Cadar dan Pernak-perniknya

Sedikit flashback menyangkut artikel ana kali ini. Cerita yang ana kira perlu untuk ana bagi ke ukhtiy (ikhwah) fillah sekalian. Mungkin, ada dari antunna yang bersedia untuk berbagi pengalamannya disini. Ana tunggu ya….🙂
Ceritanya bermula saat ana awal masuk kuliah di kampus ana sekarang. Saat itu ana merasa hijab ana masih longgar terhadap lawan jenis. Meski sejak lama sebelum masuk di lingkungan perkuliahan ana telah menggunakan jilbab yang syar’i. Sehingga mungkin itulah yang menjadi penyebab timbulnya beberapa fitnah di lingkungan kampus –terutama kelas– di sebabkan oleh diri yang dhaif ini.  Astaghfirullah…
Selang beberapa lama, lambat laun ana mulai memperbaiki hijab diri ana yang ana nilai masih terlalu longgar untuk ukuran “seorang akhwat berjilbab lebar” seperti ana. Lambat laun sikap ana yang terkadang tanpa sadar masih terlalu kekanak-kanakan ana kurangi.
Namun qadarallah, fitnah itu masih saja muncul. Sampe pada satu hari sepulang dari kampus, ana merasa begituuuu sedih. Ba’da maghrib, sendiri bermuhasabah di dalam kamar. Muncul berbagai pertanyaan dalam pikiran ana. Masih adakah yang salah dari diri ini…? Apa mungkin hijab yang ana kenakan masih terlalu longgar…? Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya. Sampe akhirnya, muncul sebuah gagasan yang bahkan cukup mengejutkan untuk ana sendiri. Ana akan bercadar jika kekampus mulai besok. Setelah itu, masih dengan sisa-sisa tangis ana ketika maghrib, ana utarakan niat tersebut kepada orang terdekat ana selama ini –ummi. Meski ana sudah tau jawaban beliau nantinya. Namun tetap aja niat tersebut ana sampaikan. Dan benar, beliau tidak menyetujui gagasan ana itu. Bahkan disertai nada yang sedikit mengancam. Ummi memang sudah mewanti-wanti sejak awal ana memakai jilbab saat SMA dulu. Boleh berjilbab lebar asal dengan catatan, jangan sekali-kali menggunakan cadar.
Setelah itu, hanya tawwakal yang bisa ana lakukan. Selain tentunya terus berdoa kepada Allah memohon yaang terbaik. Sementara fitnah itu masih terus muncul hingga saat ini…
Seorang ikhwah satu ranah da’wah dengan ana dikampus, saat ini sedang berproses dengan seorang akhwat bercadar. Dan beliau tau akan kisah ana diatas. Gak berapa lama, langsung deh ana di-tag dari facebook menyangkut kisah nyata pengalaman seorang akhwat dengan cadarnya. Jazakumullahu khair akh kisahnya🙂. Nih kisahnya ana sajikan ulang buat kita semua. Awal kisah yang sama dengan apa yang ana alami. Namun yang membedakan, alhamdulillah ukhtiy tersebut sekarang telah bahagia dan aman terlindung dengan cadarnya, sementara ana hingga saat ini masih berjuang dengan kerasnya kehidupan kampus dengan makhluk-makhluknya yang begitu heterogen….😦
_______________________________________________________

