Musyawarah dengan Istri (2)

Lanjutan tulisan terdahulu..

Musyawarah Dengan Istri
Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Kita berpindah kepada contoh berikutnya, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bermukim di Madinah. Saat itu di tahun keenam hijriyah, dalam bulan Dzulqa’dah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berencana melaksanakan umrah di Baitullah. Mereka berangkat dari Madinah menuju Makkah yang masih dikuasai oleh orang-orang musyrikin dalam keadaan berihram. Namun orang-orang musyrikin ini menghalangi beliau dan para sahabatnya untuk masuk ke Makkah. Lalu terjalinlah perjanjian antara beliau dan orang-orang musyrikin bahwa beliau baru diperkenankan masuk ke Makkah untuk berumrah di tahun mendatang. Karena batal berumrah beliau pun hendak bertahallul dari ihramnya dan memerintahkan kepada para sahabatnya:
قُوْمُوْا فَانْحَرُوْا، ثُمَّ احْلِقُوْا
“Bangkitlah kalian lalu sembelihlah hewan kalian, lalu cukurlah rambut kalian.”
Namun apa yang terjadi? Demi Allah tak satupun dari para sahabat yang bangkit memenuhi perintah beliau hingga beliau mengucapkan hingga tiga kali. Ketika tidak ada satupun yang bangkit menjalankan perintah beliau, beliau pun masuk ke tenda istrinya, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Beliau keluhkan pada sang istri apa yang beliau dapatkan dari sikap para sahabatnya, “Tidakkah engkau melihat orang-orang itu? Aku perintahkan mereka dengan satu perkara namun mereka tidak melakukannya.”
Istri yang shalihah ini pun berkata:
يَا نَبِيَّ اللهِ، أَتُحِبُّ ذلِكَ؟ اُخْرُجْ، ثُمَّ لاَ تُكَلِّمْ أَحَدًا مِنْهُمْ حَتَّى تَنْحَرَ بُدْنَكَ، وَتَدْعُو حَالِقَكَ فَيحْلِقَكَ
“Wahai Nabiullah! Apakah engkau ingin mereka melakukan apa yang engkau perintahkan? Keluarlah, lalu jangan engkau mengajak bicara seorang pun dari mereka hingga engkau menyembelih sembelihanmu dan engkau memanggil tukang cukurmu lalu ia mencukur rambutmu.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjalankan saran istrinya yang memiliki kecerdasan dan pendapat yang bagus ini. Beliau keluar dari tenda, tanpa mengajak bicara seorang pun beliau menyembelih hewan sembelihannya dan memanggil tukang cukurnya untuk mencukur rambut beliau. Ketika para sahabat melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka pun bersegera bangkit. Mereka menyembelih hewan-hewan mereka dan sebagian mereka mencukur rambut temannya hingga hampir-hampir sebagian mereka membunuh sebagian yang lain disebabkan kegundahan dan kesedihan mereka (HR. Al-Bukhari no. 2731, 2372). Dengan saran Ummu Salamah, terselesaikanlah masalah yang ada.
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu mengatakan bahwa dalam hadits di atas menunjukkan:
– keutamaan musyawarah
– bolehnya bermusyawarah dengan wanita yang memiliki keutamaan
– kelebihan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, betapa kuat akalnya. Sehingga Imam Al-Haramain berkata, “Kami tidak mengetahui ada seorang wanita yang tepat/benar dalam memberikan pendapatnya ketika bermusyawarah kecuali Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.” (Fathul Bari, 5/426)

Dua kisah di atas, cukuplah menjadi bukti bahwa seorang istri yang shalihah bisa diajak musyawarah, dimintai pendapatnya dalam urusan suaminya. Sampaipun dalam perkara umat yang diurusi oleh suaminya bila suaminya seorang da’i. Saran-sarannya pun dapat diterima dan dijalankan dalam urusan yang penting. Semua ini juga menunjukkan penghargaan Islam kepada wanita. Walhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat ini …

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Para ulama berkata, “Makna dari ucapan Khadijah radhiyallahu ‘anha ini adalah engkau tidak akan ditimpa perkara yang jelek /tidak disukai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan pada dirimu akhlak yang mulia dan perangai yang utama.” (Al Minhaj, 2/377)
2 Waraqah dan temannya meninggalkan negerinya menuju Syam karena benci kepada peribadatan berhala. Di sana ia bertanya tentang agama yang kemudian ia tertarik dengan agama Nasrani hingga ia memeluknya. Ia sempat bertemu dengan beberapa pendeta yang berada di atas agama Isa ‘alaihissalam yang belum diubah (masih asli), karena itu ia bisa memberitakan tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kabar gembira tentang diutusnya beliau serta berita-berita lain yang telah dirusak oleh orang-orang yang mengubah-ubah agama Nabi Isa ‘alaihissalam. (Fathul Bari, 1/34)
3 Bahasa Ibrani, artinya pemegang rahasia. Ini merupakan sebutan untuk Jibril ‘alaihissalam. (Al-Minhaj, 2/378)

Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=690

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: