lagi nih ;-) )

  • Sebagai da’iyah bagi masyarakat
    ”Sampaikanlah walau hanya satu ayat.” (Ana lupa kalimat ini dari nash Qur’an atau hadist. Ada yang tau? Mohon kasih tau ya….), atas dalil itulah maka kita wajib untuk berda’wah kapanpun n dimanapun kita berada. Kita adalah da’i sebelum menjadi apapun. Namun apa-apa yang kita lakukan hendaklah berlandaskan dalil dan pengetahuan yang mencukupi. Maka itu, terkait dengan peran kita –para muslimah n calon ummi– sebagai da’iyah bagi masyarakat, tiga proses ini yang insyaallah akan dapat dijadikan pedoman dalam memperbaiki sistem dan lingkungan sekitar kita.

Pertama ; Tarbiyah dzatiyah atau kalo dibahasakan dalam bahasa Indonesia artinya adalah pembinaan pribadi. Artinya seorang muslimah dituntut untuk memahami pada manhaj manakah ia berpijak serta ia juga harus memiliki kepribadian yang baik. Di point ’ikhlas’ juga udah sedikit disinggung tentang masalah ini. Manhaj atau sistem dimana kita dibina, ‘dibesarkan’, ‘dirawat’ serta dididik untuk kemudian diterjunkan ke medan da’wah haruslah dipahami dengan betul-betul oleh kita sebagai penggeraknya. Jangan hanya kemudian sekedar ikut-ikutan dan gak ngerti kemana arah pergerakan yang kita jalankan ini. Walhasil, kalo ada orang yang kemudian mengkritik sebagian dari sistem yang kita pegang, maka dengan serta merta kita langsung mengkafirkan orang tersebut, menyebutnya sebagai ahli bid’ah dan sebagainya yang betul-betul gak enak didenger oleh sang telinga (gak kasian apa, liat telinga saudara kita kepanasan gara-gara ulah lidah kita?). Membela apa yang kita yakini benar emang diperbolehkan, tapi kalo tanpa hujjah yang jelas tu namanya cuma sekedar taqlid doang. Akan lebih baik lagi kalo kita merenungi lagi apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam berikut ini, ”Aku menjaminkan rumah di surga untuk orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia benar.” (HR. Muslim). Siapa yang mau punya investasi rumah di surga?
saff Sekedar intermezzo, pas lagi browsing, cz ”machine error” ana nyasar ke sebuah blog seorang ikhwah yang intinya ngebahas tentang perbedaan dari manhaj salafy haraki dengan salafy yamani/hijazi atau kalo bahasa ana salafy non-haraki atau gitu-gitu deh ah… :-P . Gak ada yang salah dengan artikel ikhwah (salafy haraki) tersebut. Yang malah ngebuat beberapa ikhwah tersebut tampak konyol –menurut ana– adalah pas ana baca koment-koment yang ada. Masa’ jadi ribut n serang-serangan dengan kata-kata yang –meski terkesan lembut tapi– lagi-lagi buat kuping panas dengernya (maksudnya buat mata sakit ngeliatnya *kan dibaca di blog…. **bingung mode on, ambil garuk-garuk kepala). Gimana kita mau da’wah kepada umat kalo intern kita aja masih suka sama yang namanya saling salah-menyalahkan, merasa bener sendiri, saling hujat sesama ikhwah. Dimana kepribadian kita sebagai muslim yang baik? Kenapa slogannya teh botol sosro ”Apapun makanannya, minumnya teh botol sosro” gak kita terapkan dalam hubungan kita sesama ikhwah yang berjuang atas nama agama ini? Apapun manhajnya, selama dia masih meyakini ’Laa ilaha ilallah, Muhammadar rasulullah’ dalam hatinya, serta masih menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pegangan hidupnya, maka ia berhak disebut sebagai saudara kita se-aqidah. Ukhtiy wa akhiy, masih banyak yang harus kita prioritaskan dalam langkah kita berda’wah ini ketimbang menghabis-habiskan waktu, pikiran dan energi kita untuk memenangkan argumen bahwa manhaj yang kita ada didalamnya-lah yang paling benar. Mau salafy haraki, salafy non haraky, Hisbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, Muhammadiyah, NU, maupun yang punya slogan ”Besih, Peduli, Profesional” pun *;-) selagi masih memperjuangkan tegaknya Islam dibumi Allah ini, maka ia adalah SAUDARA….
Eh,eh,eh…. (*tersadar dari lamunan), kita kan mau ngebahas yang namanya pembinaan pribadi. Kok malah ngebahas tentang masalah ukhuwah sih?. Ehhmm ya, salah satu hal yang kembali perlu mendapat binaan dalam ranah da’wah saat ini adalah permasalahan ukhuwah. Point pertama yang jadi bahasan ana di artikel sebelumnya pun adalah tentang masalah ukhuwah (baca deh ’Di Jalan Da’wah Aku Melangkah’). Nah, tautannya, kalo dimasing-masing pribadi diri kita sendiri udah mampu dimanajemen/diatur dengan baik, maka dengan sendirinya nilai-nilai ukhuwah –baik dalam intern manhajnya maupun di luar dari itu– pun akan terbina juga. Setelah itu, dampak yang lebih global lagi insyaallah bakal terwujud, yaitu terbentuknya kembali sistem yang pernah dibangun oleh Rasulullah empat belas abad yang lalu, sistem kekhalifahan. Jika semua manhaj Islam bersatu, maka apa yang gak mungkin. Inget lho, Islam ini mayoritas di Indonesia bahkan di dunia sekalipun. Gak inginkah kita membangun kembali peradaban Islam yang pernah dibangun oleh Rasulullah dan para shahabatnya terdahulu (salafush-shalih) ??? Jawabannya ada pada antum sendiri….

Kedua ; Menata waktu seefektif mungkin.
Ehhmmm, lagi-lagi nyangkut ama materi tentang tawazun. Menata waktu agar efektif juga memerlukan keseimbangan dari kita sebagai yang mengatur. (Ana jadi nyinggung diri sendiri nih ceritanya). Seimbang itu gak gampang –seenggaknya menurut ana saat ini. Makanya, buat para ikhwan yang punya niat buat poligami, mending gak usah deh kalo masih khawatir gak bisa berlaku adil (lho?). Terkait dengan peran kita ini, ’efektif’ merupakan satu kata kunci yang dapat mewakili agar kita bersikap seimbang. Ada waktu buat da’wah, ada waktu buat menuntut ilmu (sekolah, kuliah dan sejenisnya), ada waktu buat keluarga (orang tua, suami–bagi yang udah, dan sejenisnya) n buat diri sendiripun ada jatah waktunya –meski masih dalam tujuan utama kita sebagai manusia yaitu beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariat [51] : 56). Ngaturnya? Insyaallah anti lebih tau (cz ana pun masih berusaha buat tawazun, hehehhe…..)

Terakhir ; Melakukan aktifitas yang mendukung profesionalitas kerja (itkanul akmal)
Contoh konkritnya aja nih, riyadhah tiap hari. Nganter adik sekolah pake sepeda pun bisa diitung sebagai olahraga lho kalo kita ikhlas melakukannya (pengalaman pribadi ni ukh ;-) ). Selain itu, daurah-daurah yang insyaallah berhubungan dengan keorganisasian wajib diikuti buat nambah wawasan kita untuk itu. Di rohis-rohis SMA atau LDK-LDK ana rasa selalu ada yang namanya daurah up grading buat para kadernya. Ilmu dapet, pengalaman organisasi dapet, ukhuwah pun makin erat terjalin. So tunggu apa lagi ukh !!! J

Nah, mungkin itulah sedikit ilmu yang dapat ana bagi pada ikhwah fillah –khususnya para ukhti sekalian– kali ini. Bukan untuk menggurui namun semoga dapat menjadi sarana buat kita dalam menjalin ukhuwah Islamiyah dimanapun kita berada. Semoga dapat menjadi ladang amal buat ana serta dapat bermanfaat buat semua. Amin Ya Rabbal ’Alamin ^__________^

Yogyakarta

Isnain, 06 Juli 2009 @ 11.20pm

Juli 10, 2009 Ditulis oleh ukhtiyfillah | Artikel | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | No Comments Yet

Cari Istri Shalihah n Cerdas, Standarnya???

Perhiasan yang paling indah

Bagi seorang abdi Allah

Itulah ia wanita shalihah

Ia menghiasi dunia

(The Fikr : Wanita Shalihah)

ikhwan-n-akhwatWaktu ana log-in di Facebook, ana tanpa sengaja ngebaca “curahan hati” sekaligus doa dari seorang ikhwah (tsaaaa….) yang sengaja beliau tulis di “wall” Facebook miliknya. Beliau bilang pengin cari istri yang shalihah lagi cerdas. Dari situlah tulisan ini terinspirasi (cie….). Permasalahan yang kemudian timbul dan tenggelam dalam benak ana serta akan ana angkat disini adalah berkaitan dengan kata “cerdas” tersebut dan standarisasinya.

Kenapa harus cerdas???

Bukannya sebelumnya ada kata ”shalihah” yang bahkan disebut lebih awal daripada kata cerdas itu sendiri?

Cz ana rasa, semua orang gak akan ada yang berbeda pendapat mengenai standarnya istri yang shalihah itu seperti apa. ”….Maka perempuan-perempuan yang shaleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)….” (QS. An-Nisa’ [04] : 34)

So kembali lagi ke topik awal, C E R D A S. Bagi seorang ikhwan, “Cerdas memilih istri dan memilih istri yang cerdas” adalah PENTING. Kenapa? Ya… gimana gak penting coba. Siapa lagi nantinya yang akan mengurus dan mengatur semua kebutuhan dirinya jika bukan istri yang akan mendampingi hidupnya kelak. Mulai dari mengatur pengeluaran keuangan, menu makanan yang akan dimakan besok, tata letak perabotan rumah tangga hingga merk pasta gigi yang bakal digunakan.Tul gak???

Tapi pasti yang dimaksud ikhwah ana tersebut bukan hanya ”cerdas” yang seperti itu aja. Maka itu beliau pun mendahulukan kata ”shalihah” sebelum menyebutkan doanya berupa anugerah istri yang cerdas. Selain cerdas dalam mengatur urusan intern rumah tangganya sendiri –yang sebagiannya bersifat fisik serta berhubungan dengan hal-hal keduniaan–  istri yang cerdas dituntut agar dapat menyenangkan hati suaminya, bila dilihat ia dapat menyejukkan pandangan mata sang suami (hmmm….). Lebih dari itu ia pun tak lupa dengan fungsinya sebagai da’iyah bagi masyarakat dan orang-orang yang ada disekitarnya. Menyampaikan yang ma’ruf serta mencegah yang munkar. Meski seberapa sibuknya ia dengan urusan rumah tangganya serta besarnya usaha yang ia lakukan dalam menyenangkan hati sang suami tercinta.

Jikalau kelak Allah mengaruniakannya anugerah lagi berupa kehadiran seorang anak yang shalih/shalihah, bukan berarti ada alasan baginya untuk berhenti didalam berdakwah fi sabilillah. Malahan tugas serta amanah yang dibebankan dipundaknya akan bertambah-tambah. Mulai dari memberikan apa-apa yang menjadi kebutuhan dan hak dari sang anak hingga menentukan pendidikan yang terbaik yang akan didapatkan untuknya agar kelak sang anak akan menjadi jundi-jundi penolong agama Allah. Tak kalah berat, ialah yang pertama dan utama yang akan menjadi madrasah membentuk generasi penegak panji Allah dimuka bumi ini. Subhanallah…..

Siapa tu ikhwan yang gak seneng kalo dapet istri kayak gitu???. Pantes aja kalo ikhwah ana tersebut doanya gitu. Doa yang meski terlihat singkat, simpel dan hanya terdiri dari beberapa kata aja, ternyata mengandung banyak makna yang tersirat didalamnya.

