<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>:: Ukhtiy FiLLah&#039;s BLog ::</title>
	<atom:link href="http://ukhtiyfillah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ukhtiyfillah.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 30 Aug 2011 17:44:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ukhtiyfillah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/728d0c0e63ef9601ceb92e7cf17d7acd?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>:: Ukhtiy FiLLah&#039;s BLog ::</title>
		<link>http://ukhtiyfillah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ukhtiyfillah.wordpress.com/osd.xml" title=":: Ukhtiy FiLLah&#039;s BLog ::" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ukhtiyfillah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Janganlah Buat Puasamu Sia-Sia</title>
		<link>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/janganlah-buat-puasamu-sia-sia/</link>
		<comments>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/janganlah-buat-puasamu-sia-sia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 14:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>أختي في الله</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[batal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[lagwu]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[rofats]]></category>
		<category><![CDATA[Shaum]]></category>
		<category><![CDATA[sia-sia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ukhtiyfillah.wordpress.com/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Inilah yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur lagi membawa berita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=764&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Inilah yang disabdakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang jujur lagi membawa berita yang benar,</p>
<p>رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ</p>
<p>“<em>Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga</em>.” (HR. Ath Thobroniy dalam <em>Al Kabir</em> dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih At Targib wa At Tarhib</em> no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini <em>shohih ligoirihi</em> -yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya-)</p>
<p>Apa di balik ini semua? Mengapa amalan puasa orang tersebut tidak teranggap, padahal dia telah susah payah menahan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari?</p>
<p>Saudaraku, agar engkau mendapatkan jawabannya, simaklah pembahasan berikut mengenai beberapa hal yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia -semoga Allah memberi taufik pada kita untuk menjauhi hal-hal ini-.<span id="more-764"></span></p>
<p><strong>1. Jauhilah Perkataan Dusta (<em>az zuur</em>)</strong></p>
<p>Inilah perkataan yang membuat puasa seorang muslim bisa sia-sia, hanya merasakan lapar dan dahaga saja.</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang tidak meninggalkan <strong>perkataan dusta</strong> malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.</em>” (HR. Bukhari no. 1903)</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan <em>az zuur</em>? As Suyuthi mengatakan bahwa <em>az zuur</em> adalah berkata dusta dan menfitnah (<em>buhtan</em>). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (<em>Syarh Sunan Ibnu Majah, </em>1/121, Maktabah Syamilah)</p>
<p><strong>2. Jauhilah Perkataan <em>lagwu</em> (sia-sia) dan <em>rofats </em>(kata-kata porno)</strong></p>
<p>Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan <em>lagwu</em> dan <em>rofats</em>.</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ</p>
<p>“<em>Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.</em>” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih At Targib wa At Tarhib</em> no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini <em>shohih</em>)</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan <em>lagwu</em>? Dalam <em>Fathul Bari</em> (3/346), Al Akhfasy mengatakan,</p>
<p>اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه</p>
<p>“<em>Lagwu</em> adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”</p>
<p>Lalu apa yang dimaksudkan dengan <em>rofats</em>? Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p>وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل</p>
<p>“Istilah <em>Rofats</em> digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”</p>
<p>Al Azhari mengatakan,</p>
<p>الرَّفَث اِسْم جَامِع لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُل مِنْ الْمَرْأَة</p>
<p>“Istilah <em>rofats</em> adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita.” Atau dengan kata lain <em>rofats</em> adalah kata-kata porno.</p>
<p>Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.</p>
<p><strong>3. Jauhilah Pula Berbagai Macam Maksiat</strong></p>
<p>Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram. Perhatikanlah saudaraku petuah yang sangat bagus dari Ibnu Rojab Al Hambali berikut:</p>
<p>“Ketahuilah, amalan <em>taqarrub</em> (mendekatkan diri) pada Allah <em>ta’ala</em> dengan meninggalkan berbagai syahwat yang mubah ketika di luar puasa (seperti makan atau berhubungan badan dengan istri, -pen) <strong>tidak akan sempurna</strong> hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (<em>Latho’if Al Ma’arif</em>, 1/168, Asy Syamilah)</p>
<p>Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus:</p>
<p>“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat <em>Latho’if Al Ma’arif</em>, 1/168, Asy Syamilah)</p>
<p>Itulah sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus dilakukan. Hendaknya seseorang menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat. Ibnu Rojab mengatakan,</p>
<p>أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ</p>
<p>“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”</p>
<p>Itulah puasa kebanyakan orang saat ini. Ketika ramadhan dan di luar ramadhan, kondisinya sama saja. Maksiat masih tetap jalan. Betapa banyak kita lihat para pemuda-pemudi yang tidak berstatus sebagai suami-istri masih saja berjalan berduaan. Padahal berduaan seperti ini telah dilarang dalam sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, namun hal ini tidak diketahui dan diacuhkan begitu saja oleh mereka.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ</p>
<p>“<em>Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahramnya.</em>” (HR. Bukhari, no. 5233)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p>أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ</p>
<p>“<em>Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. </em>(HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini <em>shohih ligoirihi –</em>shohih dilihat dari jalur lain-)</p>
<p>Apalagi dalam pacaran pasti ada saling pandang-memandang. Padahal Nabi kita –<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>- telah memerintahkan kita memalingkan pandangan dari lawan jenis. Namun, orang yang mendapat taufik dari Allah saja yang bisa menghindari semacam ini.<tt> Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,</tt></p>
<p>سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.</p>
<p><em>Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu </em><em>‘alaihi wa sallam</em> tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah <em>shallallahu alaihi wa sallam</em> memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku. (HR. Muslim no. 5770)</p>
<p>Kalau di luar Ramadhan, perbuatan maksiat semacam ini saja jelas-jelas dilarang maka tentu di bulan Ramadhan lebih tegas lagi pelarangannya. Semoga kita termasuk orang yang mendapat taufik dari Allah untuk menjauhi berbagai macam maksiat ini.</p>
<p><strong>Apakah Dengan Berkata Dusta dan Melakukan Maksiat, Puasa Seseorang Menjadi Batal?</strong></p>
<p>Untuk menjelaskan hal ini, perhatikanlah perkataan Ibnu Rojab berikut, “Mendekatkan diri pada Allah <em>ta’ala </em>dengan meninggalkan perkara yang mubah <strong>tidaklah akan sempurna</strong> sampai seseorang menyempurnakannya dengan meninggalkan perbuatan haram. Barangsiapa yang melakukan yang haram (seperti berdusta) lalu dia mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan yang mubah (seperti makan di bulan Ramadhan), maka ini sama halnya dengan seseorang meninggalkan yang wajib lalu dia mengerjakan yang sunnah. Walaupun puasa orang semacam ini tetap dianggap sah menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama) yaitu orang yang melakukan semacam ini tidak diperintahkan untuk mengulangi (mengqodho’) puasanya. Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama.”</p>
<p>Ibnu Hajar dalam <em>Al Fath</em> (6/129) juga mengatakan mengenai hadits perkataan <em>zuur</em> (dusta) dan mengamalkannya:</p>
<p>“Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum dan jima’ (berhubungan suami istri).”</p>
<p>Mula ‘Ali Al Qori dalam <em>Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih</em> (6/308) berkata, “Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang haji yaitu pahala pokoknya (<em>ashlu</em>) tidak batal, tetapi kesempurnaan pahala yang tidak dia peroleh. Orang semacam ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang dia lakukan.”</p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong>: Seseorang yang masih gemar melakukan maksiat di bulan Ramadhan seperti berkata dusta, memfitnah, dan bentuk maksiat lainnya yang bukan pembatal puasa, maka puasanya tetap sah, namun dia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi Allah. –Semoga kita dijauhkan dari melakukan hal-hal semacam ini-</p>
<p><strong>Ingatlah Suadaraku Ada Pahala yang Tak Terhingga di Balik Puasa Kalian</strong></p>
<p>Saudaraku, janganlah kita sia-siakan puasa kita dengan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Marilah kita menjauhi berbagai hal yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa kita. Sungguh sangat merugi orang yang melewatkan ganjaran yang begitu melimpah dari puasa yang dia lakukan. Seberapa besarkah pahala yang melimpah tersebut? Mari kita renungkan bersama hadits berikut ini.</p>
<p>Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p>« كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى »</p>
<p>“<em>Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku</em>.” (HR. Muslim no. 1151)</p>
<p>Lihatlah saudaraku, untuk amalan lain selain puasa akan diganjar dengan 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Namun, lihatlah pada amalan puasa, khusus untuk amalan ini Allah sendiri yang akan membalasnya. Lalu seberapa besar balasan untuk amalan puasa? Agar lebih memahami maksud hadits di atas, perhatikanlah penjelasan Ibnu Rojab berikut ini:</p>
<p>“Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. Mengenai ganjaran sabar, Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p>إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.</em>” (QS. Az Zumar [39]: 10). Bulan Ramadhan juga dinamakan dengan bulan sabar. Juga dalam hadits lain, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda, <em>“Puasa adalah setengah dari kesabaran.”</em> (HR. Tirmidzi, Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir </em>no. 2658 mengatakan bahwa hadits ini <em>dho’if</em> , -pen)</p>
<p>Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan. Dan dalam puasa terdapat tiga jenis kesabaran ini. Di dalamnya terdapat sabar dalam melakukan ketaatan, juga terdapat sabar dalam menjauhi larangan Allah yaitu menjauhi berbagai macam syahwat. Dalam puasa juga terdapat bentuk sabar terhadap rasa lapar, dahaga, jiwa dan badan yang terasa lemas. Inilah rasa sakit yang diderita oleh orang yang melakukan amalan taat, maka dia pantas mendapatkan ganjaran sebagaimana firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p>ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p>“<em>Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.</em>” (QS. At Taubah [9]: 120).” -Demikianlah penjelasan Ibnu Rojab (dalam <em>Latho’if Al Ma’arif</em>, 1/168) yang mengungkap rahasia bagaimana puasa seseorang bisa mendapatkan ganjaran tak terhingga, yaitu karena di dalam puasa tersebut terdapat sikap sabar.-</p>
<p>Saudaraku, sekali lagi janganlah engkau sia-siakan puasamu. Janganlah sampai engkau hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu engkau lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amalan puasamu tersebut.</p>
<p>Isilah hari-harimu di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah engkau berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktumu di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.</p>
<p>Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p>Selesai disusun menjelang Ashar di Panggang, Gunung Kidul<br />
22 Sya’ban 1429 H [bertepatan dengan 24 Agustus 2008]<br />
Semoga Allah membalas amalan ini</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com/">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/764/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=764&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/janganlah-buat-puasamu-sia-sia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2977d031f370dd433131f8217589f564?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">أم محفة</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rayuan Setan Dalam Pacaran</title>
		<link>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/rayuan-setan-dalam-pacaran/</link>
		<comments>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/rayuan-setan-dalam-pacaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 14:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>أختي في الله</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[berdua-duaan]]></category>
		<category><![CDATA[godaan setan]]></category>
		<category><![CDATA[iblis]]></category>
		<category><![CDATA[lawan jenis]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran Islami]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>
		<category><![CDATA[SMS]]></category>
		<category><![CDATA[sms cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ukhtiyfillah.wordpress.com/?p=761</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca yang budiman, ketika seseorang beranjak dewasa, muncullah benih di dalam jiwa untuk mencintai lawan jenisnya. Ini merupakan fitrah (insting) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap perkara yang dinginkannya berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=761&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ukhtiyfillah.files.wordpress.com/2011/08/cinta.png"><img class="alignleft size-full wp-image-762" title="cinta" src="http://ukhtiyfillah.files.wordpress.com/2011/08/cinta.png?w=535" alt=""   /></a>Para pembaca yang budiman, ketika seseorang beranjak dewasa, muncullah benih di dalam jiwa untuk mencintai lawan jenisnya. Ini merupakan fitrah (<em>insting</em>) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Allah <em>ta’ala</em> berfirman yang artinya, “<em>Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap perkara yang dinginkannya berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenagan hidup di dunia. Dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.</em>” (QS. Ali Imran: 14)</p>
<p><strong>Adab Bergaul Antara Lawan Jenis</strong></p>
<p>Islam adalah agama yang sempurna, di dalamnya diatur seluk-beluk kehidupan manusia, bagaimana pergaulan antara lawan jenis. Di antara adab bergaul antara lawan jenis sebagaimana yang telah diajarkan oleh agama kita adalah:<span id="more-761"></span></p>
<p><strong>1. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis</strong></p>
<p>Allah berfirman yang artinya, “<em>Katakanlah kepada <strong>laki-laki beriman</strong>: Hendahlah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya</em>.” (QS. an-Nur: 30). Allah juga berfirman yang artinya,”<em>Dan katakalah kepada <strong>wanita beriman</strong>: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.”</em> (QS. an-Nur: 31)</p>
<p><strong>2. Tidak berdua-duaan</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.”</em> (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p><strong>3. Tidak menyentuh lawan jenis</strong></p>
<p>Di dalam sebuah hadits, Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata, “<em>Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).</em>” (HR. Bukhari). Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.</em>” (HR. Thabrani dengan sanad hasan)</p>
<p>Jika memandang saja terlarang, tentu bersentuhan lebih terlarang karena godaannya tentu jauh lebih besar.</p>
<p><strong>Salah Kaprah Dalam Bercinta</strong></p>
<p>Tatkala adab-adab bergaul antara lawan jenis mulai pudar, luapan cinta yang bergolak dalam hati manusia pun menjadi tidak terkontrol lagi. Akhirnya, setan berhasil menjerat para remaja dalam ikatan maut yang dikenal dengan “<em>pacaran</em>“. Allah telah mengharamkan berbagai aktifitas yang dapat mengantarkan ke dalam perzinaan. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya, “<em>Dan <strong>janganlah kamu mendekati zina</strong>, sesugguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”</em> (QS. al-Isra’: 32). Lalu pintu apakah yang paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran?!!</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan atau mendustakannya.”</em> (HR. Bukhari &amp; Muslim). Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka orang yang berpacaran adalah orang yang telah memiliki semua kuncinya. Kapan saja ia bisa masuk. Bukankah saat berpacaran ia tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang? Bukankah dengan pacaran ia sering melembut-lembutkan suara di hadapan pacarnya? Bukankah orang yang berpacaran senantiasa memikirkan dan membayangkan keadaan pacarnya? Maka farjinya pun akan segera mengikutinya. Akhirnya penyesalan tinggallah penyesalan. Waktu tidaklah bisa dirayu untuk bisa kembali sehingga dirinya menjadi sosok yang masih suci dan belum ternodai. Setan pun bergembira atas keberhasilan usahanya….</p>
<p><strong>Iblis, Sang Penyesat Ulung</strong></p>
<p>Tentunya akan sulit bagi Iblis dan bala tentaranya untuk menggelincirkan sebagian orang sampai terjatuh ke dalam jurang pacaran gaya <em>cipika-cipiki </em>atau yang semodel dengan itu. Akan tetapi yang perlu kita ingat, bahwasanya Iblis telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan semua manusia. Iblis berkata<em>, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya.</em>” (QS. Shaad: 82). Termasuk di antara alat yang digunakan Iblis untuk menyesatkan manusia adalah wanita. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,”<em>Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita</em>.” (HR. Bukhari &amp; Muslim). Kalaulah Iblis tidak berhasil merusak agama seseorang dengan menjerumuskan mereka ke dalam gaya pacaran <em>cipika-cipiki</em>, mungkin cukuplah bagi Iblis untuk bisa tertawa dengan membuat mereka berpacaran lewat telepon, SMS atau yang lainnya. Yang cukup menyedihkan, terkadang gaya pacaran seperti ini dibungkus dengan agama seperti dengan pura-pura bertanya tentang masalah agama kepada lawan jenisnya, <em>miss called</em> atau SMS pacarnya untuk bangun shalat tahajud dan lain-lain.</p>
<p><strong>Ringkasnya</strong> <em>sms-an</em> dengan lawan jenis, bukan saudara dan bukan karena kebutuhan mendesak adalah haramdengan beberapa alasan: (a) ini adalah semi berdua-duaan, (b) buang-buang pulsa, dan (c) ini adalah jalan menuju perkara yang haram. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ibnu Sutopo Yuono<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/761/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=761&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/rayuan-setan-dalam-pacaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2977d031f370dd433131f8217589f564?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">أم محفة</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ukhtiyfillah.files.wordpress.com/2011/08/cinta.png" medium="image">
			<media:title type="html">cinta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Mengucapkan “Sodaqollahul Adzim” Setelah Membaca Al Qur’an</title>
		<link>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/hukum-mengucapkan-%e2%80%9csodaqollahul-adzim%e2%80%9d-setelah-membaca-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/hukum-mengucapkan-%e2%80%9csodaqollahul-adzim%e2%80%9d-setelah-membaca-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 14:29:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>أختي في الله</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadist]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengucapkan Sodaqollahul Adzim]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengucapkan Sodaqollahul Adzim setelah membaca al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Sodaqollahul Adzim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ukhtiyfillah.wordpress.com/?p=759</guid>
		<description><![CDATA[bismillaah&#8230; Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai marja’ –rujukan- setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang mukmin. Allah berfirman, “Maka demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=759&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>bismillaah&#8230;</p>
<p>Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai marja’ –rujukan- setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang mukmin.</p>
<p>Allah berfirman, “<em>Maka demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya</em>.” (QS An Nisa : 65).</p>
<p>Telah mafhum bersama bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk suatu urusan yang sia-sia, tetapi untuk satu tujuan agung yang kemaslahatannya kembali kepada manusia yaitu agar beribadah kepadaNya. Kemudian tidak hanya itu saja, tetapi Allah juga mengutus rasulNya untuk menerangkan kepada manusia jalan yang lurus dan memberikan hidayah –dengan izin Allah- kepada sirotil azizil hamid. Allah berfirman, “<em>Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman</em>.” (QS An Nahl : 64).<span id="more-759"></span></p>
<p>Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman, “…<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu…</em>” (QS Al Maidah : 3). Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, “<em>Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia talah berdusta !” </em>(HR. Bukhori Muslim).</p>
<p>Berkata Al Imam As Syatibi, “<em>Tidaklah Nabi meninggal kecuali beliau telah menyampaikan seluruh apa yang dibutuhkan dari urusan dien dan dunia…</em>” Berkat Ibnu Majisyun, “<em>Aku telah mendengar Malik berkata, “Barang siapa yang membuat bid’ah (perkara baru dalam Islam), kemudian menganggapnya baik, maka sungguh dia telah mengira bahwa Muhammad telah menghianati risalah, karena Allah telah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan unutukmu agamamu…””</em>” (QS Al Maidah : 3).</p>
<p>Kaum muslimin –rahimakumullah-, sahabat Ibnu Mas’ud telah berkata, “<em>Ikutilah, dan jangan kalian membuat perkara baru</em> !”. Suatu peringatan tegas dimana kita tidak perlu untuk menambah–nambah sesuatu yang baru atau bahkan mengurangi sesuatu dalam hal agama. Banyak ide atau atau anggapan–anggapan baik dalam agama yang tidak ada contohnya bukanlah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan pahala, tetapi justru yang demikian itu berarti menganggap kurang atas syariat yang telah dibawa oleh rasulullah, dan bahkan yang demikian itu dianggap telah membuat syariat baru. Seperti perkataan Iman Syafi’i, ”Siapa yang membuat anggapan-anggapan baik dalam agama sungguh ia telah membuat syariat baru.”</p>
<p>Ucapan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin -sangat disayangkan-. Dari anak kecil sampai orang tua , pria atau wanita sudah biasa mengucapkan itu. Tak ketinggalan pula –sayangnya- para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga mengucapkannya bila selesai membaca satu atau dua ayat AlQuran. Ada apa memangnya dengan kalimat itu ?</p>
<p>Kaum muslimin –rahimakumullah-, mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah selasai membaca Al Quran baik satu ayat atau lebih adalah bid’ah, perhatikanlah keterangan- keterangan berikut ini.</p>
<p><strong>Pertama</strong></p>
<p>Dalam shahih Bukhori no. 4582 dan shahih Muslim no. 800, dari hadits Abdullah bin Mas’ud berkata, “Berkata Nabi kepadaku, “<em>Bacakanlah padaku</em>.” Aku berkata, “<em>Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?</em>” beliau menjawab, “<em>ya</em>”. Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS An Nisa : 41) beliau berkata, “<em>cukup</em>”. Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca.”</p>
<p>Sahabat Ibnu Mas’ud dalam hadits ini tidak menyatakan “<em>sodaqollahul adzim</em>” setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan “<em>sodaqollahul adzim”, beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas’ud “cukup</em>”.</p>
<p><strong>Kedua</strong></p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 6 dan Muslim no. 2308 dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata, “Adalah Rasulullah orang yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan, sampai saat Jibril menemuinya –Jibril selalu menemuinya tiap malam di Bulan Ramadhan- bertadarus Al Quran bersamanya”.</p>
<p>Tidak dinukil satu kata pun bahawa Jibril atau Nabi Muhammad ketika selesai qiroatul Quran mengucapkan “<em>sodaqollahul adzim</em>”.</p>
<p><strong>Ketiga</strong></p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no. 799 dari hadits Anas bin Malik –radiyallahu anhuma-, “Nabi berkata kepada Ubay, “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu “<em>lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab</em>” (“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)…”) (QS Al Bayyinah : 1). Ubay berkata , ”<em>menyebutku ?</em>” Nabi menjawab, “<em>ya</em>”, maka Ubay pun menangis”.</p>
<p>Nabi tidak mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca ayat itu.</p>
<p><strong>Keempat</strong></p>
<p>Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 4474 dari hadits Raafi’ bin Al Ma’la –radiyallahu anhuma- bahwa Nabi bersabda, “<em>Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum aku pergi ke masjid ?</em>” Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, “Alhamdulillah, ia (surat yang agung itu) adalah As Sab’ul Matsaani dan Al Quranul Adzim yang telah diberikan kepadaku.”</p>
<p>Beliau tidak mengatakan “sodaqollahul adzim”.</p>
<p><strong>Kelima</strong></p>
<p>Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no. 2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, “Ada satu surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi pemiliknya –yang membacanya/ mengahafalnya- hingga ia akan diampuni, “tabaarokalladzii biyadihil mulk” (“Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan…”) (QS Al Mulk : 1).</p>
<p>Nabi tidak mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya.</p>
<p><strong>Keenam</strong></p>
<p>Dalam Shahih Bukhori no. 4952 dan Muslim no. 494 dari hadits Baro’ bin ‘Ajib berkata, “Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan “attiini waz zaituun” , aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya”.</p>
<p>Dan beliau tidak mengatakan setelahnya “sodaqollahul adzim”.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong></p>
<p>Diriwatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. 873 dari hadits Ibnat Haritsah bin An Nu’man berkata, “<em>Aku tidak mengetahui/hafal “qaaf wal qur’aanil majiid” kecuali dari lisan rasulullah, beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat</em>”.</p>
<p>Tidak dinukil beliau mengucapkan setelahnya “sodaqollahul adzim” dan tidak dinukil pula ia (Ibnat Haritsah) saat membaca surat “qaaf” mengucapkan “sodaqollahul adzim”.</p>
<p>Jika kita mau menghitung surat dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabiin dari generasi terbaik umat ini, dan nukilan bahwa tak ada satu orangpun dari mereka yang mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya maka akan sangat banyak dan panjang. Namun cukuplah apa yang kami nukilkan dari mereka yang menunjukkan bahwa mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya adalah bid’ah –perkara yang baru- yang tidak pernah ada dan di dahului oleh genersi pertama.</p>
<p>Kaum muslimin –rahimakumullah-, satu hal lagi yang perlu dan penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan “<em>sodaqollahul adzim</em>” setelah qiroatul Quran adalah bid’ah, namun kita wajib meyakini dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh firmannya, Allah berfirman, “Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya daripada Allah”, dan Allah berfirman, “Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya dari pada Allah”. Barang siapa yang mendustakanya –firman Allah- maka ia kafir atau munafiq.</p>
<p>Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan Sunnah dan Istiqomah diatasnya. Wal ilmu indallah.</p>
<p>Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf, dari bulletin Al Wala wal Bara, Judul asli: Bid’ahkah ucapan “Shodaqallahul adzim” ?.</p>
<p>wallaahu a&#8217;laam bish shawwaab</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/759/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=759&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/hukum-mengucapkan-%e2%80%9csodaqollahul-adzim%e2%80%9d-setelah-membaca-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2977d031f370dd433131f8217589f564?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">أم محفة</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalawat-shalawat yg Tidak Diajarkan Rasulullaah</title>
		<link>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/shalawat-shalawat-yg-tidak-diajarkan-rasulullaah/</link>
		<comments>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/shalawat-shalawat-yg-tidak-diajarkan-rasulullaah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 14:19:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>أختي في الله</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadist]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat al-fatih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat al-in'am]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat badar]]></category>
		<category><![CDATA[Shalawat bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat nariyah]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat pembuka]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat sa'adah]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat sufi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ukhtiyfillah.wordpress.com/?p=756</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaahirrahmaanirrahiim Sudah bukan rahasia lagi kalau di tengah-tengah kaum muslimin, banyak tersebar berbagai jenis shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Shalawat-shalawat itu biasanya dibuat oleh pemimpin tarekat sufi tertentu yang dianggap baik oleh sebagian umat Islam kemudian disebarkan hingga diamalkan secara turun temurun. Padahal jika shalawat-shalawat semacam itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=756&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillaahirrahmaanirrahiim</p>
<p>Sudah bukan rahasia lagi kalau di tengah-tengah kaum muslimin, banyak tersebar berbagai jenis shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Shalawat-shalawat itu biasanya dibuat oleh pemimpin tarekat sufi tertentu yang dianggap baik oleh sebagian umat Islam kemudian disebarkan hingga diamalkan secara turun temurun. Padahal jika shalawat-shalawat semacam itu diperhatikan secara cermat, akan nampak berbagai penyimpangan berupa kesyirikan, bid’ah, ghuluw terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sebagainya. <span id="more-756"></span></p>
<p><strong>A. Shalawat Nariyah</strong></p>
<p>Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Bahkan ada yang menuliskan lafadznya di sebagian dinding masjid. Mereka berkeyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:</p>
<p>اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ</p>
<p>“<em>Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang engkau miliki</em>.”</p>
<p>Ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan kaitannya dengan shalawat ini:</p>
<p>1- Sesungguhnya aqidah tauhid yang diseru oleh Al Qur’anul Karim dan yang diajarkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu laiahi wasallam, mengharuskan setiap muslim untuk berkeyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang melepaskan ikatan (kesusahan), membebaskan dari kesulitan, yang menunaikan hajat, dan memberikan manusia apa yang mereka minta. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdo’a kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihannya atau menyembuhkan penyakitnya, walaupun yang diminta itu seorang malaikat yang dekat ataukah nabi yang diutus. Telah disebutkan dalam berbagai ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan haramnya meminta pertolongan, berdo’a, dan semacamnya dari berbagai jenis ibadah kepada selain Allah Azza wajalla. Firman Allah:</p>
<p>قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُوْنِهِ فَلاَ يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحِْويْلاً</p>
<p>“<em>Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah.</em></p>
<p><em>Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya</em>.” (Al-Isra: 56)</p>
<p>Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan segolongan kaum yang berdo’a kepada Al Masih ‘Isa, atau malaikat, ataukah sosok-sosok yang shalih dari kalangan jin. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)</p>
<p>2- Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rela dikatakan bahwa dirinya mampu melepaskan ikatan (kesulitan), menghilangkan kesusahan, dsb, sedangkan Al Qur’an menyuruh beliau untuk berkata:</p>
<p>قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ</p>
<p>“<em>Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.”</em> (Al-A’raf: 188)</p>
<p>Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu mengatakan, “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:</p>
<p>أَجَعَلْتَنِيْ للهِ نِدًّا؟ قُلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ</p>
<p>“<em>Apakah engkau hendak menjadikan bagi Allah sekutu? Ucapkanlah: Berdasarkan kehendak Allah semata</em>.” (HR. An-Nasai dengan sanad yang hasan)</p>
<p>(Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah 227-228, Muhammad Jamil Zainu)</p>
<p><strong>B. Shalawat Al-Fatih (Pembuka)</strong></p>
<p>Lafadznya adalah sebagai berikut:</p>
<p>اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أَغْلَقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ, نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمَسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارُهُ عَظِيْمٌ</p>
<p>“<em>Ya Allah berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka apa yang tertutup dan yang menutupi apa-apa yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Dan kepada keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung</em>.”</p>
<p>Berkata At-Tijani tentang shalawat ini –dan dia pendusta dengan perkataannya-:</p>
<p>“….Kemudian (Nabi shallallahu alaihi wasallam) memerintah aku untuk kembali kepada shalawat Al-Fatih ini. Maka ketika beliau memerintahkan aku dengan hal tersebut, akupun bertanya kepadanya tentang keutamaannya. Maka beliau mengabariku pertama kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai membaca Al Qur’an enam kali. Kemudian beliau mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan dari Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.”</p>
<p>Dan ini merupakan kekafiran yang nyata karena mengganggap perkataan manusia lebih afdhal daripada firman Allah Azza Wajalla. Sungguh merupakan suatu kebodohan apabila seorang yang berakal apalagi dia seorang muslim berkeyakinan seperti perkataan ahli bid’ah yang sangat bodoh ini. (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah 225 dan Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman)</p>
<p>Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:</p>
<p>خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ</p>
<p>“<em>Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya</em>.”</p>
<p>(HR. Bukhari dan Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib. Dan datang dari hadits’Utsman bin ‘Affan riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)</p>
<p>Dan juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:</p>
<p>مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ : { ألم } حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim itu satu huruf</em>.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)</p>
<p><strong>C. Shalawat yang disebutkan salah seorang sufi dari Libanon</strong> dalam kitabnya yang membahas tentang keutamaan shalawat, lafadznya sebagai berikut:</p>
<p>اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ اْلأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ</p>
<p>“<em>Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”</em></p>
<p>Padahal sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah, keduanya termasuk sifat-sifat Allah Azza wajalla. Maka, bagaimana mungkin kedua sifat Allah ini diberikan kepada salah seorang dari makhluk-Nya padahal Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ</p>
<p>“<em>Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat</em>.” (Asy-Syura: 11)</p>
<p><strong>D. Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)</strong></p>
<p>Lafadznya sebagai berikut:</p>
<p>اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ</p>
<p>“<em>Ya Allah, berikanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah</em>.”</p>
<p>Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)</p>
<p>Cukuplah keutamaan palsu yang disebutkannya, yang menunjukkan kedustaan dan kebatilan shalawat ini.</p>
<p><strong>E. Shalawat Al-In’am</strong></p>
<p>Lafadznya sebagai berikut:</p>
<p>اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ عَدَدَ إِنْعَامِ اللهِ وَإِفْضَالِهِ</p>
<p>“<em>Ya Allah berikanlah shalawat, salam dan berkah kepada baginda kami Muhammad dan kepada keluarganya, sejumlah kenikmatan Allah dan keutamaan-Nya</em>.”</p>
<p>Berkata An-Nabhani menukil dari Syaikh Ahmad Ash-Shawi:</p>
<p><em>“Ini adalah shalawat Al-In’am. Dan ini termasuk pintu-pintu kenikmatan dunia dan akhirat, dan pahalanya tidak terhitung</em>.” (Mahabbatur Rasul 288)</p>
<p><strong>F. Shalawat Badar</strong></p>
<p>Lafadz shalawat ini sebagai berikut:</p>
<p><em>shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah</em></p>
<p><em>shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah</em></p>
<p><em>tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah</em></p>
<p><em>wa kulli majahid fillah</em></p>
<p><em>bi ahlil badri ya Allah</em></p>
<p><em>Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah</em></p>
<p><em>Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah</em></p>
<p><em>Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah</em></p>
<p><em>Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah</em></p>
<p>Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:</p>
<p>1. Penyebutan Nabi dengan habibillah</p>
<p>2. Bertawassul dengan Nabi</p>
<p>3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr</p>
<p>Point pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.</p>
<p>Pada point kedua, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah Idan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernah mengerjakan). Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.</p>
<p>Adapun point ketiga, tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan. Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ</p>
<p>“<em>Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu</em>.” (Al-A’raf: 180)</p>
<p>Demikian pula di antara doa Nabi: “<em>Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.</em>” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 199)</p>
<p>Bertawassul dengan nama Allah seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih dan dengan doa orang shalih yang masih hidup (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya). Selain itu yang tidak berdasarkan dalil, termasuk tawassul terlarang.</p>
<p>Jenis-jenis shalawat di atas banyak dijumpai di kalangan sufiyah. Bahkan dijadikan sebagai materi yang dilombakan di antara para tarekat sufi. Karena setiap tarekat mengklaim bahwa mereka memiliki do’a, dzikir, dan shalawat-shalawat yang menurut mereka mempunyai sekian pahala. Atau mempunyai keutamaan bagi yang membacanya yang akan menjadikan mereka dengan cepat kepada derajat para wali yang shaleh. Atau menyatakan bahwa termasuk keutamaan wirid ini karena syaikh tarekatnya telah mengambilnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara langsung dalam keadaan sadar atau mimpi. Di mana, katanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjanjikan bagi yang membacanya kedekatan dari beliau, masuk jannah (surga) ,dan yang lainnya dari sekian propaganda yang tidak bernilai sedikitpun dalam timbangan syariat. Sebab, syariat ini tidaklah diambil dari mimpi-mimpi. Dan karena Rasul tidak memerintahkan kita dengan perkara-perkara tersebut sewaktu beliau masih hidup.</p>
<p>Jika sekiranya ada kebaikan untuk kita, niscaya beliau telah menganjurkannya kepada kita. Apalagi apabila model shalawat tersebut sangat bertentangan dengan apa yang beliau bawa, yakni menyimpang dari agama dan sunnahnya. Dan yang semakin menunjukkan kebatilannya, dengan adanya wirid-wirid bid’ah ini menyebabkan terhalangnya mayoritas kaum muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang justru disyari’atkan yang telah Allah jadikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh keridhaannya.</p>
<p>Berapa banyak orang yang berpaling dari Al Qur’an dan mentadabburinya disebabkan tenggelam dan ‘asyik’ dengan wirid bid’ah ini? Dan berapa banyak dari mereka yang sudah tidak peduli lagi untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena tergiur dengan pahala ‘instant’ yang berlipat ganda. Berapa banyak yang lebih mengutamakan majelis-majelis dzikir bid’ah semacam buatan Arifin Ilham daripada halaqah yang di dalamnya membahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Laa haula walaa quwwata illaa billah.</p>
<p>Dikutip dari http://<a href="http://www.asysyariah.com" target="_blank">www.asysyariah.com</a>, Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi, Judul asli: Shalawat-Shalawat Bid’ah</p>
<p>wallaahu a&#8217;laam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/756/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=756&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/11/shalawat-shalawat-yg-tidak-diajarkan-rasulullaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2977d031f370dd433131f8217589f564?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">أم محفة</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadits Palsu: Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman</title>
		<link>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/10/hadits-palsu-cinta-tanah-air-adalah-sebagian-dari-iman/</link>
		<comments>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/10/hadits-palsu-cinta-tanah-air-adalah-sebagian-dari-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 03:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>أختي في الله</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadist]]></category>
		<category><![CDATA[hadist cinta tanah air]]></category>
		<category><![CDATA[hadist cinta tanah air palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Hadist Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[kritik hadist]]></category>
		<category><![CDATA[kritik hadist palsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ukhtiyfillah.wordpress.com/?p=753</guid>
		<description><![CDATA[A. PENGANTAR Pada tanggal 17 Agustus, biasanya hadits ini seringkali muncul dalam upacara-upacara untuk menumbuhkan semangat patriotisme dan menyuburkan rasa kebangsaan. Sehingga hadits ini begitu populer sekali di masyarakat, dihafal bahkan dianggap sebagai suatu hadits yang diucapkan oleh Nabi Muhammad. Namun permasalahannya adalah: Benarkah ungkapan tersebut termasuk hadits yang diucapkan oleh Nabi Muhammad? Bagaimana dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=753&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. PENGANTAR</strong></p>
<p>Pada tanggal 17 Agustus, biasanya hadits ini seringkali muncul dalam upacara-upacara untuk menumbuhkan semangat patriotisme dan menyuburkan rasa kebangsaan. Sehingga hadits ini begitu populer sekali di masyarakat, dihafal bahkan dianggap sebagai suatu hadits yang diucapkan oleh Nabi Muhammad.<br />
Namun permasalahannya adalah:</p>
<blockquote>
<ul>
<li>Benarkah ungkapan tersebut termasuk hadits yang diucapkan oleh Nabi Muhammad?</li>
<li>Bagaimana dengan substansi makna kandungannya?!</li>
</ul>
</blockquote>
<p>Kajian berikut akan mencoba untuk mencari jawabannya.</p>
<p><em>Wallahul Muwaffiq.</em> <span id="more-753"></span></p>
<p>.</p>
<p><strong>B. TEKS HADITS</strong></p>
<blockquote><p><strong>حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ<br />
Cinta tanah air termasuk iman.</strong></p></blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Derajat Hadits dan Komentar Ulama:</p>
<p><strong>TIDAK ADA ASALNYA</strong>. Berikut ucapan para ulama pakar ahli hadits:</p>
<ol>
<li>As-Shoghoni berkata: “Termasuk hadits-hadits yang palsu”.</li>
<li>As-Suyuthi berkata: “Saya tidak mendapatinya”.</li>
<li>As-Sakhowi berkata: “Saya tidak mendapatinya”.</li>
<li>Al-Ghozzi berkata: “Ini bukan hadits”.</li>
<li>Az-Zarkasyi: “Saya belum mendapatinya”.</li>
<li>Sayyid Mu’inuddin ash-Shofwi berkata: “Ini bukan hadits”.</li>
<li>Mula al-Qori berkata: “Tidak ada asalnya menurut para pakar ahli hadits”.</li>
<li>Al-Albani berkata: “Maudhu’ (palsu)”.</li>
<li>Lajnah Daimah yang diketahui oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Ucapan ini bukan hadits nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ia hanyalah ucapan yang beredar di lisan manusia lalu dianggap sebagai hadits.</li>
</ol>
<p>.</p>
<p><strong>C. MATAN HADITS</strong></p>
<p><strong>Syaikh al-Albani</strong> berkata:</p>
<p>“Dan maknanya tidak benar. Sebab cinta negeri sama halnya cinta jiwa dan harta; seseorang tidak terpuji dengan sebab mencintainya lantaran itu sudah tabiat manusia. Bukankah anda melihat bahwa seluruh manusia berperan serta dalam kecintaan ini, baik dia kafir maupun mukmin?!<br />
Allah berfirman:</p>
<p>وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِاخْرُجُوا مِن دِيَارِكُم مَّافَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلُُ مِّنْهُمْ<br />
Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:”Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka.</p>
<blockquote><p>(QS. An-Nisa’: 66)</p></blockquote>
<ul>
<li>Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir juga mencintai tanah air mereka. Musuh-musuh Islam telah menjadikan hadits palsu ini untuk menghilangkan syi’ar agama dalam masyarakat dan menggantinya dengan syi’ar kebangsaan, padahal aqidah seorang mukmin lebih berharga baginya dari segala apapun”.</li>
</ul>
<ul>
<li>Berlebih-lebihan terhadap tanah air bisa sampai kepada derajat memberhalakannya.</li>
<li>Dan terkadang Syetan menggambarkan kepada sebagian mereka bahwa tanah air lebih baik daripada surga ‘Adn, sebagaimana seorang di antara mereka mengatakan:</li>
</ul>
<blockquote><p>هَبْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الْيَمَنْ<br />
لاَ شَيْئَ يَعْدِلُ الْوَطَنْ<br />
Anggaplah bahwa surga yang kekal adalah Yaman<br />
Tidak ada sesuatupun yang melebihi tanah air.</p></blockquote>
<p>Seorang lainnya mengatakan:</p>
<blockquote><p>وَطَنِيْ لَوْ شُغِلْتُ بِالْخُلْدِ عَنْهُ<br />
نَازَعَتْنِيْ إِلَيْهِ فِي الْخُلْدِ نَفْسِيْ<br />
Tanah airku, seandainya aku disibukkan oleh surga darinya<br />
Niscaya jiwaku akan menggugatku di surga menuju tanah airku.</p></blockquote>
<p>.</p>
<p><strong>D. SEBAB TERSEBARNYA HADITS</strong></p>
<ul>
<li><strong>Al-Hafizh asy-Syaukani</strong> berkata menjelaskan sebab menyebarnya hadits-hadits palsu seperti ini:</li>
</ul>
<blockquote>
<ul>
<li>“Para ahli sejarah telah meremehkan dalam mengutarakan hadits-hadits bathil seputar keutamaan negeri, lebih-lebih negeri mereka sendiri. Mereka sangat meremehkan sekali, sampai-sampai menyebutkan hadits palsu dan tidak memperingatkannya, sebagaimana dilakukan oleh <strong>Ibnu Dabi’</strong> dalam Tarikhnya yang berjudul “<em><strong>Qurrotul Uyun bi Akhbaril Yaman Al-Maimun</strong></em>” dan kitab lainnya yang berjudul “<strong><em>Bughyatul Mustafid bi Akhbar Madinah Zabid</em></strong>” padahal beliau termasuk ahli hadits.</li>
</ul>
<ul>
<li>Maka hendaknya seorang mewaspadai dari keyakinan ini atau meriwayatkannya, karena kedustaan dalam masalah ini sudah menyebar dan melampui batas. Semua itu sebabnya adalah fithrah manusia untuk cintah tanah air dan kampung halamannya”.</li>
</ul>
</blockquote>
<p>.<strong><br />
</strong></p>
<p><strong>E. APAKAH CINTA NEGERI TERLARANG?</strong><br />
<strong>Al-Ustadz A. Hassan</strong> –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Tidak ada undang-undang manusia yang tidak terdapat di hukum-hukum agama, larangan atas seorang mencintai bangsanya dan tanah airnya malah tidak terlarang, dia cinta kepada kerbau dan spinya, kambing dan anjingnya, kelinci dan kucingnya, ayam dan bebeknya.<br />
Sekali lagi, agama tidak menghalangi seseorang mencintai segala sesuatu hatta tanah dan pasir di negeri satrunya.<br />
Cuma, janganlah dibawa-bawa agama dalam urusan yang agama tidak jadikan urusan. Jangan dibawa-bawa kalimat:</p>
<p>حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ<br />
Cinta tanah air termasuk iman.</p>
<p>Ini dikatakan hadits Nabi, padahal bukan.</p>
<ul>
<li>Kalau orang cinta tanah air membawakan hadits palsu itu, maka orang cinta kucing akan membawakan hadits palsu lain:</li>
</ul>
<p>حُبُّ الْهِرَّةِ مِنَ الإِيْمَانِ<br />
Cinta kucing itu sebagian dari iman.</p>
<p>.</p>
<p><strong>F. HENDAKNYA UNTUK ISLAM BUKAN SEKADAR KEBANGSAAN</strong></p>
<p><strong>Syaikh Muhammad al-Utsaimin</strong> berkata: “Kita apabila <strong>perang</strong> hanya untuk <strong>membela Negara</strong>tidak ada bedanya dengan <strong>orang kafir</strong> yang juga perang untuk membela Negara mereka.</p>
<p>Seorang yang perang hanya untuk membela negeri saja maka dia <strong>bukanlah syahid</strong>, namun kewajiban kita sebagai muslim dan tinggal di negeri Islam adalah untuk <strong>perang karena Islam</strong> yang ada di negeri kita. Perhatikanlah baik-baik perbedaan ini, kita berperang karena Islam yang ada di negeri kita. Adapun sekadar karena negeri saja maka ini adalah <strong>niat bathil</strong>yang tidak berfaedah bagi seorang. Adapun ungkapan yang dianggap hadits “Cinta negeri termasuk keimanan” maka ini adalah dusta.</p>
<p>Cinta Negara, apabila karena Negara tersebut adalah Negara Islam maka kita mencintainya karena Islamnya, tidak ada bedanya apakah Negara kelahiran kita ataukan Negara Islam yang jauh, maka wajib bagi kita untuk membelanya karena Negara Islam.<br />
Kesimpulannya, seharusnya kita mengetahui bahwa niat yang benar tatkala perang adalah untuk membela Islam di negeri kita atau membela Negara kita karena Negara Islam, bukan hanya karena sekedar Negara saja”.<br />
<strong>Al-Ustadz A. Hassan</strong> mengatakan: “Dalam mencintai tanah air secara kebangsaan itu ada beberapa kesalahannya yang besar bagi orang yang beragama Islam:</p>
<ul>
<li>Pertama: yang sebesar-besarnya, ialah menjalankan hukum-hukum yang bukan dari Allah dan RasulNya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kedua: dengan terpaksa, karena pembawaan kebangsaan, memandang muslim di negerinya yang bukan sebangsa dan setanah air dengannya sebagai orang asing, padahal sebenarnya ia mesti pandang seperti saudara.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ketiga: Memutuskan perhubungan antara lain-lain negeri Islam dengan alasan mereka bukan sebangsa dan setanah air, walaupun Allah dan Rasul telah katakana mereka saudara yang mesti bersatu.</li>
</ul>
<p>Dari sini, dapat kita ketahui <strong>KESALAHAN</strong> ucapan sebagian tokoh tatkala <strong>mengatakan</strong>:</p>
<blockquote><p>“Kita tidak memerangi Yahudi karena masalah aqidah!!</p>
<p>“Kita memerangi mereka karena tanah!! Kita tidak memerangi karena mereka kafir!!”</p>
<p>“Tetapi kita memerangi karena mereka merampas tanah kita tanpa alasan yang benar!!!”.</p></blockquote>
<p>sumber : <a href="http://abiubaidah.com/hadits-palsu-cinta-tanah-air.html/">http://abiubaidah.com/hadits-palsu-cinta-tanah-air.html/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/753/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=753&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/10/hadits-palsu-cinta-tanah-air-adalah-sebagian-dari-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2977d031f370dd433131f8217589f564?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">أم محفة</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pujian dalam hujatan</title>
		<link>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/10/pujian-dalam-hujatan/</link>
		<comments>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/10/pujian-dalam-hujatan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 03:20:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>أختي في الله</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[wahaby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ukhtiyfillah.wordpress.com/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[oleh Abu Filzah Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai AlQuran &#38; Sunnah dengan faham As Salafush Shaleh, Akupun dipanggil Wahabi Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala tidak kepada Nabi &#38; Wali .… Akupun dituduh Wahabi Ketika aku meyakini Alquran itu kalam Ilahi, bukan makhluq …. Akupun diklaim sebagai Wahabi Ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=750&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;">oleh Abu Filzah</span></h2>
</div>
<div>
<div>
<p>Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai AlQuran &amp; Sunnah dengan faham As Salafush Shaleh, Akupun dipanggil Wahabi<br />
Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala tidak kepada Nabi &amp; Wali .… Akupun dituduh Wahabi</p>
<p>Ketika aku meyakini Alquran itu kalam Ilahi, bukan makhluq …. Akupun diklaim sebagai Wahabi<br />
Ketika aku takut mengkafirkan dan memberontak penguasa yang dzalim, Akupun dipasangi platform Wahabi</p>
<p>Ketika aku tidak lagi shalat, ngaji serta ngais berkah di makam-makam keramat… Akupun dijuluki Wahabi<br />
Ketika aku putuskan keluar dari tarekat sekte sufi yang berani menjaminku masuk surga… Akupun diembel-embeli Wahabi</p>
<p>Ketika aku katakan tahlilan dilarang oleh Imam Syafi’i<br />
Akupun dihujat sebagai Wahabi<br />
Ketika aku tinggalkan maulidan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ajarkan … Akupun dikirimi “berkat”  Wahabi</p>
<p>Ketika aku takut mengatakan bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala itu dimana-mana sampai ditubuh babipun ada…  Akupun dibubuhi stempel Wahabi<br />
Ketika aku mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan jenggot, memotong celana diatas dua mata kaki, …,…., Akupun dilontari kecaman Wahabi</p>
<p>Ketika aku tanya apa itu Wahabi…?<br />
Merekapun gelengkan kepala tanda tak ngerti<br />
Ketika ku tanya siapa itu wahabi…?<br />
merekapun tidak tahu dengan apa harus menimpali</p>
<p>Tapi…!<br />
Apabila Wahabi mengajakku beribadah sesuai dengan AlQuran dan Sunnah… Maka aku rela mendapat gelar  Wahabi !<br />
Apabila Wahabi mengajakku hanya menyembah dan memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala … Maka aku Pe–De memakai mahkota Wahabi !</p>
<p>Apabila Wahabi menuntunku menjauhi syirik, khurafat dan bid’ah… Maka aku bangga menyandang baju kebesaran Wahabi !<br />
Apabila Wahabi mengajakku taat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam … Maka akulah pahlawan Wahabi !</p>
<p>Ada yang bilang.…. Kalau pengikut setia Ahmad shallallahu ‘alaihi wa sallam digelari Wahabi, maka aku mengaku sebagai Wahabi.<br />
Ada yang bilang….. Jangan sedih wahai “Pejuang Tauhid”, sebenarnya musuhmu sedang memujimu, Pujian dalam hujatan….!</p>
<p>Oleh: Ahmad Zainuddin</p>
<p><a href="http://salafitobat.wordpress.com/www.firanda.com">www.firanda.com</a></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ukhtiyfillah.wordpress.com/750/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ukhtiyfillah.wordpress.com&amp;blog=8503692&amp;post=750&amp;subd=ukhtiyfillah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukhtiyfillah.wordpress.com/2011/08/10/pujian-dalam-hujatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2977d031f370dd433131f8217589f564?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">أم محفة</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