Sebuah kisah tentang cadar…
Bismillahirrohmanirrahim…
cadar…
Satu kata yang dulu sempat membuat diriku takut untuk mendekati orang-orang yang memakainya.
“mungkin mereka jelek, makanya menutupi wajahnya, atau mungkin dia mempunyai gigi taring seperti drakula ataukah mungkin dia..begini..begini dan begitu” begitu banyak pikiran-pikiran yang menghantuiku ketika masih menjadi orang yang belum tahu tentang syari’at alloh tentang cadar ini…
Sampai suatu ketika alloh menakdirkanku untuk mengenal sekumpulan akhwat yang bercadar,
“subhanalloh” satu kata yang terlontar dari lisanku waktu itu…
Ternyata mereka tidak seperti yang aku pikirkan selama ini, ternyata cadar merupakan salah satu syari’at dari islam..
Berawal dari perkenalanku dengan para akhwat, disitulah awal mula diriku mengenal ilmu yang shohih, hari-hari kujalani dengan ilmu-ilmu yang yang selama ini kuanggap hanya sebatas budaya dan pemikiran orang-orang belaka. Sedikit demi sedikit ku amalkan ilmu yang telah kudapatkan… pergaulan antara lawan jenis, musik, ikhtilath, sampai ke syarat-syarat jilbab yang syar’I pun kulalui dan kuamalkan alhamdulillah..meski banyak rintangan dan cobaan dalam mengamalkannya,,tapi begitulah perjuangan..begitulah konsekuensi dari amalan yang telah kita ilmui..tapi untuk masalah cadar, ah. diriku sungguh tak tertarik untuk menggunakannya.
Sempat mempelajari tentang hukum dari cadar dan waktu itu berkeinginan untuk mempelajarinya lebih dalam, tapi teringat akan ucapan bapak
“kamu boleh pakai jilbab yang besar tapi jangan sampai bercadar,nanti boleh bercadar kalau sudah nikah”
ya sudahlah mendingan aku ambil hukum yang sunnahnya saja, daripada bapak marah , toh nanti kalau dah nikah aku akan pakai cadar juga insya alloh, untuk sekarang ga usahlah” pikirku dalam hati. Akhirnya niat untuk mempelajari hukum cadar lebih lanjutpun aku urungkan…
Manusia boleh berencana tapi alloh lah yang berhak menentukan jalan hidup kita..
Alhamdulillah, hidayah alloh datang kepadaku, yang awal mulanya diriku begitu kekeh untuk tidak bercadar, niat untuk mempelajari hukumnya pun ogah-ogahan, namun alloh menakdirkan padaku untuk lebih mengetahui tentang cadar ini melalui sebuah fitnah yang kualami di kampus…
Seorang teman memberitahukan padaku bahwa ada seseorang yang terfitnah gara-gara diriku…
“astghfirulloh, apakah jilbab yang sudah cukup lebar ini masih bisa saja menimbulkan fitnah bagi seorang laki-laki?” airmatapun mulai mengalir, bukan karena terharu disebabkan ada orang yang “ngefans” tapi karena merasa bahwa diri ini adalah sumber fitnah, belum bisa menyempurnakan hijab, tidak bisa menjaga diri, dll.
Lama diriku merenung.. “kenapa sampai ada yang terfitnah?? Toh aku tak pernah berkomunikasi dengannya? Jangankan berbicara, senyumpun tak pernah..” apa yang menyebabkan semua itu??apa???
Wajah… Ya inilah sumber dari fitnah itu..
Seketika itu pun diriku bertekad dengan kuat untuk mempelajari hukum cadar, walaupun masih teringat dengan kata-kata bapak, namun tak mengurungkan niatku untuk belajar..
Alhamdulillah alloh memudahkan jalanku untuk mempelajari ilmu tentang cadar ini, mulai dari dukungan akhwat, cerita cerita akhwat yang memberikan motivasi, buku-buku yang mereka pinjamkan, sampai ketika salah seorang ustadzah dari arab datang ke kota serambi madinahku buat memberikan dirosah..
Sampai suatu hari ketika sang ustadzah telah selesai memberikan dirosahnya, kulihat dirinya sedang duduk untuk istirahat, aku pun mengajak seorang kakak untuk menemaniku berbicara kepada ustadzah tentang masalah cadar (karena ketidaktahuanku bercakap dalam bahasa arab, makanya minta tolong ke akhwat buat jadi penerjemahnya… syukron wa jazaakillahu khair buat kk yang membantu diriku saat itu…)
Kk : “adik ini ingin bertanya kepada anda wahai ustadzah, dia ingin sekali memakai cadar namun orangtuanya melarangnya, tolong berikan nasehatmu padanya..”
Ustadzah: “kalau dia meyakini bahwa hukum cadar adalah wajib maka apapun konsekuensi yang harus dia dapatkan sekalipun orangtua melarang maka dia tetap harus memakainya, tapi ketika dia meyakini bahwa itu hanyalah sunnah maka lebih baik dia mengikuti permintaan orang tuanya”
(kira-kira seperti itulah percakapan mereka kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia)
Hemm..ternyata, point yang kudapatkan dari pernyataan ustadzah adalah “ilmu sebelum berbuat”,