Wih….. kayaknya dah makin berat ni topik yang kita bahas. Yah, semoga dengan makin beratnya kata-kata yang ana gunakan tidak mengurangi niat kita dalam belajar serta berusaha agar kelak dapat menjadi istri yang shalihah juga cerdas seperti yang menjadi harapan dari ikhwah ana tersebut n mungkin juga semua ikhwan yang mendamba merasakan citarasa kehidupan surga di dunia ini. ”Dunia adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangannya adalah wanita shalihah”. (HR. Ibnu Maajah)

N buat semua ikhwan yang baca, jangan seneng dulu. Cz kayaknya dari topik yang ana bahas ini yang seneng dari tadi ikhwaaan aja. Kalo antum semua pengin dapet akhwat yang shalihah juga cerdas dalam urusan dunia dan akhirat dirinya, keluarganya serta masyarakatnya, antum sekalian pun harus juga terlebih dahulu menshalihkan dan mencerdaskan diri antum. Kan enak tuh kalo keluarga yang kita bentuk nantinya bakal jadi keluarga yang didalamnya terdiri dari orang-orang shalih/shalihah en juga cerdas memanajemen segala sisi kehidupannya dan lingkungan sekitarnya (tsaaaa…… *diiringi dengan suara hembusan angin kayak  di pilem-pilem india gitu deh ^________* V). ”…..Sedangkan perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…..” (QS. An-Nur [24] : 26)

Juga menyimpulkan apa-apa yang dikatakan oleh ust. Salim A. Fillah dalam bukunya ”Baarakallaahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta” yang sekarang ini lagi ana baca. Secara garis besar ana memberikan kesimpulan bahwa harus ada rasa saling pengertian, rasa saling membutuhkan serta rasa saling menghargai didalam membina jalinan kasih dalam pernikahan. Agar cita-cita pernikahan tersebut, yaitu menggapai ridha Allah serta menjadikannya sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah dapat terwujud (cie….. kayak nyang nulis ni udah pengalaman banget ya dalam membina keluarga yang adil dan sejahtera untuk dunia dan akhirat. Padahal nikah aja belon. Hhehehehe)

Menambahkan, –lagi-lagi seperti apa yang termuat dalam buku ”Barakallahu Laka….”– ”Sifat-sifat penting yang didambakan suami dari istrinya, kata Syaikh Shalih ibn ahmad Al Ghazali dalam Al Qamus fii Maa Yahtaju ilaihil ’Arus, adalah cerdas, sabar dan sederhana. Kecerdasan akan memungkinkannya untuk melihat semua perkara dalam gambaran yang sebenarnya. Kesabaran akan memudahkan dirinya pada setiap waktu sulit dan sempit. Kesederhanaan akan membuat kehidupan rumahtangga berjalan dengan tenang, tertib dan nyaman. Tetapi, sebelum dan sesudah segala sesuatunya, maka agama akan menjadikan dirinya takut dengan murka Allah, yang terkadang bersesuaian dengan kemarahan suaminya…..” Subhanallah.

Akhir kata, semoga mulai dari saat ini, kita-kita –baik yang akan menjadi calon ummahat maupun yang akan menjemput bidadarinya tercinta– dapat mulai belajar bagaimana menjadi seorang yang diharapkan serta dirindukan kehadirannya bagi siapapun calon pasangan hidup kita kelak. Amiiin ya Rabbul ’Alamin.

Hanya Allah yang lebih mengetahui. Wallahu a’lam bish shawwab…….

Yogyakarta

Rabu,  01 Juli 2009 @ 9.28pm

Juli 10, 2009 Ditulis oleh ukhtiyfillah | Artikel | , , , , , , , , , , , , , , , , , | No Comments Yet

Ukhti, ajak aku terbang bersamamu…

780239339mDia sahabatku, saudariku, partner dakwahku, satu di antara “keluarga” kecilku. Selama 2,5 tahun kami bersama dalam satu “lingkaran”, mengakji islam, memperbaiki diri, menjalin ukhuwah dalam bingkai tarbiyah. Tapi setelah rekomposisi itu, aku di”depak” dari lingkarandan kini memilki keluarga yang baru, dengan wajah-wajah baru. Ya, itu memang hal biasa dan wajar terjadi. Sedih? Pasti. 2,5 tahun bukan waktu yang sebentar untuk merangkai kenangan, tak mudah dilupakan. Banyak kenangan manis yang membekas dalam ingatan. Postingan kali ini, ane akan bercerita tentang dia -sahabatku, saudariku, satu di antara “keluarga” kecilku yang dulu- Fitri.

Suatu pagi, kulangkahkan kaki menuju kampus hijauku sambil memburu waktu karena jam sudah menunjukkan angka tujuh (gak biasanya neh telat). Di tengah ketergesaan, Allah mengirimkan seseorang untuk menolongku. Tiba-tiba Fitri sudah berada di depanku dengan sepeda motornya.

“Alhamdulillah…” tanpa basa-basi langsung saja kududuk di belakangnya.

Di perjalanan, aku banyak bercerita tentang ini-itu. Dan dia, entah mengapa, diam saja. Tak seperti biasanya. Aku terus bercerita, sampai akhirnya dia angkat suara,

“Ukhti, aku ingin terbang, tinggiiii sekali!”

Aku menghentikan “ocehan”ku. Terbang? Batinku heran. Koq gak nyambung sama yang kuceritakan ya? Kudongakkan kepala, memandang langit biru yang kala itu dihuni oleh segerombolan awan putih dengan mentari yang tersenyum hangat seolah menyapaku, “selamat pagi”…Ah, cerah sekali hari ini! Subhaanallaah…

“Aku juga ingin terbang ukh..” sambungku. “Aku ingin rihlah ke syurga.” Kali ini kuungkapkan dengan sepenuh hati. Entah mengapa, akhir-akhir ini indahnya syurga memang menggelayuti pikiranku. Kapan aku akan rihlah ke sana ya? Ah, semoga.

“Kadang hidup itu melelahkan ya ukh” masih kataku. Tak ada respon. Sunyi, hanya deru motor yang berbunyi. “Apa anti lelah?” kututup monologku dengan kalimat tanya.

“Sudah sampe ukh.” katanya datar.

“Oh, iya.” Aku segera turun. Kutatap wajahnya, mencari jawaban di matanya. Namun, kosong. Tak kutemukan apapun di sana. Hanya sorot matanya yang menerawang jauuuuuh…entah ke mana.

“Jazaakillah ukhti atas “ojek” gratisnya.” kataku sambil tersenyum.

“Waiyyaki,” balasnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. “Assalaamu’alaykum”. Motor melesat meninggalkanku yang masih diam terpaku.

Kulihat sosoknya yang semakin jauh, jauh, lalu hilang di persimpangan. Kami memang beda fakultas, aku di FBS dan dia FIP.  Ada apa denganmu, ukhti? Segera aku tersadar, aku belum membalas salamnya, “Wa’alaykumsalaam Warahmatullaah Wabarakaatuh,. Semoga Allah selalu memberkahimu ukhti, hari ini, dan di sisa usia anti,” do’aku untuknya. Astaghfirullah….ane telaaaaaaaatttt!!!

Saat kuliah, konsentrasiku pecah. Kalimat singkatnya tadi pagi masih terngiang-ngiang di telinga. “Ukh, aku ingin terbang, tinggiiii sekali!” apa maksudnya? Apa dia benar-benar lelah? Ya, mungkin. Aku tahu akhir-akhir ini dia sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Apalagi sekarang sedang musim-musimnya UTS. Ditambah aktivitas dakwah yang gak ada musimnya, karena dakwah akan terus berjalan sepanjang usia manusia. Intinya, dia sangat sibuk saat ini.

Andai anti tahu ukhti, akupun sama sibuknya dengan anti. Dan tidak hanya qta berdua, masih banyak “pejuang-pejuang” lain yang juga merasakan hal yang sama, bahkan lebih sibuk dari qta. Atau mungkin, kau sedang dilanda masalah yang cukup berat hingga kau benar-benar merasa letih dan penat? Seharusnya kesibukan tak cukup menjadi alasan untuk tidak meluangkan waktu bersama saudara. Ah, ke mana saja aku selama ini?

Kukirim pesan cinta lewat sms untuknya,

“Rabb, kulihat letih di wajah saudariku,
sapulah dengan air syurga yang menyejukkan…
Ya Rabb, kulihat memudar senyumnya,
maka perlihatkan padanya kisah kasih penduduk syurga yang membahagiakan.”

Kutunggu beberapa saat, namun tak ada tanggapan. Kuketik lagi kata-kata cinta selanjutnya,

“Ukhti, anti ingin terbang tinggi kan? Ajaklah aku terbang bersamamu. Malam ini, aku akan menjemputmu. Tunggu aku yaa. Aku akan mengajakmu menjelajah angkasa. Qta akan terbang bersama, tinggi, tinggiii sekali…hingga mencapai puncaknya. Hanya ada aku, kau, dan Dia. Ukh, akhir-akhir ini aku sangat merindukanNya. Rinduuuu sekali…”

Aku tahu, dia takkan membalasnya. Tiba-tiba kurasakan hangat di mataku. Hatiku gerimis…

Malam harinya, tepat jam 2 dini hari, ku miscall HPnya. Nada sibuk yang kudengar. Apa HPnya dinonaktifkan ya? Batinku bertanya. Kukirimkan pesan untuknya,

“Assalaamu’alaykum ukhti chanyank…apa anti dah bangun? Bersiaplah, qta akan segera terbang tinggi, tinggiii sekali. Ambil air wudhu yaaa…Luv u.”

Pesan terkirim. Berarti HPnya aktif. Akupun memiscallnya kembali. Masuk. Beberapa detik kemudian, ganti HPku yang berbunyi. Kulihat layar di ponsel, Fitri. Alhamdulillah, dia merespon panggilanku.

Dan malam itu, terasa begiiiitu indah! Kami menyelami samudera cintaNya,hanyut dalam lautan kasihNya. Lalu kami terbang tinggi menjelajah angkasa, ke ufuk nirwana. Rabb, saksikanlah…ada dua orang hamba yang datang menghadapMu, mengetuk pintu maghfirahMu, berharap dapat berjumpa denganMu…Wahai Dzat Yang Maha Tinggi dan Agung, bukalah pintu RahmatMu….

Keesokan harinya, dia _sahabatku, saudariku, partner dakwahku, satu diantara “keluarga” kecilku- datang menemuiku sambil berkata,

“Jazaakillaah ukhti, sudah menemaniku terbang tinggi.”

Alhamdulillaah…Terima kasih Rabb. Kulihat senyumnya kembali berseri…

—–ooOoo—–

NB: Buat semua UKHTI FILLAH di manapun antunna berada:

Ukhti, aku ingin kau tahu..
Ada
pundak yang bisa kau jadikan sandaran kepalamu,
Ada telinga yang siap mendengar keluh kesahmu dan menampung segala uneg-unegmu,
Ada tangan yang akan membelaimu dan menyeka bulir-bulir air mata yang menetes di pipimu,
Ada lisan yang bisa menghiburmu, memberi senyum manisnya untukmu, dan siap menyumbang solusi jika kau mau,
Ada hati yang telah memberikan cintanya untukmu,
Ukhti, aku mencintaimu…fillah, lillah…

url: http://akhwat-militan.blog.friendster.com

Juli 10, 2009 Ditulis oleh ukhtiyfillah | Cerpen | , , , , , , , , , , , , , , | & Komentar

Berburu Barakah dalam Cantik Sejati

logoMengenaskan dan menjadi sebuah ironi memang, saat sebagian besar kaum wanita –khususnya di negeri kita tercinta ini– yang menjadikan nilai sebuah kecantikan hanya bermakna sebatas kesempurnaan fisik semata. Hanya sebuah keindahan kasat mata belaka yang lambat laun akan sirna dengan bertambahnya usia, meski hal itu tak diinginkan. Hal ini jugalah yang menginspirasi ana yang juga seorang akhwat –insyaallah– agar kita selaku muslimah dapat saling mengingatkan bahwa sesungguhnya kecantikan sejati bukanlah semata-mata cantiknya paras wajah yang jika dilihat akan menarik perhatian banyak orang. Namun kecantikan sejati ialah kecantikan yang berasal dari pancaran cahaya hati yang senantiasa mengingat akan kebesaran Rabb Sang Maha Pencipta kecantikan itu sendiri…… “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13] : 28).

Beberapa tips yang mungkin dapat kita ambil bersama hikmahnya agar kecantikan yang sejati yang terpancar dari dalam hati dapat kita miliki (istilah kerennya sih kata orang-orang inner beauty gitu deh J) insyaallah aka nana ketengahkan disini buat ukhtiy fillah semuanya (bisa juga diterapkan buat para ikhwan agar menambah aura kebijaksanaannya, *piss ;-) )

1. Percantik diri dengan ilmu agama

muslimahmengaji1“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah [58] : 11). Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda: ”Barangsiapa yang menempuh perjalanan dengan tujuan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan jalan kesurga baginya.” (HR. Muslim). Begitu banyak keutamaan orang-orang yang menuntut ilmu, hingga hadist-hadist Rasulullah pun banyak banget yang ngebahas tentang masalah ini. Pengin cantik? Yuk thalabul ’ilmi sama-sama…..

2. Menjalankan fardhu dan sunnah

Amal-amal yang termasuk wajib kita laksanakan diantaranya adalah: shalat wajib lima waktu; mulai dari subuh, zhuhur, asar, maghrib sampe isya. Terus puasa Ramadhan (Alaa kulli haal bentar lagi dah mo Ramadhan nih. Dah siap-siap belum buat nyambut bulan mulia ini? Insyaallah mengenai tema persiapan Ramadhan ini bakal kita bahas pada artikel ana yang selanjutnya. Ditungguin ya ukh ^__________^), selanjutnya adalah bayar zakat n naik haji kalo udah memiliki kemampuan untuk itu. Kalo buat amalan sunnah, wiiiihhh banyak banget tuh macemnya. Gak bakal muat kalo mo dibahas satu-satu disini. Mulai dari sunnah mu’akkad atau sunnah yang sangat dianjurkan sampe sunnah ghairu mu’akkad pun ada. Ana sebutin contohnya aja ya. Yang mu’akkad, misalnya aja tilawah Qur’an tiap abis shalat fardhu (keutamaannya insyaallah akan dijabarkan di point selanjutnya), qiyamullail, baca al-ma’tsurat (amalan dzikir pagi dan petang) dan laen-laen yang buanyaaaaaaaaak banget. Ehhmm, gimana gak cantik tuh kalo tiap kegiatan yang kita lakukan orientasinya adalah ibadah….

3. Tilawah Al-Qur’an

al-quranAl-Qur’an itu merupakan kitab yang gak ada seorangpun makhluk di dunia ini yang mampu menandinginya. Ia adalah kitab yang memiliki berbagai fungsi bagi siapa yang mempelajarinya. Misalnya aja sebagai kitab ilmu pengetahuan, kitab penyembuh serta kitab petunjuk. Liat deh Al-Qur’an surat Yunus [10] : 57 ini dan renungi maknanya, ” Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” Rasulullah pun ngasih tau kita berbagai keutamaan apa aja yang bakal kita dapetin kalo kita senantiasa rajin baca Al-Qur’an. Dalam hadist-nya yang diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu beliau bersabda: ”Bacalah Al-Qur’an, sebab kelak pada hari Kiamat dia akan datang memberikan syafa’at kepada pembacanya.” (HR. Muslim). Keutamaan lainnya adalah; setiap huruf dinilai satu kebaikan dan dibalas sepuluh kali lipat, Allah akan mengangkat derajat orang yang membacanya, yang mahir membacanya akan berkumpul bersama-sama para malaikat yang mulia dan taat, bahkan bagi antunna yang masih kesulitan ngebacanya pun Allah masih memberikan dua pahala. Subhanallah. Begitu luas rahmat Allah untuk kita.

Hanya menambahkan, orang-orang kafir yang hatinya selalu diliputi kebencian terhadap kitab mulia ini senantiasa berkata –dengan tujuan untuk menyebarkan fitnah dan menggoyahkan keyakinan orang-orang muslim yang imannya gak kokoh– bahwa Al-Qur’an ini semata-mata hanyalah karangan dari Rasulullah saja. Nah buat ngebantah perkataan mereka ini, Al-Qur’an sendiripun telah menyediakan jawabannya bagi kita. Kasih liat aja sama mereka dua surat Al-Qur’an dari QS. Ar-Rahman [55] : 19-21 dan QS. Al-An’aam [06] : 125. “Dia (Allah) mengalirkan dua (macam) laut (air tawar dan air asin) bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampauinya (sehingga keduanya tidak bercampur). Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?.” (. Ar-Rahman [55] : 19-21), Argumentasi yang bisa kita berikan : Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sekolah, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Bagaimana mungkin beliau bisa tahu (kalau bukan dari Allah) bahwa bila air asin dan air tawar bertemu, maka keduanya tidak akan bercampur, atau tidak terjadi osmosis? Apalagi sejak dulu tanah Arab miskin air. Sanggupkah seorang yang tidak sekolah, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis, mengarang ayat dengan kandungan ilmiah yang baru bisa diketahui oleh para ilmuwan setelah lebih dari seribu tahun kemudian?. Subhanallah…. Kemudian pada surat yang kedua, “Maka barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (tetap dalam) kesesatan, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki (naik) ke langit.” (QS. Al-An’aam [06] : 125). Penjelasannya : Bagaimana mungkin Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bisa tahu (kalau bukan dari Allah) bahwa apabila manusia naik ke langit (ke angkasa), maka dadanya akan sempit dan sesak, karena tidak ada oksigen? Apakah beliau pernah menjadi astronot?. Wallahu a’lam bish shawwab, hanya Allah yang lebih mengetahui.

4. Zikrullah

Artinya adalah mengingat Allah, merenungi ciptaanNya serta senantiasa bertasbih terhadap keindahan yang diperlihatkanNya untuk kita. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran [03] : 190 – 191). Hal ini bisa menjadikan hati kita cantik lho, ketimbang kita memikirkan hal-hal yang gak bermanfaat apalagi hal yang mengajak kita untuk bermaksiat kepada Allah.

5. Qiyamullail

Selain untuk memenuhi perintah Allah (”Dan pada sebagian malam hari bertahajjudlah kalian sebagai satu ibadah tambahan bagimu, niscaya Rabbmu mengangkatmu ke maqam yang terpuji.” (QS. Al-Israa’ [17] : 79)) dan juga mengikuti petunjuk dari Rasulullah (”Wahai manusia, sebar luaskanlah salam, sambunglah silaturahmi, berikan makanan, dan shalatlah malam ketika manusia tertidur. Niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat” (HR. Tirmidzi)), qiyamullail juga ternyata dapat menyehatkan badan dan akhirnya dapat membuat inner beauty kita terpancar.pbnp4aVc13

Menurut penelitian, ternyata tidur yang efektif itu bukan tidur yang sampe berjam-jam. Terus, kalo buat pencernaan, ternyata jam-jam yang katanya Rasulullah adalah sepertiga malam terakhir, adalah waktu dimana pencernaan kita lagi giat-giatnya melakukan proses. So kalo kita bangun sekitar jam-jam segitu (2.30-4.00am) maka akan membuat pencernaan kita jadi lancar. Gak bakal ada lagi yang namanya sembelit dan yang sejenisnya. Jadi tunggu apa lagi???

6. Menjaga pergaulan

120009125lKurang lebih sekitar 75% faktor yang mempengaruhi pembentukan diri –kepribadian– kita berasal dari lingkungan. Maka lingkungan yang baik akan mampu membuat diri dan pribadi kita berkembang menjadi baik pula. Pun sebaliknya, lingkungan dan pergaulan yang buruk akan menciptakan kepribadian yang gak baik pula pada diri kita. Banyak remaja yang terjerumus kepada (afwan) free sex atau menggunakan narkotika akibat salah memilih teman gaul. Jadi menjaga pergaulan dan berteman dengan orang-orang yang baik agamanya perlu kita lakukan agar kita senantiasa terlindung sama yang namanya maksiat kepada Allah, apapun bentuknya. Kalo kita berteman sama penjual parfum pastilah kita bakal kecipratan wanginya. Tapi kalo kita berteman sama pandai besi pasti suatu saat kita bakal kecipratan sama bunga apinya. Gitu kira-kira perkataan yang pernah diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi bukan berarti kita jadi gak mau sama sekali buat gaul ama mereka (orang-orang yang belum paham tentang agama Islam). Malahan kita wajib buat deket dengan mereka dengan tujuan buat di da’wahi –dengan nasihat dan hikmah. Kita gaul dengan mereka buat mewarnai, bukan untuk terwarnai. Itu yang perlu menjadi catatan. Meski kita yakin kita bakal mampu gaul dengan mereka dan gak akan terwarnai dengan cara-cara gaulnya mereka, tapi kita tetep perlu hati-hati cz pintu-pintu syaithan itu gak terhitung jumlahnya. So buat mengantisipasi hal yang gak diinginkan terjadi, ada baiknya kita selalu minta dipantau oleh saudara-saudara se-liqa’at atau yang satu LDK dengan kita, biar ada yang tetep ngingetin kalo sikap kita melenceng dikit dari jalur. ”Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-’Asr [103] : 01-03). Gitu…..

7. Taubat dan istighfar

Salah satu karakteristik seorang muslimah sebagai hamba Allah ialah selalu berusaha untuk memperbarui taubatnya serta sesering mungkin untuk beristighfar memohon ampun kepada Allah terhadap semua dosa dan kesalahan yang dilakukan. Jangan anggap remeh setiap kesalahan kecil yang kita lakukan. Kalo hal kayak gitu dibiarkan terus berlanjut, lama-lama berbagai dosa kecil yang kita lakukan numpuk terus menerus dan akhirnya menjadi sekumpulan dosa yang buanyaaaaak yang bakal ngeberatin kita sendiri di Yaumul Akhir kelak. Na’udzubillah….. Contoh dosa kecil yang sering kita anggap remeh misalnya tentang masalah bersuci setelah hadast kecil. Ala kadarnya aja, yang penting udah disiram pake air. Malah kebanyakan dari kaum ikhwan yang punya kebiasaan buruk pipis sambil berdiri, setelahnya gak disiram lagi. Langsung aja ngabur. Padahal thaharah yang gak bersih tuh bisa nyebab-in kita terkena siksa kubur nantinya. Makanya bagi yang baru tau, cepet-cepet taubat n janji gak akan mengulanginya lagi. Semoga Allah mengampuni (doain ana juga ya….)

8. Jangan remehkan setiap kebaikan

963692691lSeperti halnya dosa kecil yang senantiasa kita remehkan akan membawa kita pada keburukan, begitupun dengan setiap kebaikan –meskipun dalam pandangan manusia dianggap kecil– akan membawa kebaikan pula bagi orang yang melakukannya. Simak deh firman Allah berikut ini: ”Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Az-Zilzal [99] : 07-08). Menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan yang bisa menyebabkan celaka orang yang melewatinya pun dihitung sebagai satu kebaikan yang berpahala di sisi Allah lho. Tentunya kalo niat kita ikhlas semata-mata mengharap ridhaNya. Amiin.

9. Berakhlakul karimah

Wanita yang shalihah akan senantiasa menjaga akhlaknya agar tetap terpuji. Beberapa pilar-pilar untuk mewujudkan kemuliaan akhlak didalam diri kita diantaranya adalah :Smile

a. Jujur ter-percaya, ”….dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj [22] : 30). Salah satu sikap Rasulullah –yang bahkan diakui oleh para kafir Quraisy– adalah Al-Amin yang artinya dapat dipercaya. Rasulullah aja yang udah jelas-jelas dapet jaminan diampuni dosa-dosanya oleh Allah baik yang sudah maupun yang belum beliau lakukan enggan buat berkata dusta dan senantiasa untuk berlaku jujur, lhah kita?

b. Ramah dan lemah lembut. Keramahan adalah tahap awal kemuliaan akhlak karena ia (keramahan) merupakan kunci kemuliaan hati, tanda kesabaran dan kesanggupan mengendalikan diri menghadapi aneka prilaku orang lain, serta merupakan indikasi melimpahnya rasa kasih sayang pada diri orang yang senantiasa bersikap ramah dan lemah lembut dan kemampuan untuk menghormati orang lain. Nyatalah bahwa wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia jika sifat-sifat ini terus tersemat dan ada pada dirinya.

c. Senantiasa berjiwa lapang dada. Caranya; persiapkan mental menghadapi orang yang kurang menyenangkan atau bahkan yang meremehkan kita, belajarlah memaklumi dan memahami latar belakang setiap orang, berbaik sangka terhadap orang lain semata-mata karena Allah, terakhir, mengalah lebih baik jika sekiranya akan mengakibatkan kemudharatan jika kita berlaku yang selain itu, kata Rasulullah : ”Aku menjaminkan rumah di surga untuk orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia benar.” (HR. Muslim). Daripada berdebat yang gak jelas mending diem n dapet doorprise rumah di surga, ehhhmmm J

10. Berdoa

imagesPoint terakhir agar dapat meraih pancaran cantik dari dalam diri adalah berdoa. Karena sesungguhnya Allah sangat menyukai hamba-hambaNya yang senantiasa meminta hanya kepadaNya. “Dan Rabb kalian berfirman: ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan do’a kalian….’” (QS. Ghaafir [40] : 60). Malahan orang yang enggan berdoalah yang dimurkai oleh Allah karena orang tersebut seolah-olah telah berlaku sombong dan tidak membutuhkan lagi pertolongan dari Allah. Beda dengan manusia yang bakal marah kalo dimintai terus menerus –karena emang Shifat Allah berbeda dengan makhlukNya– Mahasuci Allah.

Wallahu a’lam bish shawwab. Hanya kepada Allah Ta’ala segala ilmu berpangkal.

