Karakteristik Seorang Muslimah

1_529789393mTulisan ini terinspirasi dari sebuah materi halaqah yang pernah ana dapetin waktu masih di Palembang. Semoga aja bisa ngasih sedikit manfaat buat ikhwah fillah sekalian, khususnya para ukhtiy yang terus berjuang dan memperjuangkan keistiqamahan dijalan Allah. Keep spirit ya ukh ! J. Tema kali ini terasa cukup berat bagi ana karena yang akan dibahas sebagian besar adalah kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang manusia yang beriman dan percaya kepada datangnya hari akhir. So kalo ditengah jalan (ditengah pembahasan maksudnya….) antunna sekalian nemuin adanya kesalahan, harap segera dikoreksi ya. Buat kebaikan kita bersama ([lanjutkan!] maksudnya ??? ;-)). Ditunggu ya……

Disini kita akan ngebahas dua point utama berkaitan dengan peran kita sebagai seorang muslimah. Sebenernya peran muslimah tu gak cuma ini aja. Ada banyaaaaaaak banget peran yang bisa dijalankan oleh para muslimah (saking banyaknya, huruf a-nya aja sampe ada satu, dua, tiga….. itung sendiri deh ya J). But disini, dua point besarnya insyaallah akan mewakili peran kita-kita sesuai dengan firman Allah : ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat [51] : 56)

  • Sebagai hamba Allah
    Sebagai hamba Allah tentunya seorang muslimah memiliki beberapa kewajiban yang mesti ia penuhi kepada Rabbnya. Sesuai ama ayat yang udah disebutin diawal tadi, yaitu tujuan penciptaan kita (manusia) ini gak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala –tanpa terkeculi siapapun dia. Mo anak pejabat kek, mo tukang sayur kek, mo kakek-kakek kek (baru tau ada kakek-kakek yang muslimah…. hhehhehehe)
    Balik ketopik, disini kewajiban seorang muslimah meliputi :

1. Mengerjakan hak islam yang lima (Rukun Islam)
sujud Sesuai ama hadist yang diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim, dari Ibnu ’Umar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda : ”Islam itu ditegakkan diatas lima dasar : bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya; mendirikan shalat; menunaikan zakat; haji ke Baitullah; dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”
Nah, hal ini merupakan pokok utama dari yang namanya Islam. Namun meski ini pokok, bukan berarti Islam tuh hanya mengerjakan yang lima ini aja. Semua sisi kehidupan kita didunia dan persiapan kita menuju kehidupan diakhirat pun diatur sedemikian rupa oleh Islam. Tujuannya bukan untuk mempersulit kita melainkan untuk menjamin kemaslahatan hidup kita didunia ini. Sebagai contoh, kalo mo pake masker anti jerawat misalnya, pasti kamu bakal ngebaca dulu yang namanya petunjuk penggunaan. Begitupun halnya kehidupan kita didunia, Allah udah ngasih tau petunjuk penggunaannya lewat Al-Qur’an serta lisan nabiNya. Tinggal kitanya aja yang mau atau enggak menggunakannya. Kalo mau, maka kita akan bahagia dunia dan akhirat, but kalo enggak ”Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail [92] : 14). Nah loh!

2. Menerima qadha dan qadar Allah dengan ridha
Yakinlah bahwa semua yang terjadi pada diri kita ini sudah merupakan ketetapan dari Allah. Hanya saja, ada ketetapan yang gak bisa diganggu gugat lagi tapi ada juga ketetapan Allah yang masih bisa kita ubah sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Misalnya, udah menjadi ketetapan Allah bahwa kapan kita akan kembali menghadapNya (wafat maksudnya) tapi kita berkewajiban mengusahakan mau mati dengan cara seperti apa. Mau khusnul khatimah, ya rajin-rajin ibadah. Kalo gak mau, siap-siap aja mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzubillah. Semoga Allah menjauhkan kita dari akhir kehidupan yang buruk…..