yaa…aku harus mempelajarinya lagi lebih dalam tentang cadar (waktu itu aku masih menganggapnya sebatas sunnah)..
Hari-haripun kulalui dengan berusaha mencari tahu tentang hukum cadar. Mulai dari bertanya ke ustadz, bertanya ke akhwat dan berbagai cara kutempuh untuk mengetahui hukum sebenarnya dari cadar… sampai suatu ketika keyakinanku mengatakan bahwa cadar itu adalah sebuah kewajiban.. Tapi bagaimana dengan orangtua??
Inilah ujianku selanjutnya… aku harus berusaha memahamkan kepada mereka sedikit.. Akhirnya akupun berusaha menutupi wajah ini sedikit demi sedikit, walaupun belum menggunakan cadar tapi wajah ini sering kututup dengan jilbabku ketika ada seorang laki-laki ajnabi yang lewat dihadapanku…dan ini berlangsung sampai beberapa hari…
Suatu hari tiba-tiba keluargaku berkumpul di ruang keluarga, bapakku tiba-tiba mengatakan padaku
“bapak ga mau lihat kamu pakai cadar” tiba-tiba suasana dirumah menjadi tegang (ternyata selama ini bapak memperhatikanku, karena begitu seringnya aku menutup wajahku dengan jilbab yang kupakai, sampai beliau mengira bahwa aku telah bercadar waktu itu)
bapak dengan berbagai ucapannya sambil menunjuk-nunjuk ke arahku mengatakan.. “bapak ga mau kamu pakai cadar.,!!!!” “apapun alasannya, bapak ga mau kamu pakai cadar, kalau sampai pakai cadar, kamu jadi anak durhaka sama bapak!!!” “ga usah suruh temanmu kesini lagi, kalau ada temanmu yang datang, bapak akan usir..bla..bla..bla… ,
dan berbagai macam lagi perkataan bapak pada diriku saat itu”.
aku bisa paham terhadap ucapan bapak, karena memang beliau kurang paham apalagi beliau jarang bermulazamah dengan ustadz-ustadz, tapi yang membuatku begitu sedih adalah ketika ibuku mendukung argumen bapak dan juga ikut2an memarahiku dan melarangku..
Aku kaget , karena yang selama ini aku tahu bahwa ibu mengenal beberapa ustadz dan teman2 ku yang bercadar, dan pikirku waktu itu ibu mungkin setuju2 saja pada saat aku bercadar… tapi ternyata, ibuku pun melarang dan ikut-ikutan memboikotku… pada hari itu, bertepatan dengan perginya bapak kembali berlayar, sebelum beliau berangkat beliau datang kekamarku dan mendapati diriku yang hanya bisa menangis tersedu-sedu dan mengatakan “ingat,,bapak ga mau kamu pakai cadar!!!”
ya alloh, sekeras itukah hati bapak, sampai tidak mau mendengarkan penjelasanku tentang cadar??pikirku dalam hati
Hari pertama sejak peristiwa malam itu kulalui dengan tangisan di kamar.. Menangis..menangis dan terus menangis.. Satu hal yang membuatku begitu sedih ketika melihat sikap ibuku padaku, dulu ketika ada sebuah masalah yang kuperbuat dirumah hingga membuatku menangis tersedu-sedu, ibu biasanya langsung datang menghiburku dan mengatakan “sudahlah nak, nda usah menangis lagi..” tapi sekarang, seakan-akan beliau bukan ibuku, sikapnya yang keras dan cuek saja melihat diriku menangis tetap tidak mengubah pendiriannya untuk melarangku bercadar. Jangankan berbicara padaku, bahkan hanya sekedar menyuruhku makan, beliau menyuruh adikku datang ke kamar..
Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis dan berdoa pada alloh, namun aku yakin bahwa ujian ini akan segera berakhir, entah sehari, sepekan, sebulan, setahun bahkan bertahun-tahun, ya pasti akan berkahir!!.
teringat dengan kisah2 beberapa akhwat yang juga sempat mengalami kejadian yang sama.. Ada yang menyembunyikan cadarnya hingga 2 tahun lamanya, ada yang hampir diusir oleh orangtuanya, ada yang cadarnya dibakar…dan berbagai macam ujian yang dihadapi mereka..namun toh akhirnya Orangtua mereka mengizinkan bahkan sekarang mendukung anaknya..
“hey..kamu baru diuji seperti ini, masa mau nyerah begitu saja.. Apa ga ingat gimana perjuangan rosululloh dan para shahabatnya ketika memperjuangkan islam??? Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diusir oleh kaumnya sendiri, kaki beliau berdarah-darah karena dilempar batu, para shahabat bahkan ada yang rela tidak diakui oleh ibunya sendiri, dan kamu ingat sumayyah??? Wanita syahidah pertama yang rela disiksa oleh orang-orang kafir karena memeluk islam, hingga beliau menemui ajalnya.. Sekarang lihat dirimu???kalau cobaan ini saja bisa membuatmu menyerah dan jauh dari alloh,, kira2 ketika kamu hidup pada zaman nabi, apa kamu bisa menjadi salah seorang shahabiyah? ataukah kamu adlah salah seorang musuh dari islam???” akupun tersadar setelah melakukan dialog dengan diriku sendiri, segera aku ambil air wudhu dan sholat, dalam sholat kubaca surah an nashr
“innama’al ‘usri yusro..fainnama’al ‘usri yusro”
rasanya keyakinan akan pertolongan alloh semakin dekat itu begitu kuat..ya pertolongan itu akan datang fikirku…
Sampai hari ketiga, keadaan dirumah masih tetap sama.. Ibu juga nenekku masih tatap memboikotku, dan aku masih saja berada dalam kamar dengan memikirkan cara untuk meminta izin kembali ke bapak..tiba-tiba teringat akan cerita salah seorang kakak, ketika dia ingin mengutarakan keinginannya memakai cadar kepada orangtuanya…
“dek, dulu waktu ana ingin bercadar, orangtua melarang, namun karena kayakinan yang mantap untuk menutup aurat secara sempurna, akhirnya kutempuh berbagai cara meyakinkan bapak.. Dan cara yang kupilih adalah mengirimkan surat ke beliau dengan kalimat yang syahdu.. “wahai ayahku..kutulis surat ini…..bla..bla..bla(afwan, lupa isi suratnya)”.
Hemmm… tiba-tiba cara yang ditempuh sang kakak tadi, terlintas di dalam pikiranku, tapi bukan melalui surat, hanya sms yang bisa kukirimkan kepada bapakku untuk menjelaskan kenapa aku ingin bercadar…
“assalamu’alaikum, pa kabarnya gimna??semoga bapak baik2 saja..maaf sebelumnya jika saya lancang sms bapak, tapi saya sms hanya ingin menjelaskan kenapa saya ingin bercadar. Maaf pak, bukannya saya ingin menjadi anak yang durhaka karena tidak mematuhi perintah bapak, tapi karena keinginan saya yang ingin mengikuti perintah alloh makanya saya berani untuk memakai cadar. Saya begitu sedih ketika melihat ekspresi bapak yang begitu marah ketika mengetahui bahwa saya ingin bercadar, seakan-akan bapak sangat membenci cadar.. Saya tidak ingin bapak seperti itu, karena cadar juga merupakan bagian dari syari’at islam..dan yang saya pelajari bahwa istri2 nabi pun pakai cadar, kalau bapak benci cadar artinya bapak juga benci istri-istri rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam..bla..bla..bla….sms yang kukirm begitu panjang, 1 sms sampaii 7 layar dan aku mengirimkan sebanyak 3 kali sms..jadi kalau mau dihitung..kira2 aku mengirim sebanyak 21 sms ke bapak…
Beberapa saat setelah kukirimkan sms ke bapak..tiba-tiba ada sms yang masuk ke hpku, tapi belum berani kubuka isinya..
Sampai akhirnya hpku berdering, ketika kulihat nama yang memanggil ternyta adalah bapakku…
Sambil deg-degan kuangkat telpon bapakku, dan siap menerima omelan dari bapak lagi karena kelancanganku untuk meminta izin memakai cadar..
Aku : “assalamu’alaikum”
Bapak “wa’alaikumsalam, lagi dimana nak???”
Aku: “di rumah pak, lagi di kamar..”
Bapak: “kamu masih nangis??”
Aku: “i..i..iya pak..(sambil menghapus airmata)
Bapak:”bapak dah terima sms dari kamu. Kamu beneran mau pakai cadar???”
Aku: “i..i..iyya pak..”
Bapak: “ya udah…kalau mau pakai cadar, pakai cadar saja, asal hati harus lembut ya nak…”
Aku: “hah??” (dalam keadaan yang masih belum percaya, tiba2 sikap bapak berubah 180 derajat)beneran pak??”
Bapak:’ iya nak… mana mamamu??bapak mau bicara..”
Akhirnya bapak bicara ke ibu, dan dari percakapannya ibu mengatakan kalau bapak mengizinkan aku pakai cadar, dan ibu dilarang untuk melarangku bercadar.. masih belum percaya dengan keputusan bapak, akupun membaca sms yang dikirmkan bapak kepadaku sesaat sebelum beliau menelponku “ya udah kalau kamu mau pakai cadar bapak izinkan, ingat ya, hati harus lembut..janji ya..” alhamdulillah..bapak benar2 mengizinkanku…
Dan akhirnya.. Bismillah… tepat tanggal 5 ramadhan aku pun keluar dari rumah pertama kali dengan menggunakan cadar yang menutupi wajahku…
Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur diatas angkot dan airmata terus saja mengalir karena akhirnya pertolongan alloh datang juga setelah 3 hari diriku harus menangis di kamar tanpa henti, dan di boikot oleh orang tua sendiri… yaa..akhirnya akupun memakainya..semoga pakaian ini akan terus kukenakan hingga ajal menjemput..amin allohumma amin
“yaa muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik”
Serambi madinah,13 0ktober 2009
_______________________________________________________
Mengharukan dan penuh keajaiban bukan, kisah ikhwah kita diatas??? Mau?😉
Buat artikel selanjutnya insyaAllah ana akan memposting tema-tema berkenaan dengan hukum cadar. Ulama-ulama yang mewajibkan dan ulama-ulama yang tidak mewajibkan serta kesimpulan dari pembahasan tersebut. Yang semuanya ana ambil dari muslimah.or.id. InsyaAllah…