Nah selesai sudah pembahasan kita mengenai tips-tips buat mempercantik hati. Sekarang –yang hanya merupakan tambahan biar ceritanya lebih afdhal gitu– sedikit tips bakal ana sajikan agar kita –para akhawat– bisa terlihat cantik secara lahiriyah (tapi tetep harus jaga niat lho. Jangan sampe tips-tips ini diterapkan buat menarik perhatian, apalagi terhadap lawan jenis. Jangan terjebak ama yang namanya tabaruj. Tar barakah yang udah capek-capek kita cari dengan point-point diatas jadi luntur seketika deh gara-gara salah niat. Setuju ukh?).

1. Wudhu’, selain merupakan syarat sahnya shalat, wudhu’ juga mampu mengembalikan kesegaran terutama pada kulit wajah yang seharian panas terbakar sinar matahari. Terbukti juga secara ilmiah bahwa terapi air sangat efektif buat peremajaan kulit. Nah, segera wudhu’!. Beberapa lagi keutamaan wudhu’ menurut Rasulullah diantaranya, ”Barang siapa yang berwudhu’ secara sempurna, maka dosa-dosanya akan gugur dari jasadnya hingga keluar juga dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim), ”Kemilu cahaya seorang mukmin (kelak pada hari Kiamat) sesuai dengan batas basuhan wudhu’nya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu). Di hari Kiamat aja –yang matahari cuma sejengkal jaraknya dari kepala– kita-kita yang rajin wudhu’ pada bercahaya, apalagi di dunia yang jarak mataharinya jauuuuuh banget!!!

2. fruit-markedUsahakan gunakan bahan-bahan yang alami kalo ada masalah pada kulit, misalnya buat antunna yang mudah banget jerawatan, silahkan maskeran pake parutan wortel yang dikasih perasan air jeruk nipis. Kalo udah kering bilas pake air anget n bilas lagi pake air biasa. Rasanya segeeeer banget. Ana pernah buktiin sendiri lho pas masih jaman-jaman SMP dulu :-D . Buat yang kantung matanya item gara-gara kurang tidur (maklum sibukers ;-) ), coba deh pake irisan melintang mentimun yang ditempelin dimata. Terus rileks-in pikiran (kalo perlu sambil al-ma’tsurat-an, atau ngukangin hapalan), ehmmm, rasanya Subhanallah…. Buat ngencengin kulit wajah, pake ramuan kuning telur plus madu yang dimaskerin diwajah. Tunggu sampe kering bilas air anget n lanjuti dengn air biasa. Buat yang wajahnya berminyak bisa maskeran dengan air jeruk nipis sama bulir-bulirnya. Insyaallah bakal ngurangin kadar minyak diwajah tuh. Kalo yang kulit wajahnya cenderung kering, agar bisa lebih lembab, maskeran aja pake ampas tomat. Nah ternyata berbagai bahan alami buat berbagai masalah kulit –khususnya wajah– udah tersedia disekitar kita. Tergantung kitanya aja yang mau atau enggak buat mengambil manfaatnya.

3. wardah-kosmetika-halalKalopun terpaksa buat gunain kosmetik-kosmetik buatan, liat label halalnya n usahakan masih terkandung bahan-bahan alami didalamnya. Beberapa merk kosmetik yang insyaallah aman dipake buat kita-kita (muslimah) n gak dikhawatirkan bakal mengurangi nilai ibadah kita (cz gak menggunakan bahan yang najis, misalnya lemak babi) antara lain Wardah n produk-produk kosmetik produksi MQ. Tapi sekali lagi pemakaian kosmetik jenis ini cuma buat pendukung aja lho. Kalo menurut ana pribadi, masih efektif dengan air wudhu’ (n lebih hemat lagi….)

4. Makan makanan bergizi buat mendukung semua usaha yang kita lakukan. Misalnya makanan dengan sayuran hijau, makanan yang mengandung gizi seimbang; ada protein, vitamin, mineral, karbohidrat, lemak dan serat didalamnya. Gak mesti mahal buat dapetin menu dengan gizi seimbang gini. Sebagai contoh, nasi, tempe, bening bayam plus pepaya buat cuci mulut dah lengkap banget gizinya. Malahan makanan cepat saji (fast food bahasa kerennya) yang dijual kebanyakan itu yang malah kandungan gizinya gak seimbang. Paling cuma ada karbohidrat n lemak yang berlebih aja didalamnya. Daripada mahal-mahal ngeluarin uang cuma buat keren-kerenan makan di restoran cepat saji, mending belanja ke pasar n masak bareng ama temen satu kost. Terus sisa uangnya bisa buat infaq kemasjid deket kost-an. Itung-itung masak bareng bisa buat mengeratkan ukhuwah juga lho ^___________*

5. Kasih asupan suplemen buat nambah kebugaran fisik dari dalam. Kalo mo ngikutin sunnahnya qudwah kita, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam konsumsi aja Habbatus Saudah (Jintan Hitam/Nigella sativa) dua kali sehari tiap pagi dan petang. Udah banyak dijual dalam bentuk kapsul atau cair kok. Jadi gak perlu repot-repot nyari jintan hitam di pasar. Tubuh sehat dan insyaallah barakah di dapat cz kita mengikuti sunnah RasulNya J

Nah insyaallah ini dulu tips yang bisa ana kasih ke ukhtiy fillah semuanya.

J Selamat mencoba, semoga bermanfaat J

Yogyakarta

Rabu 08 Juli 2009 @ 8.05pm

Juli 10, 2009 Ditulis oleh ukhtiyfillah | Artikel | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | No Comments Yet

Persiapan Menjelang Ramadhan

Ramadhan segera tiba. Dah pada melakukan persiapan belum? Udah pada tau kan bahwasannya pada bulan Ramadhan, pahala yang sunnah dihitung layaknya pahala wajib. Sedangka pahala wajib sendiri nilainya berlipat ganda menjadi tujuh puluh kali lipatnya dibanding pada bulan-bulan biasa. Nah biar ibadah kita di bulan mulia ini mendapat hasil yang optimal serta menambah keberkahan di sisi Allah, ada baiknya simak beberapa tips dibawah ini

Sedikitnya ada dua hal yang perlu dipersiapkan oleh kita guna menyambut bulan Ramadhan. Hal-hal tersebut antara lain :

1. Persiapan Pribadi

Kita –sebagai orang yang akan menjalankan ibadah dibulan ini– tentunya harus melakukan persiapan dari diri pribadi terlebih dahulu sebelum menyiapkan yang lainnya. Masing-masing waktu yang terlewati pastinya punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Sehingga persiapan pribadi yang berkesinambungan beberapa bulan sebelum datangnya Ramadhan perlu dilakukan agar kita mampu menghasilkan lebih banyak kelebihan (hal-hal yang bermanfaat) serta menghindari berbagai kekurangan yang dapat mengurangi nilai tambah kita dalam beribadah.

a. Ruhiyah

- Melatih diri dengan berpuasa sunnah. Tujuannya ya agar kita –terutama pencernaan– gak kaget lagi karena kebiasaan dan pola makan yang berubah secara drastis. Hal ini terkat juga dengan persiapan jasadi yang insyaallah akan kita bahas pada point selanjutnya. Gak ada lagi istilah teler dihari pertama puasa (kayak orang mabuk aja pake teler-teler-an segala). Hal ini juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. Sehingga latihan kita ini pun insyaallah mendapat pahala ibadah sunnah. Sebelum bulan Ramadhan –yaitu Sya’ban, beliau berpuasa selama sebulan penuh atau sedikit aja yang enggak. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah Radiyallahu anha, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah berpuasa di luar bulan Ramadhan yang lebih banyak daripada yang beliau kerjakan pada bulan Sya’ban. Sungguh beliau berpuasa pada bulan Sya’ban sebulan penuh.” Dalam riwayat lainnya disebutkan: “Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban, kecuali hanya sedikit saja yang beliau tidak berpuasa padanya.”

- Saling memaafkan pada sesama ikhwah. Kebanyakan orang sering salah persepsi dan beranggapan moment yang paling tepat untuk saling memaafkan tuh adalah pas Idul Fitri. Padahal saat-saat menjelang Ramadhanlah yang mestinya kita manfaatkan untuk saling memaafkan dan mengakrabkan diri kembali kepada semua orang yang pernah kita sakiti hatinya –sengaja ataupun tidak. Indahnya beribadah ketika keridhaan saudara kita sesama ikhwah telah kita dapatkan.

- Meningkatkan ibadah-ibadah Sunnah. Agar pas Ramadhan kita jadi tambah semangat buat menjalankan ibadah-ibadah tersebut. Secara, pahalanya berlipat-lipat bo’…… Tapi jangan cuma untuk ngarepin ibadah aja, orientasikan ibadah-ibadah yang kita kerjakan semata hanya untuk Allah. Insyaallah bakal lebih barakah.

b. Fikriyah

- Banyak membaca buku tentang keutamaan Ramadhan serta hal-hal yang berkaitan tentang ibadah pada bulan tersebut. Meskipun sejak SD kita udah diajarin tentang fiqih seputar Ramadhan, gak ada salahnya kalo kita mengulangi mempelajarinya. Agar ingatan kita jadi ter-up date dan menambah ke-optimalan nilai ibadah kita nantinya. Gak ada ruginya kok ;-)

- Gak ada salahnya kalo kita saling berkirim ucapan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan kepada sesama ikhwah. Itung-itung untuk mempererat ukhuwah yang selama ini sempat renggang. Lagian sarana informasi yang makin lengkap aja sekarang, membuat kita makin mudah untuk saling berkomunikasi, dekat maupun jauh. Ada SMS, telepon, email, ataupun di facebook. Selama ada niat pasti bakal banyak jalan yang bisa ditempuh

c. Jasadi

Fisik kita merupakan satu komponen penting untuk menjalankan ibadah di bulan mulia ini. Maka menjaga kesehatan pra dan saat Ramadhan harus dilakukan jika kita gak ingin kegiatan kita beribadah jadi terganggu. Ada banyak cara yang bisa ditempuh. Misalnya aja jangan telat makan. Kalo antunna udah pada mulai latihan shaum sunnah, jangan pernah nunda-nunda buat berbuka. Bukan cuma karena alasan kesehatan namun hal ini juga terkait sama perintah Rasulullah Shallallu ’Alaihi wa Sallam, dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu: ”Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mau menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari-Muslim). Selain itu selalu biasakan buat makan-makanan sehat dengan gizi seimbang. Terutama buat yang nge-kost. Kan sering tuh, gara-gara males buat masak akhirnya mie instan-lah yang jadi pilihan. Makanan dengan gizi seimbang tuh ternyata gak hanya baik buat kesehatan tapi juga baik buat kecantikan. Kok bisa? Baca deh artikel ini (Berburu Barakah dalam Cantik Sejati)

d. Akhlaki

Meskipun bukan dibulan Ramadhan akhlak kita seharusnya harus tetap dijaga. Namun ketika akan mendekati bulan ini, ada baiknya kalo kita lebih mengintrospeksi diri lagi. Iman Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menyatakan bahwa puasa itu adalah menjaga kepala dan yang ada dibawahnya (mulut), menjaga perut dan yang ada dibawahnya (syahwat) serta selalu mengingat mati. Beberapa point yang termasuk persiapan akhlaki diantaranya adalah :

- Menjaga lisan dan perkataan dari yang bathil dan tidak bermanfaat. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: ”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim). Semoga ana pun mampu untuk selalu menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat. Perlu menjadi catatan, lisan disini bukan saja ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita namun juga apa-apa yang keluar dari dalam hati kita meski tak terucap melalui mulut. Bisa aja tulisan-tulisan di SMS, email, facebook, blog ataupun media-media lainnya. Jadi selain menjaga lisan, utamanya kita juga harus menjaga hati dari pikiran-pikiran yang gak bermanfaat

- Menjaga penglihatan. Dalilnya ada pada Al-Qur’an surat An-Nuur [24] ayat 30-31, “Katakanlah kepada laki-laki beriman, agar mereka menjaga pandangannya,…. Dan katakanlah kepada para perempuan beriman, agar mereka mereka menjaga pandangannya…..” Sekelumit akibat yang akan terjadi seandainya kita gak mampu menahan pandangan adalah rusaknya hati, terancam jatuh kepada zina, bisa melupakan ilmu, turunnya bala’, merusak sebagian amal serta menambah kelalaian kita terhadap mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir. Na’udzubillah. Serem pisan euy…

- Menjaga pendengaran dari yang bathil dan yang melenakan. Misalnya musik dan lagu yang membuat kita lupa pada Allah. Kalopun pengin denger lagu, pilihlah lagu-lagu yang gak dikhawatirkan bakal membuat kita lupa pada Allah. Misalnya aja nasyid. Namun itupun jangan keseringan karena masih jauh lebih baik berdzikir dengan kalimat-kalimat yang pernah diajarkan oleh Rasulullah seperti; Subhanallah wal Hamdulillah wa Laa ilaa ha illallahu wa Allahu akbar dan lain sebagainya. Rasulullah bersabda, ”Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera (untuk laki-laki), minuman keras dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari-Abu Dawud). Beruntunglah ana ketika masih ada ikhwah yang mau mengingatkan ana tentang hal ini. Jazakumullah ya

- Tidak memperbanyak mengkonsumsi makanan ketika berbuka. Karena hal ini sama aja dengan menzhalimi diri sendiri. Pencernaan kita bakal kaget ketika dengan tiba-tiba dimasuki makanan yang banyak. Akhirnya ibadah pun menjadi berat. Hal itu juga menunjukkan kalo kita ternyata belum mampu untuk menahan nafsu.

e. Materi

Point ini dimasukkan sebagai salah satu upaya kita dalam meningkatkan amal kita berupa shadaqah. Biar gak jadi memberatkan, mulai nabung dari sekarang gak masalah. Asal jangan karena ingin shadaqah ketika bulan Ramadhan, pas ada orang yang memerlukan bantuan kita saat ni, kita malah enggan buat ngasih uluran tangan dan sedikit bantuan. Hal itu gak dibenarkan. Shadaqah itu dianjurkan dimana aja dan kapan aja selagi kita mampu memberi. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadanya: ”….. Sungguh, tidaklah engkau menginfaqkan sesuatu dengan tujuan mencari ridha Allah, melainkan engkau akan mendapat pahala karenanya, bahkan makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu sekalipun.” (HR. Bukhari-Muslim).