3. Ikhlas
Ikhlas (khalashah) secara bahasa berarti bersih murni. Sedangkan menurut istilah dapat diartikan sebagai membersihkan maksud dan motivasi kepada Allah dari maksud dan niat lain (semoga juga niat ana nge-post artikel-artikel di blog ini pun gak lain hanya ingin meraih ridha Allah dalam da’wah fi sabilillah. Kan amal itu tergantung kepada niat. (Ya Allah, jadikan niat dihati hambaMu ini semata-mata hanya mengharap ganjaran dariMu….). Ala kulli hal dalil tentang ikhlas ini bisa diliat di QS. Al-Bayyinah [98] : 05, ”Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, ikhlas menaatiNya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” Juga di QS. Al-A’raf [07] : 29 yang bunyinya : ”….. dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepadaNya…..”
Dari sini dapat disimpulkan tanda-tanda ikhlasnya seorang hamba itu diantaranya adalah :
– Tidak mencari popularitas dan tidak menonjolkan diri
– Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian (cuma karena hasil kerjanya gak ada yang muji, jadi males ah ngelakuinnya lagi…. *Lhah, apakah pujian manusia itu lebih baik dari keridhaan Rabb yang Maha Agung?)
– Tidak silau dan cinta kepada jabatan
– Tidak diperbudak imbalan dan balas budi
– Tidak mudah kecewa
– Tidak membedakan amal besar dan amal kecil (’Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit’ bisa jadi motivasi yang cocok tuh…!)
– Tidak fanatik golongan (cz biasanya orang-orang yang fanatik golongan ini cuma orang-orang yang ngekor dari belakang serta cuma taqlid doang tanpa ada pemahaman terhadap tujuan da’wahnya dimana ia berkontribusi –bukan pula ikhlas Lillahi Ta’ala)
– Ridha dan marahnya bukan karena berdasarkan pribadi
– Ringan, lahap dan nikma dalam beramal
– Tidak egois, karena selalu mementingkan kepentingan bersama
– Tidak membeda-bedakan pergaulan

4. Sabar
”Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran [03] : 200).
Allah menyeru khusus kepada orang-orang beriman untuk bersabar. Dan sabar itu akan membawa kita kepada keberuntungan (”….dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”). Suri tauladan kita, manusia terbaik dimuka bumi ini pun , Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam memuji orang-orang yang bersyukur dan bersabar sebagai kebaikan atas dirinya (orang yang mengerjakannya), ”Menakjubkan sungguh urusan orang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali pada orang yang beriman. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa mushibah dia bersabar,dan sabar itu baik baginya.” (HR Abu Dawud & At-Tirmidzi). So kenapa kita gak mulai melatih kesabaran diri mulai dari saat ini. Terapkan prinsip 3M-nya Aa Gym buat point ini; Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil dan Mulai dari sekarang…. Kalo setiap orang mampu bersabar dan tetap kuat dalam kesabarannya, pastinya gak akan ada lagi yang namanya aksi-aksi anarkis menentang si A, demo yang berujung kericuhan menolak kebijakan si B n lain sebagainya kayak yang rame diberitakan oleh media. Satu penghargaan patut diberikan ama para suporter Persipura Jaya Pura yang mampu ngasih spirit kesabaran kepada para pemainnya yang gak terima ama keputusan wasit saat mereka tandang ke stadion Jaka Baring Palembang dalam final piala Copa 2009-10 kemaren. Meski kalah, but para suporter itu tetep bisa memperlihatkan ke-sportifitas-an mereka. Itu baru yang namanya suporter. Keren lah pokoknya (lhah, kok malah ngobrolin bola? Ups, afwan. Maklum hobi lama ;-)) Ehhmm…. indahnya bersabar.

5. Selalu merasa diawasi oleh Allah (Muraqabatullah)
Tiga pokok ajaran ini; iman, islam dan ikhsan. Iman itu adalah mengakui dengan perkataan, membenarkan dengan hati serta mengamalkan dengan perbuatan. Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat ”Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah”, mengerjakan shalat lima waktu, zakat, naik haji ke Baitullah, serta berpuasa pada bulan Ramadhan. Sedangkan ikhsan adalah beribadah seolah-olah melihat Allah, jika tidak mampu berlaku demikian –karena tidak khusyu’nya hati kita kepadaNya– maka yakinlah bahwa Allah senantiasa melihat kita. Namun muraqabatullah bukan hanya pada saat kita beribadah aja. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita diwajibkan untuk selalu ingat bahwa Allah selalu mengawasi setiap tingkah laku kita, sehingga setiap gerak gerik kita akan selalu terjaga dari maksiat kepadaNya. Amiin Ya Rabbul ’Alamiin…..

