Cantiknya Bidadari…

Penulis: Ummu Ziyad Fransiska Mustikawati dan Ummu Rumman Siti Fatimah
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

Terheran-heran. Tapi itulah kenyataan. Seseorang  – yang mungkin dengan mudahnya – melepas jilbabnya dan merasa enjoy mempertontonkan kecantikannya. Entah dengan alasan apa, kepuasan pribadi, materi dunia, popularitas yang semuanya berujung pada satu hal, yaitu hawa nafsu yang tak terbelenggu. Lagi

Iklan

Ukhtiy, Engkaukah Bidadari Itu?

Awalnya tulisan ini beda dengan isi yang saat ini ukhtiy fillah sekalian baca. Tadinya ana tuh copaz dari seorang ikhwah pas beliau nge-tag tuh artikel di facebook ana. Tapi setelah dikoreksi ulang n banyak kekeliruan dalam penggunaan ayat-ayat Al-Qur’annya, maka itu isinya jadi tak ganti. Gak semua sih. tapi sebagian besarnya.

Koq isinya aja yang diganti? Kenapa g sekalian ama judul-judulnya juga? Karena, ana rasa judulnya lumayan menjual tuh. Hhehehehe 😉

Pembahasan kita kali ini insyaAllah masih tetep nyambung dengan isi dari judul postingannya.

Coba juga antunna liat postingan ana sebelumnya yang berjudul Karakteristik Seorang Muslimah

14642_1151665993880_1294551291_30442733_6978768_n

Terus, ana mau tanya nih. Ada yang bersedia buat jadi bidadari di surga???

Ya iyalah…. (jawab antunna rame-rame dari kejauhan). Setelah tersadar, antunna tanya bareng lagi ke ana kayak koor paduan suara, caranya….? (hhehhehe, afwan. Hayalan tingkat tinggi 😉 )

Untuk itu, yuks kita kaji bareng…. (Jika terdapat salah-salah kata n kutipan ayat atau hadist pada artikel ini, jangan ragu buat dikoreksi. Jazakumullahu khair sebelumnya)
Catatan : Setiap wanita berpeluang menjadi bidadari baik di dunia terutama di akhirat kelak, ASALKAN :

Lagi

Cari Istri Shalihah n Cerdas, Standarnya???

Perhiasan yang paling indah

Bagi seorang abdi Allah

Itulah ia wanita shalihah

Ia menghiasi dunia

(The Fikr : Wanita Shalihah)

ikhwan-n-akhwatWaktu ana log-in di Facebook, ana tanpa sengaja ngebaca “curahan hati” sekaligus doa dari seorang ikhwah (tsaaaa….) yang sengaja beliau tulis di “wall” Facebook miliknya. Beliau bilang pengin cari istri yang shalihah lagi cerdas. Dari situlah tulisan ini terinspirasi (cie….). Permasalahan yang kemudian timbul dan tenggelam dalam benak ana serta akan ana angkat disini adalah berkaitan dengan kata “cerdas” tersebut dan standarisasinya.

Kenapa harus cerdas???

Bukannya sebelumnya ada kata ”shalihah” yang bahkan disebut lebih awal daripada kata cerdas itu sendiri?
Lagi