2. Persiapan Lingkungan

Lingkungan merupakan faktor pendukung terciptanya kenyamanan dalam beribadah. Lingkungan yang kondusif serta mampu memberikan suasana yang mendukung untuk kita beribadah sangat diperlukan. Untuk itu lingkunga dimana kita sering melakukan kegiatan padanya perlu diberikan pembenahan-pembenahan yang sesuai. Misalnya;

a. Lingkungan Rumah, karena rumah merupakan salah stau nikmat Allah yang wajib kita syukuri keberadaannya. Dan juga sebagian besar waktu kita kebanyakan kita habiskan di rumah. Sehingga patut menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif dirumah. Agar terwujud apa yang disebut baiti jannati (rumahku syurgaku). So Sweet . Bisa juga dengan mengubah tata letak perabotan dirumah biar tampilannya terlihat lebih baru.

b. Tetangga, karena merupakan orang terdekat yang berada dengan kita maka tetangga kita wajib kita ajak untuk sama-sama melakukan persiapan saat menjelang Ramadhan. Bisa juga kita jadikan sebagai partner kita dalam berda’wah. Gak ada salahnya menjelang Ramadhan kita sama-sama dengan para tetangga buat kajian yang membahas tentang keutamaan Ramadhan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Menjlinkeakraban yang lebih dengan tetangga dalam rangka da’wah serta dalam rangka menyambut Ramadhan adalah sebuah tindakan yang baik.

c. Tempat ibadah, kalo dirumah kita ada ruangan khusus untuk melaksanakan shalat, baik juga kalo kita kembali merapikannya bareng keluarga. Biar lebih nyaman dan ibadah pun makin sempurna. Kalopun dirumah kita gak ada mushalla khusus, mushalla atau masjid dikampung maupun di sekolah atau dikampus kita juga gak masalah kalo kita mau ngeberesinnya bareng tetangga atau temen-temen. Asik tuh kerja bakti rame-rame nyambut Ramadhan.

d. Tempat kerja atau sekolah perlu juga kita buat agar mendukung sepenuhnya persiapan kita menyambut Ramadhan. Masang spanduk atau pamflet dengan tulisan ”Marhaban Yaa Ramadhan” di situ plus bagi-bagi stiker kesemua ikhwah akan membuat Ramadhan kita kali ini lebih bermakna insyaallah.

Nah mungkin ini dulu sedikit tips (lagi-lagi tips )dari ana untuk menyambut Ramadhan agar lebih semarak. Semoga barakah…. Wallahu a’lam bish shawwab.

Juli 9, 2009 Ditulis oleh ukhtiyfillah | Artikel | , , , , , , , , , | & Komentar

Syair Diri

Jikalau kuntum-kuntum bunga melihat

maka merekapun pasti kan berbangga dan berkata kepada sesama mereka

Aduhai, ternyata kita masih jauh lebih indah dibanding akhlak manusia ini”

 

Tatkala lebah mengetahui

Tentulah mereka kan berbisik

Ternyata kaumku tercipta lebih pandai mengumpulkan ribuan tetes madu yang manis dibanding pandainya manusia ini dalam mengumpulkan sebuah demi sebuah kata yang manis untuk di dengarkan oleh qalbu-qalbu manusia”

 

Saat semut menyaksikan

Pastilah ia kan berucap

Ternyata usaha yang kulakukan masih jauh lebih keras dibandingkan usaha yang dilakukan manusia ini dalam memperbaiki diri”

 

Lantas apa yang dapat kita banggakan dari diri yang lemah ini.

Bahkan pada sekuntum bunga, seekor lebah atau seekor semutpun tak pantas kita untuk berbangga….

 

Tak malukah kita ketika tau bunga yang terlihat tak berdaya itupun masih dapat berbangga diri atas kurangnya keindahan akhlak kita?

Tak malukah kita saat mendengar bisik-bisik dari gerombolan lebah yang jauh lebih mampu mengumpulkan madu yang manis dibanding kita yang sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata yang manis untuk saudara-saudara kita yang mendengar?

Tak malukah kita saat tau bahwa semut melihat begitu enggannya kita dalam perbaikan diri padahal kita tau alangkah banyak kurangnya diri ini?

 

logoYa Rabbi…..

Berikan kepada kami kemampuan untuk meneladani RasulMu Muhammad Shallallahu ’Alaihi wa Sallam dalam memperindahkan akhlak kami, dalam melembutkan lisan kami serta kemampuan dalam usaha kami untuk memperbaiki diri…..

 

Yogyakarta

Jum’at, 03 Juli 2009 @ 9.28pm

Juli 9, 2009 Ditulis oleh ukhtiyfillah | Puisi | , , , , , , , , , , , , , , | No Comments Yet

Cinta yang Hakiki, Bukan Cinta ama yang Namanya Hakiki ^______*

Sesungguhnya, kekuatan yang hakiki ada pada cinta. Ingatlah Allah menciptakan dunia seisinya --termasuk manusia– dengan satu kata, cinta. Gunakanlah cinta untuk semangat jihad. Gunakanlah cinta sebagai bahasa universal amar ma’ruf nahi munkar. Bersedihlah kalian jika ketika melihat kebatilan kalian justru membiarkannya demi nama cinta. Cinta yang benar adalah, luruskan kebatilan tersebut dengan kekuasaanmu, dengan lisanmu, hingga dengan batin cintamu.
________________________________________________________________________


Serius banget tulisannya???

Ya, tulisan ini ana kutip dari sebuah buku tentang keutamaan para shahabiyah Radhiyallahu anhuma di zaman Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. Ana sangat tersentuh setelah membaca penggalan kalimat diatas. Karena ketika kita melihat realita tentang cinta zaman sekarang, begitu banyak– bahkan dapat dibilang sebagian besar– dari mereka yang menyalahgunakan makna dari cinta yang sebenarnya…..

Padahal sesungguhnya ada satu cinta yang hampir-hampir atau bahkan telah kita lupakan. Padahal (padahalnya sekali lagi) cinta inilah yang telah memberikan semuanya. Tak ada satupun keinginan kita yang tidak akan tidak dikabulkan tatkala kita meminta kepadaNya.

Ketika ana sedang ada pada perkuliahan dikampus tercinta, ana mendapatkan sebuah kata-kata bijak dari dosen yang saat itu memberikan materi perkuliahan,
Setiap kenikmatan yang tidak menjadikan diri seseorang dekat kepada Allah, maka akan menjadi siksaan. Sebaliknya, yang menjadikan nikmat itu kekal adalah bila kita bersyukur dan taat pada Allah.

Disini, ana akan coba-coba menarik-narik eh, menarik sebuah kesimpulan yaitu nikmat apapun itu –tak terkecuali nikmat cinta– jika kita tak mensyukuri tentang keberadaannya maka Allah dengan janjiNya,  “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.” (QS. Ibrahim[14] : 07) niscaya tidak akan segan-segan untuk mencabut indahnya cinta dari diri kita.

Ih syereeeeem…….
Bayangin aja ketika cinta yang pada awalnya sangat kita puja-puja n kita bangga-banggain tiba-tiba jadi bumerang buat kita sendiri maupun orang-orang terdekat kita.
Pasti gak akan ada seorang makhluk pun didunia ini yang mau begitu. Tapi meski begitu bejibun contoh di dunia nyata ini yang bisa kita saksikan langsung.

Misalnya aja nih, dua orang remaja n remaji yang saling cinta (katanya….) mau ngelakuin apa aja demi menunjukkan rasa kesetiaannya pada sang kekasih.Kayak katanya Ungu nih
Berikan aku ….. pertamamu
Agar ku yakin kau memanglah milikku…….
(afwan, kata-katanya di sensor. Gak masuk dalam kriteria kata-kata yang ahsan buat konteks ini). Abis gitu, cz bisikan setan n dorongan nafsu akhirnya terjadilah……… dorrrr!!!. Siapa yang bisa menjamin kalo setan gak bakalan ngebisik n merasuk dihati kita?

Apa itu yang dinamakan cinta??? Gara-gara sebuah pembuktian akan kesejatian cinta yang gak sejati itu, endingnya sepasang ‘kekasih’ tersebut –khususnya si remaji– bakalan ngalamin yang namanya madesu alias Masa Depan Suram!!!. Bener gak sih???

Terus lagi, ketika seorang ayah yang katanya sangat mencintai keluarganya rela mencari uang dengan cara apa aja buat ngebahagiain keluarga tercinta. Gak terkecuali dengan cara-cara gak halal misalnya aja dengan korupsi.
Ih, tuh bapak kok tega amat yak ngasih keluarga– yang katanya sangat dicintainya itu– dengan uang yang gak jelas juntrungannya gitu!!!

Balik ketopik, maka cinta yang hakiki itu adalah tatkala kita ketika mencintai seseorang atau apapun, dimana hal tersebut bakal dapat ngebawa kita lebih dekat dan lebih mencintai Sang Pencipta cinta, Allah Azza wa Jalla…….

Semoga cinta yang kita miliki sekarang dapat membawa kita pada kehakikian cinta yang sesungguhnya.Amiiiiin…….(koor sama-sama!!!)

Terakhir, ana bakal ngelampirin sebuah lagu nasyid yang isinya mungkin sesuai dengan tema postingan ane kali ini. Semoga lagu ini bakal mampu menaikkan ghirah kita –khususnya ana sendiri– untuk lebih mencintaNya lebih dari apapun. KumencintaiMu lebih dari apapun…. (Lho kok nyanyiin lagu ungu lagi sih??? ^__________* V)

Cinta Dunia

Ku sadari kelemahan diri
Terpedaya cinta dunia ini
Penuh dosa yang telah terhina
Diri ini telalu jauh dariNya

Duhai Rabbi selamatkan kami
Yang tak mampu jalani perintahMu
Ku tak sanggup menahan siksaMu
Selamatkanlah kami Ya Allah….

Kami sadar kami khilaf
Dunia ini sementara
Lindungi kami Ya Rabbi
Dari kezhaliman diri….

Kami tak sanggup menahan
Dalam gelap jalan ini
Tunjukkan kami Ya Rabbi
JalanMu yang lurus….

Yogyakarta
Sabtu 04 Juli 2009

Juli 9, 2009 Ditulis oleh ukhtiyfillah | Artikel | , , , , , , , , , , , | No Comments Yet

10 Alasan Untuk Tidak Memakai Jilbab

Assalamu’alaikum ya ukhtiy fillah. Jumpa lagi dengan ana disini (caile… ). Artikel ana kali bakal ngebahas tentang apa aja yang berhubungan dengan jilbab. Tapi perlu diketahui kalo artikel ini murni 100% copaz sama salah seorang ikhwah ana, heee…. *Jazakumullah artikelnya. Nah, berhubung kita akan membahas sedikit fungsi jilbab serta berbagai alasan yang diajukan saudari-saudari kita yang muslimah yang juga belum berjilbab meski usia tak lagi dapat dikatakan anak-anak, ada baiknya kalo kita tau dulu perbedaan antara jilbab dan kerudung.

Wanita Shalihah

Jilbab ->> Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala serta mampu menutupi bentuk tubuh seorang wanita yang merupakan auratnya. Dalilnya ada pada Al-Qur’an surat Al-Ahzab [33] : 59 yang artinya, ”Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ’Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Kerudung ->> Sedangkan yang dimaksud dengan kerudung adalah apa yang disebut dalam Qur’an surat An-Nuur [24] ayat 31 sebagai khimar (khumur). Yaitu selembar kain yang dapat menutupi kepala dan rambut. ”….Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya….”

Jadi kesimpulannya, kalo ada wanita yang mengaku sudah memakai jilbab namun masih memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya, maka sesungguhnya ia belumlah berjilbab. Sebutan yang sesuai untuknya bukanlah wanita berjilbab melainkan wanita berkerudung, gituuuu……

Sudah tau bedanya? Sekarang selamat menikmati artikel yang ana sajikan

 Bismillah,
Bila anda seorang muslimah dewasa dan masih belum menutup auratnya dengan hijab dan jilbab yang benar, maka ada baiknya merenungkan kembali alasan anda dengan menyimak dialog pemikiran dbawah ini.

 ALASAN I : Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbab
Kami kemudian menanyakan dua pertanyaan kepada saudari ini;
Pertama, apakah ia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam? Dengan alami ia berkata, Ya, sambil kemudian mengucap Laa Ilaa ha Illallah! Yang menunjukkan ia taat pada aqidahnya dan Muhammadan rasullullah! Yang menyatakan ia taat pada syariahnya. Dengan begitu ia yakin akan Islam beserta seluruh hukumnya. Kedua, kami menanyakan; Bukankah memakai jilbab termasuk hukum dalam Islam? Apabila saudari ini jujur dan dan tulus dalam ke-Islamannya, ia akan berkata; Ya, itu adalah sebagian dari hukum Islam yang tertera di Al-Quran suci dan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang suci. Jadi kesimpulannya disini, apabila saudari ini percaya akan Islam dan meyakininya, mengapa ia tidak melaksanakan hukum dan perintahnya?

ALASAN II : Saya yakin akan pentingnya jilbab namun Ibu saya melarangnya, dan apabila saya melanggar ibu, saya akan masuk neraka.

Yang telah menjawab hal ini adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla termulia, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam nasihatnya yang sangat bijaksana; “Tiada kepatuhan kepada suatu ciptaan diatas kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ahmad). Sesungguhnya, status orangtua dalam Islam, menempati posisi yang sangat tinggi dan terhormat. Dalam sebuah ayat disebutkan; “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang Ibu Bapak . . “ (QS. An-Nisa [04] : 36). Kepatuhan terhadap orangtua tidak terbatas kecuali dalam satu aspek, yaitu apabila berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman; “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…”(QS. Luqman [31] : 15)

Berbuat tidak patuh terhadap orangtua dalam menjalani perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebabkan kita dapat berbuat seenaknya terhadap mereka. Kita tetap harus hormat dan menyayangi mereka sepenuhnya. Allah berfirman di ayat yang sama; “dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” Kesimpulannya, bagaimana mungkin kamu mematuhi ibumu namun melanggar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan kamu dan ibumu.

ALASAN III : Posisi dan lingkungan saya tidak membolehkan saya memakai jilbab.
Saudari ini mungkin satu diantara dua tipe: dia tulus dan jujur, atau sebaliknya, ia seorang yang membohongi dirinya sendiri dengan mengatasnamakan lingkungan pekerjaannya untuk tidak memakai jilbab. Kita akan memulai dengan menjawab tipe dia adalah wanita yang tulus dan jujur.
“Apakah anda tidak tidak menyadari saudariku tersayang, bahwa wanita muslim tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah tanpa menutupi auratnya dengan hijab dan adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahuinya? Apabila engkau, saudariku, menghabiskan banyak waktu dan tenagamu untuk melakukan dan mempelajari berbagai macam hal di dunia ini, bagaimana mungkin engkau dapat sedemikian cerobohnya untuk tidak mempelajari hal-hal yang akan menyelamatkanmu dari kemarahan Allah dan kematianmu?” Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman; “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui” (QS An-Nahl : 43). Belajarlah untuk mengetahui hikmah menutup auratmu. Apabila kau harus keluar rumahmu, tutupilah auratmu dengan jilbab, carilah kesenangan Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada kesenangan syetan. Karena kejahatan dapat berawal dari pemandangan yang memabukkan dari seorang wanita.

Saudariku tersayang, apabila kau benar-benar jujur dan tulus dalam menjalani sesuatu dan berusaha, kau akan menemukan ribuan tangan kebaikan siap membantumu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat segala permasalahan mudah untukmu. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’alatelah berfirman; “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya..”(QS. AtTalaq :2-3). Kedudukan dan kehormatan adalah sesuatu yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak bergantung pada kemewahan pakaian yang kita kenakan, warna yang mencolok, dan mengikuti trend yang sedang berlaku. Kehormatan dan kedudukan lebih kepada bersikap patuh pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan bergantung pada hukum Allah yang murni. Dengarkanlah kalimat Allah; “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu..”(QS. Al-Hujurat:13).Kesimpulannya, lakukanlah sesuatu dengan mencari kesenangan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berikan harga yang sedikit pada benda-benda mahal yang dapat menjerumuskanmu.

 

ALASAN IV : Udara di daerah saya amatlah panas dan saya tidak dapat menahannya. Bagaimana mungkin saya dapat mengatasinya apalagi jika saya memakai jilbab.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perumpamaan dengan mengatakan; “api neraka jahannam itu lebih lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui..”(QS At-Taubah [09] : 81). Bagaimana mungkin kamu dapat membandingkan panas di daerahmu dengan panas di neraka jahannam? Sesungguhnya saudariku, syaithan telah mencoba membuat tali besar untuk menarikmu dari panasnya bumi ini kedalam panasnya suasana neraka. Bebaskan dirimu dari jeratannya dan cobalah untuk melihat panasnya matahari sebagai anugerah, bukan kesengsaraan. Apalagi mengingat bahwa intensitas hukuman dari Allah akan jauh lebih berat dari apa yang kau rasakan sekarang di dunia fana ini. Kembalilah pada hukum Allah dan berlindunglah dari hukuman-Nya, sebagaimana tercantum dalam ayat; “mereka tidak merasakan kesejukan didalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah(QS. An-Naba’ [78] : 24-25). Kesimpulannya, surga yang Allah janjikan, penuh dengan cobaan dan ujian. Sementara jalan menuju neraka penuh dengan kesenangan, nafsu dan kenikmatan.

 

ALASAN V : Saya takut, bila saya memakai jilbab sekarang, di lain hari saya akan melepasnya kembali, karena saya melihat banyak sekali orang yang begitu.
Kepada saudari itu saya berkata, “
apabila semua orang mengaplikasikan logika anda tersebut, mereka akan meninggalkan seluruh kewajibannya pada akhirnya nanti!” Mereka akan meninggalkan shalat lima waktu karena mereka takut tidak dapat melaksanakan satu saja waktu shalat itu. Mereka akan meninggalkan puasa di bulan ramadhan, karena mereka takut tidak dapat menunaikan satu hari ramadhan saja di bulan puasa, dan seterusnya. Tidakkah kamu melihat bagaimana syetan telah menjebakmu lagi dan memblokade petunju bagimu? Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai ketaatan yang berkesinambungan walaupun hanya suatu ketaatan yang sangat kecil atau dianjurkan. Lalu bagaimana dengan sesuatu yang benar-benar diwajibkan sebagaimana kewajiban memakai jilbab? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda; “Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan mulia yang terus menerus, yang mungkin orang lain anggap kecil.” Mengapa kamu saudariku, tidak melihat alasan mereka yang dibuat-buat untuk menanggalkan kembali jilbab mereka dan menjauhi mereka? Mengapa tidak kau buka tabir kebenaran dan berpegang teguh padanya? Allah Subhanahu wa Ta’ala sesungguhnya telah berfirman; “maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang di masa kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa(QS. Al-Baqarah [02] : 66). Kesimpulannya, apabila kau memang teguh petunjuk dan merasakan manisnya keimanan, kau tidak akan meninggalkan sekali pun perintah Allah setelah kau melaksanakannya.

 

ALASAN VI : Apabila saya memakai jilbab, maka jodohku akan sulit, jadi aku akan memakainya nanti setelah menikah.

Saudariku, suami mana pun yang lebih menyukaimu tidak memakai jilbab dan membiarkan auratmu di depan umum, berarti dia tidak mengindahkan hukum dan perintah Allah dan bukanlah suami yang berharga sejak semula. Dia adalah suami yang tidak memiliki perasaan untuk melindungi dan menjaga perintah Allah, dan jangan pernah berharap tipe suami seperti ini akan menolongmu menjauhi api neraka, apalagi memasuki surga Allah. Sebuah rumah yang dipenuhi dengan ketidak-taatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan selalu menghadapi kepedihan dan kemalangan di dunia kini dan bahkan di akhirat nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabda; “dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Taha [20] : 124).

Pernikahan adalah sebuah pertolongan dan keberkahan dari Allah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Berapa banyak wanita yang ternyata menikah sementara mereka yang tidak memakai jilbab tidak?

Apabila kau, saudariku tersayang, mengatakan bahwa ketidak-tertutupanmu kini adalah suatu jalan menuju sesuatu yang murni, asli, yaitu pernikahan. Tidak ada ketertutupan. Saudariku, suatu tujuan yang murni, tidak akan tercapai melalui jalan yang tidak murni dan kotor dalam Islam. Apabila tujuannya bersih dan murni, serta terhormat, maka jalan menuju kesana pastilah harus dicapai dengan bersih dan murni pula. Dalam syariat Islam kita menyebutnya : Alat atau jalan untuk mencapai sesuatu, tergantung dari peraturan yang ada untuk mencapai tujuan tersebut. Kesimpulannya, tidak ada keberkahan dari suatu perkawinan yang didasari oleh dosa dan kebodohan.

 

ALASAN VII : Saya tidak memakai jilbab berdasarkan perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala : “dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (QS.Ad-Dhuhaa 93: 11). Bagaimana mungkin saya menutupi anugerah Allah berupa kulit mulus dan rambutku yang indah?

Jadi saudari kita ini mengacu pada Kitab Allah selama itu mendukung kepentingannya dan pemahamannya sendiri! ia meninggalkan tafsir sesungguhnya dibelakang ayat itu apabila hal itu tidak menyenangkannya. Apabila yang saya katakan ini salah, mengapa saudari kita ini tidak mengikuti ayat : “janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang nampak daripadanya” (QS An-Nur [24] : 31) dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya…” (QS. Al-Ahzab [33] : 59). Dengan pernyataan darimu itu, saudariku, engkau telah membuat syariah sendiri bagi dirimu, yang sesungguhnya telah dilarang oleh Allah, yang disebut at-tabarruj dan as-sufoor. Berkah terbesar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita adalah iman dan hidayah, yang diantaranya adalah menggunakan hijab. Mengapa kamu tidak mempelajari dan menelaah anugerah terbesar bagimu ini? Kesimpulannya, apakah ada anugerah dan pertolongan terhadap wanita yang lebih besar daripada petunjuk dan hijab?

 

ALASAN VIII : Saya tahu bahwa jilbab adalah kewajiban, tapi saya akan memakainya bila saya sudah merasa terpanggil dan diberi petunjuk oleh-Nya.

Saya bertanya kepada saudariku ini, rencana atau langkah apa yang ia lakukan selama menunggu hidayah, petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti yang dia katakan? Kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalimat-kalimat bijak-Nya menciptakan sebab atau cara untuk segala sesuatu. Itulah mengapa orang yang sakit menelan sebutir obat untuk menjadi sehat, dan sebagainya. Apakah saudariku ini telah dengan seluruh keseriusan dan usahanya mencari petunjuk sesungguhnya dengan segala ketulusannya, berdoa, sebagaimana dalam surah Al-Fatihah 1:6 “Tunjukilah kami jalan yang lurus ” serta berkumpul mencari pengetahuan kepada muslimah-muslimah lain yang lebih taat dan yang menurutnya telah diberi petunjuk dengan menggunakan jilbab? Kesimpulannya, apabila saudariku ini benar-benar serius dalam mencari atau pun menunggu petunjuk dari Allah , dia pastilah akan melakukan jalan-jalan menuju pencariannya itu.

 

ALASAN IX : Belum waktunya bagi saya. Saya masih terlalu muda untuk memakainya. Saya pasti akan memakainya nanti seiring dengan penambahan umur dan setelah saya pergi haji.

Malaikat kematian, saudariku, mengunjungi dan menunggu di pintumu kapan saja Allah berkehendak. Sayangnya, saudariku, kematian tidak mendiskriminasi antara tua dan muda dan ia mungkin saja datang disaat kau masih dalam keadaan penuh dosa dan ketidaksiapan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabda; “tiap umat mepunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS Al-An’aam 7:34] saudariku tersayang, kau harus berlomba-lomba dalam kepatuhan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, “berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumu..” (QS Al-Hadid 57:21).

Saudariku, jangan melupakan Allah atau Ia akan melupakanmu di dunia ini dan selanjutnya. Kau melupakan jiwamu sendiri dengan tidak memenuhi hak jiwamu untuk mematuhi-Nya. Allah mengatakan tentang orang-orang yang munafik, “dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri” (QS Al-Hashr 59: 19). Saudariku, memakai jilbab di usiamu yang muda, akan memudahkanmu. Karena Allah akan menanyakanmu akan waktu yang kau habiskan semasa mudamu, dan setiap waktu dalam hidupmu di hari pembalasan nanti.Kesimpulannya, berhentilah menetapkan kegiatanmu dimasa datang, karena tidak seorang pun yang dapat menjamin kehidupannya hingga esok hari.

 

ALASAN X : Saya takut, bila saya memakai jilbab, saya akan di-cap dan digolongkan dalam kelompok tertentu! Saya benci pengelompokan!

Saudariku, hanya ada dua kelompok dalam Islam. Dan keduanya disebutkan dalam Kitabullah . Kelompok pertama adalah kelompok / tentara Allah (Hizbullah ) yang diberikan pada mereka kemenangan, karena kepatuhan mereka. Dan kelompok kedua adalah kelompok syetan yang terkutuk (hizbush-shaiython ) yang selalu melanggarAllah Subhanahu wa Ta’ala . Apabila kau, saudariku, memegang teguh perintah Allah, dan ternyata disekelilingmu adalah saudara-saudaramu yang memakai jilbab, kau tetap akan dimasukkan dalam kelompokAllah Subhanahu wa Ta’ala . Namun apabila kau memperindah nafsu dan egomu, kau akan mengendarai kendaraan Syaithan, seburuk-buruknya teman.

Saudariku,
Jangan biarkan tubuhmu dipertontonkan di pasar para syetan dan merayu hati para pria. Model rambut, pakaian ketat yang mempertontonkan setiap detail tubuhmu, pakaian-pakaian pendek yang menunjukkan keindahan kakimu, dan semua yang dapat membangkitkan amarah
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyenangkan syetan. Setiap waktumu yang kau habiskan dalam kondisi ini, akan terus semakin menjauhkanmu dari Allah dan semakin membawamu lebih dekat pada syetan. Setiap waktu kutukan dan kemarahan menuju kepadamu dari surga hingga kau bertaubat. Setiap hari membawamu semakin dekat kepada kematian. “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain dari kesenangan yang memperdayakan ” (QS Ali ‘Imran 3:185). Naikilah kereta untuk mengejar ketinggalan, saudariku, sebelum kereta itu melewati stasiunmu. Renungkan secara mendalam, saudariku, apa yang terjadi hari ini sebelum esok datang. Pikirkan tentang hal ini, saudariku, sekarang, sebelum semuanya terlambat !

Tambahan lagi dari ana, alasan seorang ikhwah ogah pake jilbab karena dia IKHWAN *hahahaha (ih, akhwat kok ketawanya ngakak gitu. Ups! Afwan, afwan *malu mode on. Kabuuuuur…)

Juli 9, 2009 Ditulis oleh ukhtiyfillah | Artikel | , , , , , , , , , , , , , , | No Comments Yet

Akhwat n Ikhwan

Akhwat…Akhwat..

Akhwat? Mangnya ada apa sama akhwat?
Ga da apa-apa sih…cuman….
Kagum aja…

Wat, kamu ga gerah ya? Pake jilbab kok panjang-panjang amat?
Akhwat bilang menutup aurat.
Tapi wat, biar begitu aku jadi hormat.

Kata temen2, kamu juga ga pake kosmetik gono gini ya wat?
Ga takut dibilang jelek wat?
Apa?! Cukup dengan wudhu, wajahmu jadi sehat?
Tapi, mang bener sih. Keliatannya cerah meskipun lagi nongol sang jerawat.
Di jidat si akhwat

Setiap aku ngeliat, kamu selalu terlihat bersemangat.
Pada gerak si akhwat, keceriaan tersirat.

Wat, ke mana siang2 begini? Panas menyengat…
Hah?!! Menyelamatkan ummat? (maksudnya; ngaji, belajar; beramal; trus da’wah deh).

Tapi si akhwat ga pernah ngerasa berat.
Kok bisa gitu wat?
Ohh…ternyata tiap malem kamu sholat…

Senyum sumringah si akhwat akhir-akhir ini selalu terlihat
Ada apa sama si akhwat?
Wah…akhirnya si akhwat akan menjadi ummahat!!
Selamat…Selamat…

(by: Said Ridho Abdillah)

Ikhwan…Ikhwan…

Ikhwan? Mangnya ada apa sama ikhwan?
Ga ada apa-apa sih….cuman…
Salut aja….

Wan, ngapain sih tunduk-tunduk gitu kalo jalan?
Duit kamu hilang?
Oh, ternyata si ikhwan cuma mau menjaga pandangan.
Truz, koq ga mau salaman sama perempuan?
Kata ikhwan, agamanya melarang lawan jenis bukan muhrim bersentuhan.
Ooh, begitu ya wan..

Kamu juga dikenal sebagai makhluk yang anti pacaran.
Kenapa sih wan?
Apa?! Pacaran itu dilarang??!
Masa iya sih wan?
Ikhwan bilang, “lebih enak pacaran setelah pernikahan,
ga dapet dosa, malah dapet ganjaran.”
Wah, asyik tuh wan..!

Umm…jangan marah ya wan…
Aku pernah denger selentingan,
Kata orang, penampilanmu itu rada kampungan.
Trus, kamu juga dibilang kuper alias kurang pergaulan.
Ups! Sorry ya wan…
“Biar aja dibilang kampungan, yang penting otak brilian,
lebih baik dibilang kurang pergaulan
daripada dicap kuber alias kurang beriman.”
Begitu jawab si ikhwan.
Ooo….

Tapi wan, koq kamu pake celana cingkrang?
Hah?! Isbal (memanjangkan celana sampe bawah mata kaki) itu di larang??!
Eh, jenggot di dagumu juga semakin panjang.
Trus, kenapa tuh ada stempel di jidat kamu wan?
Ooh…pantesan…
Qiyamullail jadi kebiasaan
Shalat jama’ah di masjid ga ketinggalan
Hafalan Qur’an jadi kebutuhan
Shaum sunnahnya juga gak terlewatkan
Ma’tsurat-an pagi petang
Apalagi tilawah Quran…
Wuiiiih…kagak pernah bosan!
Salut deh wan!

Eh, wan. Denger-denger kamu mau pergi berjuang?
Ke mana sih wan?
Apa?! Ke medan pertempuran??!
Apa gak takut nyawamu melayang?
Kata si ikhwan, “ ’isy kariiman au mut syahiidan!”
Hmm…ini baru namanya militan.

Oh ya wan, akhir2 ini aq sering ngeliat kamu senyam-senyum sendirian.
Cari ma’isyah(penghasilan) pun jadi giaaat tenan.
Ada apa dengan si ikhwan?
Wah…ternyata bentar lagi ikhwan mau walimahan!!
Barakallah, Barakallah ya wan…!!

By: Khaleeda

887227587m

 

 

 

url : http://akhwat-militan.blog.friendster.com

Juli 9, 2009 Ditulis oleh ukhtiyfillah | Lucu | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | No Comments Yet

Di Jalan Da’wah Aku Melangkah……

akhwatzoneWah, judulnya njiplak ni. Kayak motto LDK kampus ana aja…. . Hehehe, mohon di-afwan-in ya. Abis kata-katanya bagus sih n terlebih lagi mewakili apa-apa yang akan menjadi unek-unek ana yang bakal dibahas sekarang.

Memang berat rintangan yang terasa dikala kita berazzam untuk istiqomah di jalan ini. Bertekad agar tak sedikitpun kaki ini bergeser menjauh dari koridor keimanan hanya padaNya. Banyak hal yang dijumpai sebagai ujian kesabaran yang khusus dihadiahkan olehNya kepada hamba-hambaNya yang meng-azzam serta bertekad untuk menegakkan panji-panji Ilahi di wajah bumi yang kian renta ini. ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabuut [29] : 2-3)

Na’udzubillah. Betapa kita menjadi apa yang disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang dusta ketika saat ujian mendera lantas kita mundur dari jalan ini. Enggan untuk kemudian kembali berjuang bersama-sama dengan para jundi-jundi Allah yang lainnya bak umat Nabi Musa ’Alaihis Salam yang berkata ”Wahai Musa, sampai kapanpun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.” (QS. Al-Ma’idah [05] : 24)
Astaghfirullah hal adzim…..

Beberapa ujian –atau bolehlah dibilang problematika– yang mungkin pernah ikhwah fillah alami di jalan da’wah ini akan coba ana ketengahkan disini sebagai bahan muhassabah kita bersama agar senantiasa mawas diri tehadap ujian-ujian tersebut –yang seringkali tidak hanya berupa kesusahan-kesusahan namun juga berupa kegembiraan sesaat yang melenakan. (Wuih bahasanya…!! Dahsyat …..!!!! Tumben bisa pake bahasa Indonesia yang rada baku hhehehehe…..)

1. muslimahKrisis ukhuwah sesama aktivis da’wah. Dimana hal tersebut mengakibatkan berkurangnya ’taste’ dari hasil-hasil kerja da’wah yang kita capai. Kerja-kerja yang kita lakukan hanya berlandaskan kepada sebuah rasa berkewajiban, bukan pada semangat berda’wah fi sabilillah untuk mencapai keridha-anNya. Akibat yang ditimbulkan selain berkurangnya ’taste’ dari hasil-hasil kerja da’wah itu, juga akan timbulnya rasa futur dari dalam diri kita sendiri. Tentang futur ini, insyaallah akan kita bahas setelah beberapa point dibawah ini. Selain itu juga yang pasti kesolidan antar tim sendiri pun akan menurun dratis. Nah lho!

2. akhwat-kcil5Hal yang berlawanan dengan point diatas adalah terlalu longgarnya hijab yang membatasi pergaulan ikhwan-akhwat dalam sebuah lembaga da’wah. Mungkin kurang terpantaunya kerja da’wah yang dilakukan para penggeraknya oleh kader atas yang lebih faham dan lebih senior merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya hal ini. Namun sebelum menyalahkan siapa-siapa terhadap masalah yang satu ini, alangkah sangat baiknya jika diri kita sendirilah yang lebih dahulu harus di-tabayyun-i. Rasulullah pun pernah bilang, ”Alangkah baiknya orang-orang yng sibuk dengan ’aib mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain.” (HR Ad Dailami).
Sedikit cerita, suatu ketika ana pernah nemu sebuah blog yang juga milik seorang akhwat. Salah satu artikel yang pernah beliau post-kan di blognya itu adalah mengenai tipe-tipe akhwat di ranah da’wah ini. Salah satu kategorinya yang kemudian menurut ana cocok buat dikaitkan pada masalah kita kali ini adalah akhwat ”APEL” alias tipe akhwat yang Amat suPEL. Saking supelnya sampe-sampe gak mengenal lagi batasan-batasan gaul dengan yang lawan jenis. Hal ini berlaku juga lho buat makhluk berjenggot bernama ikhwan (maaf ya Wan, ana nyebutnya gitu. Tapi kan antum emang jenggotan –kecuali jenis-jenis tertentu yang emang jenggotnya gak mau nongol ^___* V).
Semoga kita gak termasuk kedalam aktivis jenis ini, insyaallah……

3. VMJ alias Virus Merah Jambu. Bahkan sebagian ikhwah yang mungkin saking sebelnya sama masalah yang satu ini, sampe-sampe nyeletuk ngganti nama ni virus jadi VAR atau Virus Api Neraka. Na’udzubillah.
Cinta, Al-Hubb, Love atau apapun namanya gak bisa dipungkiri oleh siapapun merupakan anugerah dan salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita syukuri keberadaannya. Bayangkan jika dunia gak dilingkupi cinta. Semua yang kita kerjakan pasti akan terasa hambar. Seseorang yang gak mencintai pekerjaannya pastinya akan bekerja dengan rasa keterpaksaan. Gak bakal ada yang namanya kekasih. Gak akan ada yang namanya rasa sayang. Ahhh…. pokoknya bayangin sendiri deh rasanya kalo didunia ini gak ada yang namanya CINTA.
islamTapi, kita sebagai orang yang sudah paham dengan batasan-batasan interaksi atau gaul terhadap lawan jenis mestinya patut memberikan contoh kepada orang-orang awam yang belum tau bagaimana hal yang mestinya dilakukan dalam memanajemen sebuah rasa yang disebut cinta itu. Bukan malah jadi ikut-ikutan. Meski peng-ekspresi-an cinta dikalangan aktivis ini gak seekstrim orang kebanyakan –cz ada yang berkedok sebagai ta’aruf, pacaran islami dsb– namun siapa yang akan menjamin bahwa mereka akan aman dari yang namanya tipu daya setan. Salah satu hadist Nabi kita yang pasti udah sangat populer, ”Janganlah kamu berdua-duaan karena yang ketiganya adalah setan”. Kalo orang waras, siapa juga yang mau ditemenin sama setan. But disini, karena hawa nafsu yang ikut ngomporin, akhirnya…….. yah, antum lebih tau lah!.
Panjang deh pembahasan kita tentang yang satu ini. Karena emang masalah yang akan ditimbulkan oleh hal ini akan sangat kompleks jika dibiarkan terus menerus menjangkit dikalangan aktivis da’wah ini.
Penyelesaiannya? Bagi yang hubungannya udah terlanjur ketauan oleh mas’ul maupun murabbi/ah-nya, beruntunglah antum. Lhhoo??? Kok malah beruntung sih??? Weissss, jangan protes dulu. Ana katakan beruntung karena dengan ketauannya hubungan ’terlarang’ itu maka pintu-pintu setan yang mengajak pada kesesatan akan semakin dipersempit dan jalan kembali menuju cahayaNya akan lebih dipermudah. Setuju? Harus!. ”…..Engkau muliakan siapa pun yang engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Ditangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [03] : 26)
Yang belum ketauan tapi udah duluan ngebaca blog ini (^^,) ? Kesadaran terhadap diri sendiri perlu dibangun. Ibarat seorang pecandu narkoba yang gak akan pernah sembuh tanpa adanya kesadaran dan kemauan dari dalam dirinya sendiri untuk sembuh. Begitu pun halnya dengan orang-orang yang terjangkiti VMJ ini. Kalo gak tahan, buruan nikah. ”Wahai sekalian pemuda…. barangsiapa diantara kalian berkesanggupan (sudah mampu) maka hendaklah menikah. Karena sesungguhnya ia (menikah) dapat memejamkan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, maka berpuasalah. Maka sesungguhnya puasa itu benteng baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Udah sangat sangat jelas kan petuah dari Nabi kita yang mulia, Muhammad Shallallahu ’Alaihi wa Sallam tentang hal yang satu ini. Pasti antum lebih mengerti maksud ana ini. Wallahu a’lam bish shawwab….

4. Point empat, masalah kefutur-an.
3878272079147lPenjelasan singkat tentang sebuah kata bernama “futur” pernah ana dapatkan dalam sebuah kajian. Intinya, futur itu adalah perasaan dimana seorang aktivis da’wah merasa bosan dengan aktivitas yang ia lakukan. Gak bersemangat atas apa-apa yang ia kerjakan. Pokoknya gejala 5L (Lelah, Letih, Lemah, Lesu, Lunglai) menjangkit pada dirinya terhadap aktivitas-aktivitas da’wah yang ia garap. Lengkap deh penderitaan. Penyebabnya bisa aja salah satu atau ketiga-tiga point diatas. Namun juga bisa jadi gara-gara kesalahan dari kitanya sendiri. Males datang kajian, ogah-ogahan dengerin materi halaqoh, gak terpenuhinya targetan amal yaumiyah dan sebagainya merupakan masalah-masalah yang memungkinkan timbulnya kefutur-an dalam jiwa kita (termasuk yang ngomong juga niihh. Jadi nyindir diri sendiri ceritanya xxixixi). Sedikit tips biar kita gak dikit-dikit ngerasa futur akan ana bagi disini. Namun bukan berarti ana pun udah pinter menerapkan tips ini agar gak futur berkali-kali. Disini kita bakal sama-sama belajar guys (hyaahhh bahasanya ) ^_____*
a. Jangan sampe absen dateng halaqoh, apalagi dengan alasan-alasan yang gak syar’i
b. Konsisten dengan amal yaumiyah yang udah ditargetin
c. Baca Qur’an plus merenungi isi kandungannya
d. Jangan lupa shalat lail. Kalo masih rada susah buat bangun malem, minta deh ama saudara, akhuka or ukhtuka buat ngebangunin (but, tetep yang mahram lho. Jangan biarkan pintu-pintu setan terbuka walau sekecil apapun. Niatan mo bangunin saudara, tar malah timbul VMJ alias VAR yang udah kita bahas tadi). Tips juga dari seorang ikhwah, sama-in nada alarm hape dengan nada dering atau nada panggilan masuk biar kita secara refleks bisa bangun. Rajin-rajin juga buat ganti-ganti tanda panggilan masuk tersebut biar kita tetep secara refleks bisa bangun. Tips yang unik, hhehehhe….
e. Yang wajib dikerjakan, kenapa gak berusaha nyunnah juga??? Toh gak ada ruginya
f. Ngumpul dengan orang-orang shaleh/shalehah (yang mahram). But bukan berarti jadi anti ngumpul dengan orang-orang yang ammah lho ya…. Mereka malah wajib kita da’wahi dengan cara yang ma’ruf
g. Rajin-rajin datang kajian. Ini juga masih nyangkut ama tips nomor f.
h. Minta ditausiyah-in saat futur terasa akan menyerang. Saudara terdekat kita –terlebih keluarga ’kecil’ kita di halaqoh– insyaallah mengerti tentang kesusahan yang kita hadapi n dengan senang hati menyediakan bahunya untuk tempat kita bersandar. So jangan pernah merasa sendiri !!!
i. Munculkan semangat dari dalam diri sendiri kalo kita gak akan terganggu ama yang namanya ”syndrome-futur” tersebut
j. Jangan kebanyakan ngayal gak ada guna. Mending kalo lagi gak ada kerjaan, cari-cari deh kerjaan yang bermanfaat. Beresin kamar, nyuci-nyuci atau bisa juga ngarang-ngarang artikel gini. Insyaallah bakal lebih bermanfaat

5. scan20003Cz dari tadi yang dibahas kayaknya cuma tentang masalah-masalah internal diri kita aja, point satu ini mungkin akan agak berbeda dari pembahasan sebelumnya. Dimana saat profesionalitas kerja da’wah kita dipertanyakan.
Satu contohnya adalah saat undangan syuro’ memanggil. Masalah yang mungkin sering timbul diantaranya adalah tentang manajemen waktu sebelum maupun saat syuro’ sedang berlangsung. Selain itu, kurang terpenuhinya hak-hak anggota syuro’ juga merupakan satu kenyataan yang mungkin timbul disamping terkadang agenda-agenda syuro’ yang sering terlewat untuk dibahas. Wah, ternyata banyak juga ya yang bisa kita bahas di dalam point ini. Oke, yuk kita kupas satu-persatu (buah kaleee dikupas)
- Manajemen waktu. Ana pernah mengalami undangan syuro’ yang akan dihadiri ngaret sampe berjam-jam (enggak dink, cuma sampe bermenit-menit doang kok. Tapi pernah juga sih yang ngaret sampe 59 menit, becanda becanda ;-) ). Yang parah ni pas waktu syuro udah tiba n semua angguta udah pada ngumpul, eh malah yang ngundang yang gak kunjung hadir. Allahu a’lam mungkin dia masih ada amanah yang harus diselesaikan atau ada halangan yang ngebuat dia telat, kita tetep wajib berbaik sangka terhadap saudara kita. N buat yang telat, sesempat mungkin untuk ngasih kabar kepada semua anggota syuro’ perihal keterlambatannya itu. Se-enggaknya ngasih tau satu orang yang mewakili untuk disampein ke semua anggota syuro’ juga gak masalah. Yang penting jangan sampe gak ngabarin sama sekali. Trus alasan telat juga harus yang syar’i lho. Siapa yang gak sebel kalo orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya ternyata telat cuma gara-gara abis mandiin kucing kesayangan. Wah…. gak banget deh kalo kayak gitu
- Kurang terpenuhinya hak-hak anggota syuro’, misalnya dalam forum tersebut satu orang aja yang dari pembukaan, kultum, tilawah, ngebahas agenda syuro’, ampe syuro’nya ditutup yang ngomong (pidato aja deh kalo caranya gitu :-D ). Harus ada pembagian yang jelas tentang hal-hal semacam ini. Biar yang namanya kecemburuan sosial antar peserta syuro’ gak terjadi. Kasih juga kesempatn yang sama rata buat nyampein unek-unek, saran maupun kritik. Tapi mesti tetep sesuai dengan adab-adab dalam syuro’; harus sopan, sesuai dengan apa yang lagi dibahas, gak motong pembicaraan serta gak rebutan ngomong (emang pasar???)
- Agenda syuro’ yang sering terlewat buat dibahas. Point ini sebenernya masih terkait dengan apa yang kita sebut diawal sebagai manajemen waktu. Ada kalanya cz keasik-an ngebahas satu pokok permasalahan, masalah-masalah yang laen malah gak sempet dibahas karena anggaran waktu yang keburu abis. Hal ini ngebuat syuro’ kita jadi gak efektif. Semula bisa sharing banyak permasalahan, akhirnya malah cuma sebagian kecil yang bisa dibahas bersama-sama
- Sedikit tambahan, jangan pernah maksain kehendak sendiri. Mempertahankan pendapat gak dilarang, tapi jika mayoritas gak sepakat kita gak boleh egois. Namanya aja syuro’. Kalo gak mau menerima masukan dari orang lain, gih sana get out!
Pesen ana, tetep jaga hijab didalam syuro’. Biar gimanapun, interaksi ikhwan-akhwat gak bisa dihindari. Hal ini juga memperlihatkan keprofesional-an kita dalam menjalani agenda-agenda da’wah. Minta ingetin ma saudara yang sehijab dengan kita kalo kita terlupa. Namanya aja manusia, wajar kalo khilaf. Asal jangan sengaja di-khilaf-khilaf-in aja.

6. BeTeSatu hal yang menghambat kita untuk maju adalah mudahnya hati ini tersinggung hanya karena kritikan kecil dari sang sahabat atau mungkin sebuah saran yang ditujukan untuk kebaikan diri kita sendiri. Ngambek-an cuma wajar jika yang ngelakuin adalah adek-adek kita dirumah yang masih pada imut. Lhah kita? Udah gede masih sering ngambek, amit-amit deh. Bahkan yang rugi nantinya juga kita sendiri. Jadi dijauhin temen-temen, gak da lagi yang mau ngasih masukan buat kebaikan kita, en lain-lain bisa terjadi kalo sifat ini terus kita budidayakan dalam diri. Mending budidaya ikan. Bisa jadi penghasilan ^_______^. Menerima sebuah kritikan untuk diri kita –terutama kritik yang membangun– bisa jadi latihan bagi jiwa kita untuk menjadi kuat menghadapi ujian-ujian yang jauh lebih berat lagi. Inget aja deh, sebuah kritik kecil gak akan ngebuat dunia kita berakhir. Tapi bukanberarti kita malah cuek n terkesan acuh tak acuh mendengarkannya. Terima dengan lapang dada, cerna dengan pikiran yang terbuka, ambil hikmahnya karena siapa tau hal itu emang bener tapi tetep, JANGAN NGAMBEK.

Ini dulu deh yang bisa ana bagi ama ikhwah fillah sekalian. Karena keterbatasan ilmu ana juga yang ngebuat kata-kata panjang tapi dengan makna yang gak luas. But tetep, moga ini semua bisa diambil manfaatnya bagi kita semua. Kalo ada yang kurang, pastinya itu dari ana. Tapi kalo ada lebihnya ya mbok dibalikin ama yang punya, eh salah dink. Kalo ada lebihnya tentu semata-mata adalah karena Allah ;-) . Di Jalan Da’wah Aku Melangkah…..

Yogyakarta
Jum’at, 03 Juli 2009 @ 8.51pm

Juli 9, 2009 Ditulis oleh ukhtiyfillah | Artikel | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | No Comments Yet