6. Mencintai Allah dan RasulNya
Allah berfirman : ”Katakanlah (Muhammad) : ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [03] : 31). So bagi kita-kita yang ngaku cinta sama Allah tapi masih enggan buat mengikuti sunnah (perbuatan) RasulNya, maka cinta kita itu patut dipertanyakan. Lhah wong Allah sendiri pun udah berfirman lewat kitabNya yang disampaikan melalui lisan RasulNya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. So apa yang kita tunggu buat ngebuktiin kalo kita pun cinta dan ingin dicintai oleh Allah?!

7. Wara’ serta Meninggalkan Syubhat
Syubhat artinya adalah sesuatu yang membuat ragu. Wara’ atau berhati-hati agar tidak menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah untuk kita –atau malah mengharamkan apa-apa yang mestinya halal– adalah perbuatan yang disunnahkan oleh RasulNya bahkan menjadi sebuah kewajiban bagi semua manusia yang mengaku dirinya muslim/ah. Hal ini sangat mmpengaruhi esensi atau nilai dari ibadah yang akan, sedang atau telah kita lakukan. Untuk lebih jelas, renungi deh apa yan telah disampaikan oleh Qudwah kita ini –uswatun hasanah sepanjang masa– Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Sesunguhnya yang halal itu sudah jelas dan sesunguhnya yang haram juga sudah jelas. Diantara keduanya banyak terdapat dua hal yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang memelihara diri dari syubhat, berarti dia telah memelihara agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terperosok kedalam syubhat, berarti telah terperosok kedalam yang haram. Hal ini seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat lahan terlarang yang dikhawatirkan ternaknya memasuki lahan terlarang tersebut. Ketahuilah bahwa setiap penguasa memiliki larangan. Ketahuilah bahwa larangan Allah itu semua hal yang diharamkanNya. Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia itu terdapat segumpal daging yang jika ia baik, maka akan baiklah seluuh jasadnya; dan jika ia buruk, maka akan buruklah semua jasadnya, ketahuilah dia adalah qalbu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kita mengetahui, sebelum menyuruh untuk melakukan sesuatu, Rasulullah-lah yang pertama-tama melakukannya. Begitupun dengan perkara syubhat ini. Terbukti dari satu lagi hadist beliau yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim Radhiyallahu anhu, Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pernah menemukan sebuah biji kurma di jalan, lalu beliau bersabda : ”Sekiranya aku tidak khawatir bahwa kurma ini berasal dari kurma zakat, tentu aku sudah memakannya.” Nah, Rasulullah yang terbebas dari dosa dan kesalahan itu aja masih bersikap wara’ terhadap apa yang meragukan dirinya, mengapa juga kita yang gak punya jaminan sedikitpun ini malah meremehkan bahkan terkesan gak perduli dengan perkara syubhat???

8. Mengharapkan RahmatNya
Hanya orang-orang gak beriman yang senantiasa perputus asa dari rahmat Allah, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [02] : 218). Orang-orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri adalah contoh orang yang berputus asa dari rahmat Allah. Padahal rahmatNya tuh sangat luas –bahkan orang kafir pun Allah beri rahmatNya. Makanya Allah mengharamkan surga atas orang-orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang zhalim seperti itu. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari hal semacam itu.

9. Tawakkal
Berserah diri kepada Allah itu wajib dilakukan oleh kita sebagai muslim. Kalo gak, maka kita termasuk makhluk yang sombong. Padahal gak ada sesuatu pun pada diri ini –sekecil apapun itu– yang dapat kita sombongkan dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi, yang jadi catatan, tawakkal ini harus diletakkan ditempat yang sesuai. Jangan lantas asal tawakkal aja. Tawakkal baru boleh dikatakan sebagai sebenar-benarnya tawakkal ketika apa yang menjadi hajat kita itu telah kita usahakan. Lantas setelah itu kita disuruh untuk berdoa. Baru kemudian tawakkal yang menjadi modal bagi kita untuk ridha atas apa yang akan Allah berikan untuk kita. Mentang-mentang dalam QS. Ibrahim [14] : 21 Allah mengabadikan perkataan para rasulNya ”Dan mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami…..” ketika musuh-musuh Allah dan rasulNya terus melakukan penolakan serta gangguan kepada mereka, lantas kita dengan seenaknya menjadikan dalil ini sebagai hujjah bagi kita untuk bersikap malas. ”Tenang…. Tawakkal aja. Pasti Allah bakal ngasih rejeki buat kita. Kan Allah itu Maha Pengasih.” Ngomong gitu sambil males-malesan n gak ngelakuin usaha apapun? Sampe semua es di kutub selatan cair juga gak bakal turun rejeki buat loe! (ups…! Keceplosan. Afwan….😀 *abis sebel sih ;-))