8 Komentar (+add yours?)

  1. Trackback: Hukum Cadar: Kesimpulan Antara 2 Pendapat Ulama (5) « Ukhtiy Fillah….
  2. kawanlama95
    Nov 18, 2009 @ 17:33:43

    Cadar di bolehkan, namun lihatlah kondisi masyarakat kita yang sebagian masih antipati. namun tetap semangat ya.

    Terus dalam hidayahNya Amien

    Balas

    • ukhtiyfillah
      Nov 18, 2009 @ 21:55:35

      Hamasah !!!!
      Allahu Akbar !!! ^^

      Balas

    • ukhtiyfillah
      Nov 20, 2009 @ 08:12:10

      tapi, jika qta terus-terusan melihat keadaan masyarakat disekitar, maka kapan qta bs menjalankan Islam yg kaffah. Paddahal Rasulullah sendiripun telah mewanti-wanti, Islam itu bermula dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. maka beruntunglah orang2 yg terasing itu…

      Balas

  3. Thalibatun Al-Kimiyya As-Sundawy
    Nov 19, 2009 @ 19:52:03

    bismillah…
    kl memang wajah menimbulkan fitnah berarti hukumnya wajib bg si akhwat u/ memakai cadar.
    pelan2 aja kasih tau ke ortu, dulu pun ana begitu ortu ga setuju, dibilangnya ky istri teroris, ninja, dsb.
    temen2 pun byk yg blg ga usah pk cadar, buat apa sih qt bukan di arab, lagian cadar kan cuma kebudayaan arab.
    alhamdulillah msh byk temen2 akhwat yg terus memotivasi ana & menemani ana u/ mencari ilmu ttg cadar di perpustakaan utama kampus, saat itu ana & temen2 menemukan buku2 ttg cadar menurut pendapat syaikh ibnu taimiyyah, syaikh al-albani, pendapat2 ulama yg mewajibkan & tdk mewajibkan…
    qadarallah, mulai semster 2 kemarin ana sudah bercadar.
    byk yg pro kontra ttg hal ini, temen2 ana pd kaget & temen2 ikhwan pd bengong, hhe…
    sbnrnya udh dari SMA dulu an tertarik dgn cadar, karena ana mmg suka cadar & ingin mengikuti para shahabiyah dulu…]
    ana risih ukh soalnya msh ada aja yg ganggu di jalan & kadang temen2 ikhwan kl ngomong suka natap ke wajah, padahal saat itu jilbab ana udh lebar & panjang…sedih rasanya…
    wlpn sampe sekarang di kalangan temen & keluarga besar masih pro kontra, tp ttp hrs mantapkan hati, namanya sunnah godaannya tentu lebih besar…kl dengerin pendapat orang2 mah, cuappe deyyhhh…hhe…

    saran ana u/ ukhtina hera, klpun memang anti merasa wajah anti menimbulkan fitnah tafadhally ahsannya pk niqab/cadar, tp itu semua kembali kepada anti, qt jg harus memperhatikan segala aspek, misalnya apakah lingkungan di rumah, kampus kondusif u/ menerima cadar. kl ana alhamdulillah kondusif, sama tetangga pun alhamdulillah menjaga silaturrahim…yg terpenting qt jgn menutup diri dari masyarakat..kl msh ragu, mendingan istikharah agar hati mantap.

    allahu ta’ala a’lam
    afwan

    Balas

    • ukhtiyfillah
      Nov 20, 2009 @ 08:05:15

      Iya ukh. Ukh, tolong ceritain dunk proses anti pake cadar dulu. Buat bagi2 pengalaman aja….

      Balas

    • ukhtiyfillah
      Nov 20, 2009 @ 17:19:36

      Afwan, semalem baca komen dr anti. Tak kirain komennya pendek. Makanya ana mtk diceritain lagi pengalaman2 anti ketika memilih untuk bercadar. Subhanallah, ternyata anti udah cerita lebih dulu🙂. Jazakillah khair ukhtiy fillah…

      Balas

  4. Thalibatun Al-Kimiyya As-Sundawy
    Nov 20, 2009 @ 17:42:04

    wa anti jazakillahu khayran ya ukhtina…
    melihat kondisi masyarakat maksudnya gmn penerimaan org2 ttg cadar, kondusifkah? atau ga? biar qt bs mencari solusinya, ttp bercadar tp masyarakat bs menerima. soalnya kan ad bbrp tmpt yg tdk diizinkan u/ pk cadar, hrs melepas cadar, tp alhamdulillah d indo g ad, mgkn sedikit sekali tmpt yg seperti itu. biar qt ttp istiqomah, ga buka tutup cadar…

    tambahan cerita di atas, kl dulu an sebelum bener2 mantap msh buka tutup cadar u/ melatih mental & tanggapan dr orang2 & biar temen2 jg g kaget. kl pergi ke luar rumah, kecuali kampus ana pake cadar, kl k kmpz ana belum pake. itu terjadi selama 1-2 mingguan kl ga salah, setelah itu ana bertekad u/ bener2 bercadar. ternyata alhamdulillah lingkungan ana kondusif, kadang kl mw pergi ke kampus, tetangga suka nyapa duluan atau ana duluan yg nyapa, yg penting sih ga menutup diri dari masyarakat. dulu waktu ana masih aktif d LDK kan suka ad agenda rutin stiap mingguan yg dihadiri seluruh ADK sekampus ikhwan wa akhwat. wkt tu ana pake jilbab yg ada cadar tempelnya, cuma cadarnya ga ana pake, keliatan kan tempelannya. trus ditanya sama temen2 & kakak senior kok jilbabnya ad tempelannya gt, ya dibilang aja lagi ngelatih buat pk cadar & ana bilang kl d rumah & lingkungan sktr udh pk cadar cuma k kmpz aj yg belum, eh…kakak kelas an tu malah bilang, kenapa ga dipake? gimana si neng icha teh, ya ana jelasin aja. alhamdulillah ana dapet masukan dari temen2 & kakak kelas, meskipun kakak mentoring & MR ana nentang, apalagi setelah tau kl ana jg ikut kajian salaf, ya akhirnya ana disuruh milih…ana lebih milih tetep ikut kajian salaf, karena banyak faktor & ini pun sudah hasil pemikiran ana matang2…byk yg menyayangkan an keluar & temen2 msh byk yg ngajakin an u/ gabung lg, tp an g mw…meskipun gt alhamdulillah silaturrahim ttp terjalin & ana msh deket bgt sm temen2 akhwat haroki. wew…kok jd g nyambung ya, afwan ya ukhti sayang, hhe…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: