Cadar dan Pernak-perniknya

Sedikit flashback menyangkut artikel ana kali ini. Cerita yang ana kira perlu untuk ana bagi ke ukhtiy (ikhwah) fillah sekalian. Mungkin, ada dari antunna yang bersedia untuk berbagi pengalamannya disini. Ana tunggu ya…. 🙂
Ceritanya bermula saat ana awal masuk kuliah di kampus ana sekarang. Saat itu ana merasa hijab ana masih longgar terhadap lawan jenis. Meski sejak lama sebelum masuk di lingkungan perkuliahan ana telah menggunakan jilbab yang syar’i. Sehingga mungkin itulah yang menjadi penyebab timbulnya beberapa fitnah di lingkungan kampus –terutama kelas– di sebabkan oleh diri yang dhaif ini.  Astaghfirullah…
Selang beberapa lama, lambat laun ana mulai memperbaiki hijab diri ana yang ana nilai masih terlalu longgar untuk ukuran “seorang akhwat berjilbab lebar” seperti ana. Lambat laun sikap ana yang terkadang tanpa sadar masih terlalu kekanak-kanakan ana kurangi.
Namun qadarallah, fitnah itu masih saja muncul. Sampe pada satu hari sepulang dari kampus, ana merasa begituuuu sedih. Ba’da maghrib, sendiri bermuhasabah di dalam kamar. Muncul berbagai pertanyaan dalam pikiran ana. Masih adakah yang salah dari diri ini…? Apa mungkin hijab yang ana kenakan masih terlalu longgar…? Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya. Sampe akhirnya, muncul sebuah gagasan yang bahkan cukup mengejutkan untuk ana sendiri. Ana akan bercadar jika kekampus mulai besok. Setelah itu, masih dengan sisa-sisa tangis ana ketika maghrib, ana utarakan niat tersebut kepada orang terdekat ana selama ini –ummi. Meski ana sudah tau jawaban beliau nantinya. Namun tetap aja niat tersebut ana sampaikan. Dan benar, beliau tidak menyetujui gagasan ana itu. Bahkan disertai nada yang sedikit mengancam. Ummi memang sudah mewanti-wanti sejak awal ana memakai jilbab saat SMA dulu. Boleh berjilbab lebar asal dengan catatan, jangan sekali-kali menggunakan cadar.
Setelah itu, hanya tawwakal yang bisa ana lakukan. Selain tentunya terus berdoa kepada Allah memohon yaang terbaik. Sementara fitnah itu masih terus muncul hingga saat ini…
Seorang ikhwah satu ranah da’wah dengan ana dikampus, saat ini sedang berproses dengan seorang akhwat bercadar. Dan beliau tau akan kisah ana diatas. Gak berapa lama, langsung deh ana di-tag dari facebook menyangkut kisah nyata pengalaman seorang akhwat dengan cadarnya. Jazakumullahu khair akh kisahnya :-). Nih kisahnya ana sajikan ulang buat kita semua. Awal kisah yang sama dengan apa yang ana alami. Namun yang membedakan, alhamdulillah ukhtiy tersebut sekarang telah bahagia dan aman terlindung dengan cadarnya, sementara ana hingga saat ini masih berjuang dengan kerasnya kehidupan kampus dengan makhluk-makhluknya yang begitu heterogen…. 😦
_______________________________________________________

Lagi

Di Jalan Da’wah Aku Melangkah……

akhwatzoneWah, judulnya njiplak ni. Kayak motto LDK kampus ana aja…. . Hehehe, mohon di-afwan-in ya. Abis kata-katanya bagus sih n terlebih lagi mewakili apa-apa yang akan menjadi unek-unek ana yang bakal dibahas sekarang.

Memang berat rintangan yang terasa dikala kita berazzam untuk istiqomah di jalan ini. Bertekad agar tak sedikitpun kaki ini bergeser menjauh dari koridor keimanan hanya padaNya. Banyak hal yang dijumpai sebagai ujian kesabaran yang khusus dihadiahkan olehNya kepada hamba-hambaNya yang meng-azzam serta bertekad untuk menegakkan panji-panji Ilahi di wajah bumi yang kian renta ini. ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabuut [29] : 2-3)

Na’udzubillah. Betapa kita menjadi apa yang disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang dusta ketika saat ujian mendera lantas kita mundur dari jalan ini. Enggan untuk kemudian kembali berjuang bersama-sama dengan para jundi-jundi Allah yang lainnya bak umat Nabi Musa ’Alaihis Salam yang berkata ”Wahai Musa, sampai kapanpun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.” (QS. Al-Ma’idah [05] : 24)
Astaghfirullah hal adzim…..

Beberapa ujian –atau bolehlah dibilang problematika– yang mungkin pernah ikhwah fillah alami di jalan da’wah ini akan coba ana ketengahkan disini sebagai bahan muhassabah kita bersama agar senantiasa mawas diri tehadap ujian-ujian tersebut –yang seringkali tidak hanya berupa kesusahan-kesusahan namun juga berupa kegembiraan sesaat yang melenakan. (Wuih bahasanya…!! Dahsyat …..!!!! Tumben bisa pake bahasa Indonesia yang rada baku hhehehehe…..)
Lagi