10. Percaya atas pertolongan Allah
Sesungguhnya Allah itu menurut persangkaan hambaNya. So kalo kita percaya bahwa Allah bakal menolong setiap kesusahan yang dialami hambaNya, pasti pertolongan itu bakal datang. Kunci utamanya lagi-lagi adalah USAHA, DOA, TAWAKKAL plus SABAR……

11. Selalu menyertakan niat jihad atas segala aktivitasnya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “’Barangsiapa mati, sementara ia belum pernah berperang (fi sabilillah) atau dalam dirinya belum pernah terlintas niat untuk berperang (fi sabilillah), maka ia mati berada dalam salah satu cabang nifaq (kemunafiqan).” (HR. Muslim). Dan jihad gak cuma diartikan sebagai perang melawan kaum musyrikin aja. Thalabul ‘ilmi (belajar mencari ilmu yang diridhai Allah) pun dapat termasuk jihad jika niat kita semata-mata ikhlas karenaNya. N jihadnya para ummi kita nih –wajib dipelajari juga buat yang udah niat jadi ummi ;-)– termasuk taat sama suami, menjaga kehormatan dan harta suami saat suaminya gak ada, plus ngurus rumah tangga dan anak-anaknya –bahkan sebelum si anak lahir kedunia pun (maksudnya pas masih dikandung oleh umminya). Betapa adil Sang Khalik, wanita yang diciptakan dengan fisik yang gak sekuat jika dibanding para ikhwan masih dikasih kesempatan buat memperoleh pahala jihad sama kayak yang diberikan pada mereka (para ikhwan tersebut). Betapa beruntung kita ditakdirkan hidup sebagai seorang muslimah. Ehhhhmmmm, so sweet……

12. Selalu memperbarui taubat dan istighfar
Betapa diwajibkannya perintah untuk memperbarui taubat dan istighfar ini, sampe-sampe banyak banget ayat-ayat cinta Allah buat kita yang menegaskannya. Sebut aja QS. An-Nuur [24] : 31, QS. Huud [11] : 90 n QS. At-Tahriim [66] : 8. Coba buka lagi deh mushaf Al-Qur’an antum. ”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya…..” (QS. At-Tahriim [66] : 8). Betapa cintanya Allah terhadap orang yang beriman, sampe peringatanNya ini diulang-ulang hingga berkali-kali. ”Hai orang-orang yang beriman…..” seruan lembut dari Allah khusus buat kita, yah! khusus buat kita. Siapa yang hatinya gak gerimis saat Allah yang Maha Lembut memuji kita sebagai orang yang beriman serta mengingatkan kita untuk selalu taubat padaNya. Subhanallah Ya Rabbi…..:’-)

13. Mempersiapkan diri untuk hari akhir (mengingat mati)
”Setiap yang bernyawa pasti akan mati….” Jika setiap melakukan aktivitas apapun kita selalu ingat akan penggalan ayat ke 185 dari Qur’an surat [03] Ali Imran tersebut, pastinya semua yang akan kita lakukan gak akan ada yang melenceng dari syariatNya. Alangkah indahnya jika seisi dunia ini berbuat hal yang demikian. Akan tewujudlah apa yang kita harap-harapkan selama ini yaitu menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ’alamin. ”…. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu….” lanjut kalimat kedua dalam ayat ini. Sehingga memotivasi kita untuk mendapat kebaikan yang sempurna pada hari kiamat kelak. Caranya adalah dengan memperbaiki diri mulai dari sekarang untuk bekal dihari selanjutnya (hari akhir). Boleh tuh dipake lagi rumus 3M-nya Aa Gym (Hehhehe… Maklum fansnya Aa Gym. Sampe rada histeris pas Aa mampir kekampusnya ana, dapet fotonya lagi. Tapi gak foto berdua lho ya! *halah, malah curhat lagi nih ;-))

  • Sebagai da’iyah bagi masyarakat
    ”Sampaikanlah walau hanya satu ayat.” (Ana lupa kalimat ini dari nash Qur’an atau hadist. Ada yang tau? Mohon kasih tau ya….), atas dalil itulah maka kita wajib untuk berda’wah kapanpun n dimanapun kita berada. Kita adalah da’i sebelum menjadi apapun. Namun apa-apa yang kita lakukan hendaklah berlandaskan dalil dan pengetahuan yang mencukupi. Maka itu, terkait dengan peran kita –para muslimah n calon ummi– sebagai da’iyah bagi masyarakat, tiga proses ini yang insyaallah akan dapat dijadikan pedoman dalam memperbaiki sistem dan lingkungan sekitar kita.

Pertama ; Tarbiyah dzatiyah atau kalo dibahasakan dalam bahasa Indonesia artinya adalah pembinaan pribadi. Artinya seorang muslimah dituntut untuk memahami pada manhaj manakah ia berpijak serta ia juga harus memiliki kepribadian yang baik. Di point ’ikhlas’ juga udah sedikit disinggung tentang masalah ini. Manhaj atau sistem dimana kita dibina, ‘dibesarkan’, ‘dirawat’ serta dididik untuk kemudian diterjunkan ke medan da’wah haruslah dipahami dengan betul-betul oleh kita sebagai penggeraknya. Jangan hanya kemudian sekedar ikut-ikutan dan gak ngerti kemana arah pergerakan yang kita jalankan ini. Walhasil, kalo ada orang yang kemudian mengkritik sebagian dari sistem yang kita pegang, maka dengan serta merta kita langsung mengkafirkan orang tersebut, menyebutnya sebagai ahli bid’ah dan sebagainya yang betul-betul gak enak didenger oleh sang telinga (gak kasian apa, liat telinga saudara kita kepanasan gara-gara ulah lidah kita?). Membela apa yang kita yakini benar emang diperbolehkan, tapi kalo tanpa hujjah yang jelas tu namanya cuma sekedar taqlid doang. Akan lebih baik lagi kalo kita merenungi lagi apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam berikut ini, ”Aku menjaminkan rumah di surga untuk orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia benar.” (HR. Muslim). Siapa yang mau punya investasi rumah di surga?
saff Sekedar intermezzo, pas lagi browsing, cz ”machine error” ana nyasar ke sebuah blog seorang ikhwah yang intinya ngebahas tentang perbedaan dari manhaj salafy haraki dengan salafy yamani/hijazi atau kalo bahasa ana salafy non-haraki atau gitu-gitu deh ah…😛. Gak ada yang salah dengan artikel ikhwah (salafy haraki) tersebut. Yang malah ngebuat beberapa ikhwah tersebut tampak konyol –menurut ana– adalah pas ana baca koment-koment yang ada. Masa’ jadi ribut n serang-serangan dengan kata-kata yang –meski terkesan lembut tapi– lagi-lagi buat kuping panas dengernya (maksudnya buat mata sakit ngeliatnya *kan dibaca di blog…. **bingung mode on, ambil garuk-garuk kepala). Gimana kita mau da’wah kepada umat kalo intern kita aja masih suka sama yang namanya saling salah-menyalahkan, merasa bener sendiri, saling hujat sesama ikhwah. Dimana kepribadian kita sebagai muslim yang baik? Kenapa slogannya teh botol sosro ”Apapun makanannya, minumnya teh botol sosro” gak kita terapkan dalam hubungan kita sesama ikhwah yang berjuang atas nama agama ini? Apapun manhajnya, selama dia masih meyakini ’Laa ilaha ilallah, Muhammadar rasulullah’ dalam hatinya, serta masih menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pegangan hidupnya, maka ia berhak disebut sebagai saudara kita se-aqidah. Ukhtiy wa akhiy, masih banyak yang harus kita prioritaskan dalam langkah kita berda’wah ini ketimbang menghabis-habiskan waktu, pikiran dan energi kita untuk memenangkan argumen bahwa manhaj yang kita ada didalamnya-lah yang paling benar. Mau salafy haraki, salafy non haraky, Hisbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, Muhammadiyah, NU, maupun yang punya slogan ”Besih, Peduli, Profesional” pun *;-) selagi masih memperjuangkan tegaknya Islam dibumi Allah ini, maka ia adalah SAUDARA….
Eh,eh,eh…. (*tersadar dari lamunan), kita kan mau ngebahas yang namanya pembinaan pribadi. Kok malah ngebahas tentang masalah ukhuwah sih?. Ehhmm ya, salah satu hal yang kembali perlu mendapat binaan dalam ranah da’wah saat ini adalah permasalahan ukhuwah. Point pertama yang jadi bahasan ana di artikel sebelumnya pun adalah tentang masalah ukhuwah (baca deh ’Di Jalan Da’wah Aku Melangkah’). Nah, tautannya, kalo dimasing-masing pribadi diri kita sendiri udah mampu dimanajemen/diatur dengan baik, maka dengan sendirinya nilai-nilai ukhuwah –baik dalam intern manhajnya maupun di luar dari itu– pun akan terbina juga. Setelah itu, dampak yang lebih global lagi insyaallah bakal terwujud, yaitu terbentuknya kembali sistem yang pernah dibangun oleh Rasulullah empat belas abad yang lalu, sistem kekhalifahan. Jika semua manhaj Islam bersatu, maka apa yang gak mungkin. Inget lho, Islam ini mayoritas di Indonesia bahkan di dunia sekalipun. Gak inginkah kita membangun kembali peradaban Islam yang pernah dibangun oleh Rasulullah dan para shahabatnya terdahulu (salafush-shalih) ??? Jawabannya ada pada antum sendiri….

Kedua ; Menata waktu seefektif mungkin.
Ehhmmm, lagi-lagi nyangkut ama materi tentang tawazun. Menata waktu agar efektif juga memerlukan keseimbangan dari kita sebagai yang mengatur. (Ana jadi nyinggung diri sendiri nih ceritanya). Seimbang itu gak gampang –seenggaknya menurut ana saat ini. Makanya, buat para ikhwan yang punya niat buat poligami, mending gak usah deh kalo masih khawatir gak bisa berlaku adil (lho?). Terkait dengan peran kita ini, ’efektif’ merupakan satu kata kunci yang dapat mewakili agar kita bersikap seimbang. Ada waktu buat da’wah, ada waktu buat menuntut ilmu (sekolah, kuliah dan sejenisnya), ada waktu buat keluarga (orang tua, suami–bagi yang udah, dan sejenisnya) n buat diri sendiripun ada jatah waktunya –meski masih dalam tujuan utama kita sebagai manusia yaitu beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariat [51] : 56). Ngaturnya? Insyaallah anti lebih tau (cz ana pun masih berusaha buat tawazun, hehehhe…..)

Terakhir ; Melakukan aktifitas yang mendukung profesionalitas kerja (itkanul akmal)
Contoh konkritnya aja nih, riyadhah tiap hari. Nganter adik sekolah pake sepeda pun bisa diitung sebagai olahraga lho kalo kita ikhlas melakukannya (pengalaman pribadi ni ukh ;-)). Selain itu, daurah-daurah yang insyaallah berhubungan dengan keorganisasian wajib diikuti buat nambah wawasan kita untuk itu. Di rohis-rohis SMA atau LDK-LDK ana rasa selalu ada yang namanya daurah up grading buat para kadernya. Ilmu dapet, pengalaman organisasi dapet, ukhuwah pun makin erat terjalin. So tunggu apa lagi ukh !!! J

Nah, mungkin itulah sedikit ilmu yang dapat ana bagi pada ikhwah fillah –khususnya para ukhti sekalian– kali ini. Bukan untuk menggurui namun semoga dapat menjadi sarana buat kita dalam menjalin ukhuwah Islamiyah dimanapun kita berada. Semoga dapat menjadi ladang amal buat ana serta dapat bermanfaat buat semua. Amin Ya Rabbal ’Alamin ^__________^

Yogyakarta

Isnain, 06 Juli 2009 @ 11.20pm

3 Komentar (+add yours?)

  1. Adinda Putri
    Agu 02, 2009 @ 04:09:24

    Assalamualaikum
    Ijin co-paste ya kak
    Syukron

    Balas

  2. Trackback: Ukhtiy, Engkaukah Bidadari Itu? « Ukhtiy Fillah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: